episode pangandaran

Namanya Akung, panggil saja begitu karena ia sendiri sudah jarang menggunakan nama pemberian orangtuanya saat harus memperkenalkan dirinya. Tingginya sedang untuk ukuran orang Indonesia dengan tubuh yang mulai bergelambir karena tidak doyan olahraga. Perut buncit dan wajah yang menampakan dua kutub kontras selalu, happy or not happy. Kalo lagi happy wajahnya akan terlihat berseri seri sehingga kedua gigi serinya yang paling depan akan sering terlihat saat ia tersenyum. Pipinya yang mulai bergelayut menutup dagunya yang agak tirus. Rambutnya ikal tapi selalu dipotong pendek sehingga sekilas seperti berambut lurus. Yang paling menyebalkan saat Akung senenwen. Bisa karena ada masalah dirinya atau karena orang di sekitarnya. Wajahnya tiba-tiba terlihat lebih tua 20 tahun dari sebelumnya. Acak-acakan seperti habis kena tamparan angin puyuh kecepatan 60 km/jam.  Hebatnya orang seperti akung punya jeda antara sedih dan happy berlangsung singkat, cepat sewot tapi cepet sweet lagi. Mungkin sengaja diciptakan demikian supaya dunia semarak. Lagian kalo tidak ada akung, rasanya seperti tahu goreng tanpa cabe rawit, seperti taman lawang tanpa waria atau seperti bogor tanpa angkot.

 

Akung adalah lucu. Tiada kelucuan yang paling menghebohkan selain akung yang memproduksinya. Lihat saja gaya dia mengolok olok Lia, Ade atau cewek lainnya ( akung paling demen deket wanita, yang berbobot lebih dan ketawa ngakak…). Dia paling suka memuja dan menghina wanita yang saat itu berada di dekatnya (apalagi yang menolak cintanya…..dihinaaaa habis). Anehnya tak ada satupun yang terluka dengan segala kata-katanya. Ah, pokokna mah gelo pisan si akung mah……

 

Waktu itu KACENJUS memutuskan berlibur ke Pangandaran. Targetnya adalah pantai Pangandaran dengan modal pas-pasan (hihihi….bomboooooom, u know kan siapa trouble maker soal finansial likuiditi….). Pokoknya kami udah persiapan beberapa minggu sebelumnya. Kami putuskan untuk bawa tenda dan perlengkapan memasak karena ingin mencoba hidup gaya para Mapala (Mahasiswa Pecinta Alamak!). Akung bawa tas Carrier merah besar, bombom, Kumis, soni dan aku juga demikian. Dandanan kami udah seperti para pendaki himalaya.  Kami bagi bagi bawaan seperti panci, jeriken, lampu, alat makan…pokoknya siap hidup dengan cara pecinta alam. Aku jadi ingat saat siap berangkat dari rumah Teh Lilis, ada kejadian singkat tapi layak dikenang. Si Kumis menghilang.  Cari dicari, eh ternyata dia keluar dari kamar mandi dengan wajah yang susah dikenali. Kumis tebalnya ternyata di kikis habis! Hahahah….we all ketawa karena namanya orang yang seumur umur hidup dengan kumis yang tebal menempel di muka tiba-tiba plontos……….  jadi seperti melihat bibir kelinci (hampura Mis, untuk kesekian kalinya)

