Namanya Akung, panggil saja begitu karena ia sendiri sudah jarang menggunakan nama pemberian orangtuanya saat harus memperkenalkan dirinya. Tingginya sedang untuk ukuran orang Indonesia dengan tubuh yang mulai bergelambir karena tidak doyan olahraga. Perut buncit dan wajah yang menampakan dua kutub kontras selalu, happy or not happy. Kalo lagi happy wajahnya akan terlihat berseri seri sehingga kedua gigi serinya yang paling depan akan sering terlihat saat ia tersenyum. Pipinya yang mulai bergelayut menutup dagunya yang agak tirus. Rambutnya ikal tapi selalu dipotong pendek sehingga sekilas seperti berambut lurus. Yang paling menyebalkan saat Akung senenwen. Bisa karena ada masalah dirinya atau karena orang di sekitarnya. Wajahnya tiba-tiba terlihat lebih tua 20 tahun dari sebelumnya. Acak-acakan seperti habis kena tamparan angin puyuh kecepatan 60 km/jam. Hebatnya orang seperti akung punya jeda antara sedih dan happy berlangsung singkat, cepat sewot tapi cepet sweet lagi. Mungkin sengaja diciptakan demikian supaya dunia semarak. Lagian kalo tidak ada akung, rasanya seperti tahu goreng tanpa cabe rawit, seperti taman lawang tanpa waria atau seperti bogor tanpa angkot.
Akung adalah lucu. Tiada kelucuan yang paling menghebohkan selain akung yang memproduksinya. Lihat saja gaya dia mengolok olok Lia, Ade atau cewek lainnya ( akung paling demen deket wanita, yang berbobot lebih dan ketawa ngakak…). Dia paling suka memuja dan menghina wanita yang saat itu berada di dekatnya (apalagi yang menolak cintanya…..dihinaaaa habis). Anehnya tak ada satupun yang terluka dengan segala kata-katanya. Ah, pokokna mah gelo pisan si akung mah……
Waktu itu KACENJUS memutuskan berlibur ke Pangandaran. Targetnya adalah pantai Pangandaran dengan modal pas-pasan (hihihi….bomboooooom, u know kan siapa trouble maker soal finansial likuiditi….). Pokoknya kami udah persiapan beberapa minggu sebelumnya. Kami putuskan untuk bawa tenda dan perlengkapan memasak karena ingin mencoba hidup gaya para Mapala (Mahasiswa Pecinta Alamak!). Akung bawa tas Carrier merah besar, bombom, Kumis, soni dan aku juga demikian. Dandanan kami udah seperti para pendaki himalaya. Kami bagi bagi bawaan seperti panci, jeriken, lampu, alat makan…pokoknya siap hidup dengan cara pecinta alam. Aku jadi ingat saat siap berangkat dari rumah Teh Lilis, ada kejadian singkat tapi layak dikenang. Si Kumis menghilang. Cari dicari, eh ternyata dia keluar dari kamar mandi dengan wajah yang susah dikenali. Kumis tebalnya ternyata di kikis habis! Hahahah….we all ketawa karena namanya orang yang seumur umur hidup dengan kumis yang tebal menempel di muka tiba-tiba plontos………. jadi seperti melihat bibir kelinci (hampura Mis, untuk kesekian kalinya)
Leuwiliang – Bogor kami tempuh satu jam menggunakan angkot. Turun dari angkot ke terminal, pertimbangan selanjutnya adalah truk atau bis. Ternyata karena duit masih banyak (heheheh…banyak apa bonyok?) kami putuskan naik bis yang langsung menuju ke Bandung. Sepanjang perjalanan tentu saja isinya Cuma canda dan tawa, mulai dari ngomongin diri sendiri, geng, sampai dengki terhadap sesama penumpang sampai akhirnya tiba di Bandung. Dari Bandung perburuan truk dimulai. Jarak Bandung Pangandaran masih jauh karena harus melewati Ciamis, Banjar barulah Pangandaran. Rasanya sumringah ketika berhasil menemukan truk yang bersedia mengangkut kami. Tapi ternyata nebengnya tak bisa lama karena arah truk berbeda dengan tujuan kami. Setelah menunggu beberapa jam akhirnya kami berhasil nyegat pick up putih yang dikendarai seorang bapak-bapak. Nah, si bokap ini minta satu orang duduk di depan. Tanpa dikomando si bombom yang selalu sok palingmanja (selain aku tentunya) nyelonong masuk dan duduk di sebelah sopir. Kami sempet menghujat kelakuannya karena nggak kompromi dulu dengan personil lain. Sebagai sesama paling manja tentu saja aku paling dongkol dengan kelakuannya. Perjalanan diteruskan dan kami mulai limbung karena ternyata jalan berkelok-kelok. Perjalanan makin parah karena hari hujan. Sial, kami yg duduk di belakang bak terbuka basah kuyup sementara si bombom tanpa dosa Cuma cengar cengir sambil sesekali menatap kami di belakang ( aih, bombom…dipaehan sia ku aing, tangkirak teh kabina-bina). Saat hujan berhenti tiba tiba si sopir menghentikan dan meminggirkan kendaraannya di depan sebuah restoran. Kami harap-harap cemas karena berprasangka baik jangan-jangan si bapak ngajak kami yang sungguh kelaparan (terus) untuk makan. Begitu turun si bapak dengan ramahnya pamit untuk makan dan mempersilahkan kami turun dan meneruskan perjalanan dengan kendaraan lain ( ih,si bokap itu sadis, nggak ada rasa sayangnya sama anak-anak remaja seperti kita yang udah pasang wajah nelangsa minta diisikan perutnya……apakah bapak tidak memiliki putera seusia kami?).