Leuwiliang – Bogor kami tempuh satu jam menggunakan angkot. Turun dari angkot ke terminal, pertimbangan selanjutnya adalah truk atau bis. Ternyata karena duit masih banyak (heheheh…banyak apa bonyok?) kami putuskan naik bis  yang langsung menuju ke Bandung. Sepanjang perjalanan tentu saja isinya Cuma canda dan tawa, mulai dari ngomongin diri sendiri, geng, sampai dengki terhadap sesama penumpang sampai akhirnya tiba di Bandung. Dari Bandung perburuan truk dimulai. Jarak Bandung Pangandaran masih jauh karena harus melewati Ciamis, Banjar barulah Pangandaran. Rasanya sumringah ketika berhasil menemukan truk yang bersedia mengangkut kami. Tapi ternyata nebengnya tak bisa lama karena arah truk berbeda dengan tujuan kami. Setelah menunggu beberapa jam akhirnya kami berhasil nyegat pick up putih yang dikendarai seorang bapak-bapak. Nah, si bokap ini minta satu orang duduk di depan. Tanpa dikomando si bombom yang selalu sok palingmanja (selain aku tentunya) nyelonong masuk dan duduk di sebelah sopir. Kami sempet menghujat kelakuannya karena nggak kompromi dulu dengan personil lain. Sebagai sesama paling manja tentu saja aku paling dongkol dengan kelakuannya. Perjalanan diteruskan dan kami mulai limbung karena ternyata jalan berkelok-kelok. Perjalanan makin parah karena hari hujan. Sial, kami yg duduk di belakang bak terbuka basah kuyup sementara si bombom tanpa dosa Cuma cengar cengir sambil sesekali menatap kami di belakang ( aih, bombom…dipaehan sia ku aing, tangkirak teh kabina-bina). Saat hujan berhenti tiba tiba si sopir menghentikan dan meminggirkan kendaraannya di depan sebuah restoran. Kami harap-harap cemas karena berprasangka baik  jangan-jangan si bapak ngajak kami yang sungguh kelaparan (terus) untuk makan. Begitu turun si bapak dengan ramahnya pamit untuk makan dan mempersilahkan kami turun dan meneruskan perjalanan dengan kendaraan lain ( ih,si bokap itu sadis, nggak ada rasa sayangnya sama anak-anak remaja seperti kita yang udah pasang wajah nelangsa minta diisikan perutnya……apakah bapak tidak memiliki putera seusia kami?).

Aku agak lupa dengan menggunakan apa akhirnya kami tiba di Ciamis, kota yang menurutku saat itu sangat bersih dan mungil. Kami sempatkan sholat di mesjid Raya Ciamis sambil istirahat makan, ngopi  dan tentu saja merokok. Kami mengira Pangandaran sudah dekat dan bertanya kepada warga yang kami temui di depan mesjid. Aku dan yang lain (kecuali Soni si dewasa dan kebapakan) langsung lemes begitu mendengar jarak masih seratus sekian kilometer lagi. Ugh, bener-bener perjalanan paling jauh pertama buat KacenJus yang jagoan kandang. Kami lanjutkan sisa (hah? Sisa? Masih jauuuh…..) perjalanan naik truk menuju Banjar. Aku dan bombom (dua ekor paling manja dan cengeng dan egois) teler berat selama perjalanan, jalanan berliku dan kecepatan truk yang dikendarai dengan gaya sopir kampung membuatku makin mual. OOOOOOOgh….mulutku mengeluarkan cairan bening dengan tenggorokan seperti menahan makanan yang mengganjal dan ingin keluar. Aku ambruk terlentang tapi rasanya dengan posisi begitu isi kepalaku diaduk aduk . Tiba-tiba akung mengeluarkan obat dewa. Ya, aku selalu mengenangnya sebagai kehebatan akung dan kadondong sebagai obat paling mujarab untuk mengusir mual dan mabok kendaraan. Kadondong. Buah kadondong muda yang sempat dibeli akung di ciamis menjadi obat pain killer kami(diantara anggota geng akung memang penuh keibuan karena suka bela beli persediaan remen temeh kayak ibu2….). Rasa buah kadondong yang masam tak terkira mampu membunuh rasa mual dan sesuatu yang terasa mengganjal di tenggorokanku sirna (aku bahkan berliur setiap mengenang  kadondong itu menelusuri lidah dan tenggorokanku).

 

Hari sudah gelap ketika kami tiba di Banjar. Kami putuskan naik kendaraan angkot berupa mini bis yang duduknya berhimpitan karena kelebihan muatan. Tak apa, yang kami pikirkan Cuma untuk segera sampai di pantai pangandaran.

Akhirnya kami dengar si kernet mulai teriak teriak…pangandaran nyampek..dek…, ah…..nyampe coy…hilang sudah penat dan mual kami.  kami segera menelusuri daerah pantai untuk mencari lokasi tepat mendirikan tenda. Aku sempet melihat banyak cottage dan hostel sederhana sepanjang jalan menuju pantai. Rupanya siang tadi hari hujan sehingga pasir basah dan udara menjadi dingin. Aku dan bombom mulai berfikir lain (ah, emang aku aja ama si bombom yang teteup manja dan nggak suka nyiksa awak…).

Kita cari losmen saja……usulku setengah maksa ketika lewat tengah malam tapi kami kelelahan. Bombom setuju diikuti anggukan soni. Kumis dan akung tidak kami mintai pendapat karena mereka selalu siap dengan kondisi medan apapun ( aing mah heran dan salut ka dua mahluk eta). Losmen adem ayem namanya (gila..! its been 20 years ago and i even still remember that losmen name!), lokasinya hampir di bibir pantai dan saat itu pengunjung cukup ramai. Malah karena waktu itu negeri Indonesia kita tercinta ini masih adem ayem loh jinawi kami melihat banyak orang bule yang berkunjung ke Pangandaran. Kami menempati satu kamar di lantai 2 (sekamar 5 orang di loteng…..mampuuus!). kamar mandinya diluar tapi lumayan bersih untuk aku yang rewel soal wc ( sorry …kung, aing mah hese modol lamun teu ngeunaheun …). mulailah segala keributan dan hiruk pikuk. Acaranya…..makan……nyebur ke laut…….makan, tidur………nyebur lagi,makan lagi,tidur lagi (ya ampun….sholat libur …!).-to be continued-

 

Published in: on September 24, 2008 at 9:02 am Comments (4)

episode satu

Aku merasa salah satu episode terbaik dalam hidupku adalah masa SMA. Bukan karena banyak orang yang merasakan hal yang sama tetapi bagiku masa SMA adalah masa kebebasan sesungguhnya. Makanya aku sering heran jika ada anak-anak sekarang yang malas untuk sekolah dengan alasan yang nggak masuk akal. Kalo alasan biaya sih itu mah nggak masuk itungan. Masa SMA juga masa penentuan hidup berikutnya. Jadi orang (atau jadi monyet) tidaknya sesorang banyak ditentukan dibagian SMA ini. Banyak anak yang prestasi SD sampe SMP nya bagus tapi ancur-ancuran di SMA nya dan akhirnya ancur sepanjang hayat, sebaliknya banyak yang agak hancur dari SD sampe SMP tapi masa SMA nya gemilang dan akhirnya mendapat kemenangan (hiy…kayak bahasa guru BP di sekolah dulu). Percaya atau tidak bahkan persahabatan masa SMA relatif lebih everlasting (walau banyak juga sahabat everlasting diluar SMA) karena masa SMA belum banyak intrik kepentingan pribadi yang menonjol seperti pada saat kita telah dewasa (analisa saya begitu). Banyak hal luar biasa yang aku alami saat remaja di SMA, mulai dari cerita pribadi,percintaan,persahabatan,persaingan sampai gaya-gayaan yang kadang malu untuk dikenang (hihih…..bahkan aku sampe sekarang malu liat sebagian fotoku waktu SMA dulu…jadul abis, kurus,item,kepala kegedean, …pokoknya nggak ada asiknya tuh tampang). Aku nggak bisa cerita tentang masa SMA ku kalo nggak cerita tentang geng kebanggaanku –KACENJUS-. Rasanya saat itu udah paling keren aja kalo kami berlima kumpul, maklum walaupun tukang ngumpul, nongkrong dan kelayapan tiap malam, ranking satu dan dua teuteup ada di anggota geng kami, yes! Me and my best friend Agus Saputra. Awalnya saat kelas satu aku agak menyesal masuk ke SMA Leuwiliang yang nggak terkenal blas! Maklum SMA di kota kecamatan dan Cuma satu-satunya yang berstatus negeri karena cita-citaku masuk sekolah neger di tengah kota Bogor atau sekolah favorit seperti SMA Regina Pacis. Apalagi di kelas satu aku merasa belum nemu hal-hal menarik, guru yang hebat dan temen yang klik dan asik, cuma ada si Budi anak dari Dumai teman sebangku aku yang lucunya nggak seberapal. Nah, akhirnya masa keemasanku tiba ketika naik ke kelas dua. Aku masuk jurusan Biologi (rasanya udah paling hebat  masuk jurusan biologi padahal karena rasa tengil diri sendiri aja) dan ketemu sama Agus yang udah jadi teman sebangku saat di SMP dulu. Aku duduk sebangku dengan Agus dan tak lama setelah masa penyesuaian dan seleksi alam di kelas, lama-lama aku lihat ada anak yang super ngocol. Namanya Akung dan duduk sebangku dengan bombom anak pak kepala kantro pos di sebelah sekolah kami yang chubby dan selalu naik motor kemana-mana. Entah gimana cerita panjangnya, yang jelas kami berempat jadi akrab (kalo nggak salah karena aku langganan majalah Hai dan sering beli novel Lupus dan dipinjem si bombom).Selera kami tentang musik hampir sama, Harry Mukti (dimana ya dia sekarang), Ruth Sahanaya (nggak ada matinya), Karimata dan beberapa penyanyi zaman eighties lainnya. Kami juga suka chicago, alphaville, michael jackson dan penyanyi barat lain yang kami beli kasetnya…(kaset, bukan keset). Bombom pinter main gitar,akung pinter nyanyi, aku suka nyanyi (ah….tepatnya nyinyi…) dan Agus kumis ikutan saja apapun yang kami lakukan (asal jangan suruh dia nyanyi solo…selain kualitas pita suaranya dol dan buta nada, saat menyanyi lagu Angie nya Mick Jagger dia seperti orang manggil-manggil nama Angie….bukan nyanyi Angie…).