Aku agak lupa dengan menggunakan apa akhirnya kami tiba di Ciamis, kota yang menurutku saat itu sangat bersih dan mungil. Kami sempatkan sholat di mesjid Raya Ciamis sambil istirahat makan, ngopi dan tentu saja merokok. Kami mengira Pangandaran sudah dekat dan bertanya kepada warga yang kami temui di depan mesjid. Aku dan yang lain (kecuali Soni si dewasa dan kebapakan) langsung lemes begitu mendengar jarak masih seratus sekian kilometer lagi. Ugh, bener-bener perjalanan paling jauh pertama buat KacenJus yang jagoan kandang. Kami lanjutkan sisa (hah? Sisa? Masih jauuuh…..) perjalanan naik truk menuju Banjar. Aku dan bombom (dua ekor paling manja dan cengeng dan egois) teler berat selama perjalanan, jalanan berliku dan kecepatan truk yang dikendarai dengan gaya sopir kampung membuatku makin mual. OOOOOOOgh….mulutku mengeluarkan cairan bening dengan tenggorokan seperti menahan makanan yang mengganjal dan ingin keluar. Aku ambruk terlentang tapi rasanya dengan posisi begitu isi kepalaku diaduk aduk . Tiba-tiba akung mengeluarkan obat dewa. Ya, aku selalu mengenangnya sebagai kehebatan akung dan kadondong sebagai obat paling mujarab untuk mengusir mual dan mabok kendaraan. Kadondong. Buah kadondong muda yang sempat dibeli akung di ciamis menjadi obat pain killer kami(diantara anggota geng akung memang penuh keibuan karena suka bela beli persediaan remen temeh kayak ibu2….). Rasa buah kadondong yang masam tak terkira mampu membunuh rasa mual dan sesuatu yang terasa mengganjal di tenggorokanku sirna (aku bahkan berliur setiap mengenang kadondong itu menelusuri lidah dan tenggorokanku).
Hari sudah gelap ketika kami tiba di Banjar. Kami putuskan naik kendaraan angkot berupa mini bis yang duduknya berhimpitan karena kelebihan muatan. Tak apa, yang kami pikirkan Cuma untuk segera sampai di pantai pangandaran.
Akhirnya kami dengar si kernet mulai teriak teriak…pangandaran nyampek..dek…, ah…..nyampe coy…hilang sudah penat dan mual kami. kami segera menelusuri daerah pantai untuk mencari lokasi tepat mendirikan tenda. Aku sempet melihat banyak cottage dan hostel sederhana sepanjang jalan menuju pantai. Rupanya siang tadi hari hujan sehingga pasir basah dan udara menjadi dingin. Aku dan bombom mulai berfikir lain (ah, emang aku aja ama si bombom yang teteup manja dan nggak suka nyiksa awak…).
Kita cari losmen saja……usulku setengah maksa ketika lewat tengah malam tapi kami kelelahan. Bombom setuju diikuti anggukan soni. Kumis dan akung tidak kami mintai pendapat karena mereka selalu siap dengan kondisi medan apapun ( aing mah heran dan salut ka dua mahluk eta). Losmen adem ayem namanya (gila..! its been 20 years ago and i even still remember that losmen name!), lokasinya hampir di bibir pantai dan saat itu pengunjung cukup ramai. Malah karena waktu itu negeri Indonesia kita tercinta ini masih adem ayem loh jinawi kami melihat banyak orang bule yang berkunjung ke Pangandaran. Kami menempati satu kamar di lantai 2 (sekamar 5 orang di loteng…..mampuuus!). kamar mandinya diluar tapi lumayan bersih untuk aku yang rewel soal wc ( sorry …kung, aing mah hese modol lamun teu ngeunaheun …). mulailah segala keributan dan hiruk pikuk. Acaranya…..makan……nyebur ke laut…….makan, tidur………nyebur lagi,makan lagi,tidur lagi (ya ampun….sholat libur …!).-to be continued-