Suatu saat kami punya rencana kemping…cihuy, aku usul ke rumah kakek nenekku di pelabuhan Ratu. Semua setuju, okeh, kami janjian naik kereta api dari bogor sampe cibadak ( it was a long time ago waktu masih ada kereta api bogor – sukabumi ) untuk perjalanan selanjutnya terserah naik apa saja. Pas bubaran sekolah bombom bawa berita (nah, ini bener2 awal mula kami kenal sama yang namanya Soni Harsono) bahwa ada anak bernama Soni Harsono, pernah berlibur ke Bali (ihk…bombom sampe menggaris bawahi soal Bali) pengen gabung ikut ke Pelabuhan Ratu. Aku sempet mengernyitkan kening karena sumpeh udah sekolah hampir sebulan belon kenal ama temen sekelas bernama Soni. Pokoknya anaknya enak dan kayaknya tajir, soalnya bapaknya Camat di Rumpin…….hahahaha, aku dan yang lain langsung okeh ( sumpah Son…itu mah cuma insting manusia sesat aja). Tepat hari yang ditentukan kami berangkat ke stasiun Bogor tapi kabar terakhir dari bombom bahwa soni akan datang terlambat dan mau nyusul saja ke stasiun. Kami udah nggak berharap banyak apakah Soni ikut atau tidak karena ketika kami nyampe di stasiun Bogor  kereta menuju Sukabumi udah siap berangkat. Tiba-tiba nongol lah yang namanya Soni (hihi…aku baru ngeh itu namanya Soni), pake sweater putih yang didalamnya baju biru model orang tuak (mungkin punya pak camat bokapnya). Kami langsung akrab dan dengan segala keceriaan masa muda kami langsung loncat ke dalam kereta yang kualitasnya nggak karuan. Kami happy dan udah terjejali dengan segala fantasi…..kami  merasakan segala nikmat kebebasan diantara jubelan manusia dan bau gerbong kereta.

 

Aku lupa jam berapa kami tiba di Pelabuhan Ratu, yang pasti kami langsung menuju rumah kakek nenekku. Basa basi dikit dan minta makan (nggak minta sih…cuma nunjukin wajah lapar), terus nyimpan tas dan ughh..nggak sabar kami segera berlari dan nyemplung ke laut, wuiiiih…..kemi kegirangan bisa merasakan nikmatnya mandi bareng temen-temen sealiran. Entah berapa jam kami berenang, ke tengah nyari ombak…tapi kemudian lari ketakutan pas ombak besar datang, kami menyewa ban dalam mobil sebagai alat berenang, ke tengah lagi….ke pinggir lagi…..terjungkal, tenggelam….ah,rasanya dunia memang sorga. Bombom selalu ada di paling tepi karena ternyata dia nggak bisa berenang, soni renang ke tengah tapi masih kalah sama akung yang walaupun serba gemulai tetapi selalu punya keberanian lelaki sejati. Agus muntah-muntah mengeluarkan isi perutnya yang ketika kutanya ternyata nggak kuat menahan asin air laut…hahaha….aku suspect dia nggak pernah diajak emak bapaknya ke laut. Malamnya kami sengaja memutuskan tidur di pantai. Dinginnya udara laut campur hangatnya pasir yang siangnya terbakar menjadi sensasi indah tidur kami. Sebelumnya kami sempat keliling-keliling daerah pantai Kado bangkong dan makan malam di emperan kaki lima.

 

Esok paginya kami kembali berenang (apa lagi yang harus dipikirin dan dilakukan?). Kali ini kami lebih mahir cara menggunakan ban dalam mobil sebagai perahu. Luar biasa nikmatnya ketika berada diatas ban kemudian terkena ombak yang tinggi dan kita berada di puncak ombak sebelum pecah. Seperti diayun oleh tangan lembut raksasa. Sialnya kalo kita menyongsong dan berharap ada di puncak ombak tapi ternyata ombak pecah saat menerjang tubuh kita. GLLkkkk..rasa perih kena ombak yang bercampur pasir. Seperti diguyur sesuatu yang pekat,keras,asin tapi kemudian kita ditarik-tarik dan dibetot ke tengah laut.

 

Puas main dilaut, hari beranjak sore, kami putuskan segera pulang ke Bogor. Aku nggak tahu kenapa waktu itu nggak berfikir untuk makan dulu di warung baru ke rumah kakekku (belakangan aku tahu dari ibuku kalo kakekku itu agak parno ama anak-anak remaja yang suka keluyuran dan ngerepotin tuan rumah). Kejadiannya sering diungkit Akung….(maafin Kakek saya tiba2 sok pelit ya). Ceritanya kami pamitan ke kakekku dan mengemasi semua barang bawaan kami. Siap pulang temen2 ngasih kode lapar padaku dan aku sendiri sumpah mampus lapar banget (abis renang coy…mana tahan laparnya). Nenekku membaca gelagat kelaparan di mata kami dan dengan sopan (atau disopan-sopanin?) nyuruh kami nunggu untuk disiapkan makanan. Eh, Engkong ku alias kakek malah nyeletuk pedih…”udah makan kali di pantai….banyak yang jualan kan…”( iiiiiiiiiiih…anjrit kalo inget malu banget tapi sekaligus pengen nyakar muka si akung yang mesem-mesem menghina…). Akhirnya karena merasa belum dewasa dan belum punya dosa kami keukeuh nunggu si nenek nyiapin makan dan melahap semua yang beliau sediakan (ya ampyun….setebal apakah sebenarnya wajah kami saat remaja dulu..hampura abdi …nini, aki).

Pulangnya kami naik beberapa tumpangan gratis dengan cara melambai-lambaikan tangan. Gonta ganti kendaraan karena nggak ada yang sampai bogor. Truk, pick up, truck lagi, pick up lagi…pokoknya gratis. Sampe di bogor perut udah keroncongan banget lagi…nah, bagian ini yang bikin aku dan yang lain jatuh hati sama Soni. Dia ngajak makan kami di restoran sate kambing dan sop kambing Dermaga. Rasanya syedaap banget…hihihik..nggak salah tuh si bombom nyeleksi anggota baru. Sejak perjalanan ke Pelabuhan Ratu inilah jiwa kami seperti menyatu. Bahkan ketika Soni kemudian pindah ke Cianjur, kami semua nangis kalkuta (bombay udah biasa). Kami merasa sudah menyatu seperti segerombolan ikan kecil di dasar samudera. Bergerak kesana kemari mengikuti arus tanpa pernah ada yang memerintah diantara kami. Kami mengikuti naluri keremajaan, bebas berenang di dasar samudera luas yang dimata kami adalah sorga. Dunia saat itu bagi kami adalah kegembiraan yang dibalut kesedihan yang menggembirakan. Harapan rasanya selalu membumbung karena hidup begitu panjang. Kami adalah sekawanan ikan yang terus berenang di samudera kebahagiaan.

 

 

 

Published in: on September 22, 2008 at 7:43 am Comments (2)

sahabatku ini

Agus Saputra namanya.Bapaknya tentara (aku nggak tahu pangkat terakhirnya apa) makanya Agus memiliki karakter keras dan berani melawan. Sebenarnya dia sainganku sejak SMP karena kami sekolah di tempat yang sama. Masuk SMA kecerdasannya makin terasah sehingga aku selalu berada di bawahnya. Agus ranking 1 aku rangking 2, agus rangking 2 aku rangking tiga. Diantara kami uang jajan Agus termasuk minus tapi kesehatannya paling bagus. Kami menjulukinya si kumis karena sejak SMP sudah memiliki kumis hitam legam dan baplang. agus paling sering jadi korban pembunuhan karakter kami terutama soal cewek dan gaya, sementara soni abstain karena hanya Soni yang pendiam. Aku dan Bom-bom adalah sejoli tukang ngetawain dan gong penghinaan terbesarnya akan dilakukan Akung. Saking jailnya, aku dan bom-bom pernah melaporkan Agus pada ibunya bahwa agus sudah tidak masuk sekolah selama tiga hari. Aku ingat waktu itu jam istirahat, bingung karena nggak ada kerjaan, aku dan bom-bom meluncur dengan motor ke rumah agus. Disana aku nemuin ibunya yang sudah aku kenal dan bilang bahwa agus sudah 3 hari tidak masuk sekolah. Ibunya langsung bingung dan jengkel karena setiap hari Agus berangkat dari rumah. Yang lucu malah komentar adiknya….’mungkin kebawa mobil, tiap hari nyasar…..’, hihihihiiik…(ampuuuun…maaf umi Agus, adik Agus). Besoknya agus uring-uringan dan marah besar…aku dan bom-bom Cuma cengir-cengiran aja. Yang lebih gila kejadian waktu belajar bersama. Ceritanya kita belajar bareng bertiga,aku, bom-bom dan agus. Kami belajar di teras rumah dengan meja belajar dan tiga kursi. Saat mengerjakan PR itulah aku dan bom2 mulai liat agus terkantuk-kantuk berat (agus ini suka banget nonton…bahkan misbarpun jadi makanya sering ngantuk di jam melek). Mulailah setan membisikan sesuatu padaku dan bom2. Makin lama agus nampaknya makin ngantuk sampai akhirnya terlelap dengan kepala dan tangan menempel diatas meja. Kemudian ngorok!, …….nah inilah pemicu segala jailku. Aku bergegas nyari tali rapia. Bom2 setuju ketika aku mulai mengikatkan kaki dan pinggang agus ke kursi dan meja. Rasanya nggak kuat menahan tawa ketika kami membayangkan betapa kagetnya saat agus terbangun nanti. Kurang seru, aku dan asep segera berinisiatif meninggalkan lokasi,biar kaget agus makin heboh. Kami masuk kamar yang berbatasan dengan teras dan tetap mencoba mencuri dengar apa yang akan terjadi pada jam berikutnya. Lama kami tak mendengar apapun. Eh, tiba2 terdengar suara batuk2 agus, kemudian terdengar suara kursi bergeser (sayang sekali saat itu belum ada teknologi kamera digital kayak di HP yang bisa merekam ringisan dan kekagetan agus). Aku dan bom2 rasanya ingin kencing menahan tawa. Terdengar suara agus memanggil-manggil namaku pelan, karena malam sudah larut dan dia pasti malu kalo kakak kakakku sampai terbangun. Aku tak bergeming. Berikutnya suara agus nampak berhasil memutuskan tali, terdengar suara kaki berjalan pelan kemudian……lenyap. aku dan bom2 bingung. Nyari atau cuekin. Dasar aku dan bom2 tak berperikemanusiaan, kami malah tidur dan tidak ingin tahu kemana dan dimana agus tidur. Esoknya agus marah2 di sekolah, tapi itulah sahabat. Yang memarahi dan dimarahai akhirnya cengar-cengir……………..

Published in: on at 5:55 am Comments (2)

takbir

suara takbiran selalu membuat hati saya syahdu. Mungkin karena sejak masa kecil selalu mendengar suara takbir menjelang hari lebaran dimana kesukaan terpancar pada setiap paras manusia yang kutemui. Puasa, takbiran dan lebaran adalah rangkaian kebahagiaan bagiku dan bagi berjuta muslim lainnya. Mudah-mudahan kedamaian ada dalam hati setiap muslim karena islam adalah agama damai.damai.dan damai. Happy Aidil Fitri.

Published in: on at 5:51 am Comments (1)

Hello world!

BIRU LAZUARDI. anak ke empat dari 5 bersaudara. SD sampe SMA di Leuwiliang, sebuah kecamatan di kabupaten Bogor. kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri yang berstatus ikatan dinas dan selalu menjadi incaran anak-anak yang ingin bekerja di departeman favorit. kuliah S1 di Malaysia dan menyelesaikan S2 di Universitas Gajah Mada. Tinggal di Surabaya bersama istri dan dua orang putera.

Published in: on September 17, 2008 at 12:23 am Comments (1)