Kemarin saya dan rekan sekantor diajak boss makan bersama di sebuah restoran. Seperti biasa acara makan pasti didahului dengan bincang-bincang dan senda gurau sambil menunggu makanan dihidangkan. Salah satu rekan saya mengeluarkan joke dan anekdort lucu yang membuat kami semua tersenyum. Seperti biasa kami juga sempat memuji boss ala kadarnya dan tidaklah berlebihan jika sesekali kami memuji boss dalam tahap yang masih wajar dan bukan kategori ass licker. Tetapi ada seorang rekan kami yang nampaknya tak memahami bagaimana menjaga lidah di hadapan seorang boss. Walaupun ia setuju dan mengangguk dengan pujian tulus kami terhadap boss, rekan yang satu ini dengan polosnya menghancurkan kebahagiaan boss yang ia terima dari sanjungan kami hari itu. Kami mengatakan bahwa cara boss membawakan rapat sangat baik dan sudah sesuai dengan prosedur dan kebutuhan teman-teman semua dan kami jelas memujinya dengan tulus karena kami melihat sendiri bagaimana performa boss saat berbicara dan mengendalika rapat. Nah, rekan kami yang kurang bijak ini menyela perkataan kami dengan mengatakan, wah, kalo yang namanya jago memimpin rapat sih, si pak anu dan pak anu, saya pernah dipimpin rapat sama beliau dan gaya dan caranya memang luar biasa sekali. Kami terdiam dan mencoba meraba-raba air muka boss yang nampak terusik dengan kalimat rekan kami itu. Dalam hati saya hanya berujar, mengapa seseorang harus menghancurkan kebahagiaan orang lain yang sangat mudah diberikan hanya karena ingin berbicara? Pelajaran yang saya dapat jelas: Bijaklah dalam berkata, karena lidahmu bisa jadi pahala atau petaka.
life must go on
Life must go on. Hidup harus terus berjalan apapun yang terjadi. Dulu saya memaknai hidup dengan sangat rumit karena saya hanya mau menerima apa yang terjadi pada diri saya sesuai dengan apa yang seharusnya dan sesuai dengan apa yang saya inginkan. Ternyata konsep yang saya pakai dengan standar harus dan ingin membuat saya menghadapi kekecewaan dan kesedihan yang tak berujung. Setiap hari berisi ocehan tak puas atas apa yang telah saya alami dan komplain kepada yang Menciptakan atas ketidaksesuaian impian dan kenyataan hidup. Semakin lama semakin akut sehingga menjadi sumber bencana berikutnya. Frustasi, iri, malas dan dengki merupakan beberapa gejala awal. Melihat orang lain bahagia adalah penderitaan karena saya merasa nelangsa seorang diri. Rasanya ingin selalu memberitahukan kepada dunia setiap hari bahwa diri inilah paling menderita, paling sedih, paling tidak beruntung dan paling harus dikasihani. Beruntung saya menemukan satu titik balik kehidupan walaupun dalam bentuk yang teramat pahit tetapi berhasil merenggut saya dari jurang kehancuran tak bertepi. Saya seperti mimpi jika mengingat segala ketololan masa lalu. Diri saya kah saat itu dengan segala kebodohan yang sering menghujat Tuhan? Mempertanyakan keadilanNya yang sudah merupakan satu kepastian dalam satu paket keimanan. Manusia yang paling bahagia adalah yang berhasil menerima keadaan dirinya saat ini apa adanya. Bukan orang lain yang harus menerima diri kita apa adanya dan andaipun seisi dunia tak menerima diri kita, kita masih tetap akan bahagia. Penyakit yang paling berbahaya adalah saat seseorang tak mengenal dirinya, tak tahu tugas apa yang dia emban di muka bumi dan untuk apa ia diciptakan. Banyak sahabat saya yang sampai saat ini yang hidup di persimpangan tujuan beranggapan bahwa penciptaan atas dirinya adalah suatu kebetulan bahkan suatu keanehan. Mereka masih mempertanyakan apa yang harus ia lakukan di muka bumi karena tercipta jauh dari sempurna dan dengan beraninya mempersalahkan ayah bunda yang telah menyebabkan mereka hadir. Tak ada yang kebetulan di dunia ini, semuanya adalah suatu grand strategi Tuhan yang maha Dahsyat dan dengan suatu rancangan yang tanpa cela. Jika seseorang menyesali apa yang terjadi pada dirinya, katakanlah seseorang yang terlahir tanpa kesempurnaan fisik, niscaya ia telah melewatkan suatu kesempatan yang diberikan Tuhan untuk memuliakanNya dengan memanfaatkan kekurangan yang ada pada dirinya. Allah tak akan menyia-nyiakan setiap usaha yang dilakukan mahlukNya, sekecil apapun itu. Saya selalu ingin meneteskan air mata setiap melihat, membaca atau mendengarkan cerita orang-orang yang berhasil menaklukan peperangan terbesar dalam hidupnya yaitu memerangi nafsu dalam hati dan memenangkan ketenangan dalam hidup. Seorang buta seperti Braille yang menciptakan huruf bagi orang buta adalah orang yang telah memenangkan peperangan hidup. Seorang lumpuh yang berhasil membesarkan anaknya dan berumah tangga tanpa mempertanyakan keadaannya pada Tuhan adalah seorang pemenang sejati. Saya selalu ingin belajar dari orang-orang seperti itu karena saya ingin belajar menjadi orang yang menyadari dirinya tak sempurna. Dungu sekali orang yang selalu ingin dan mengharapkan kesempurnaan dalam hidup. Setiap hari yang kita lalui adalah koyak yang bisa membuat kain yang kita rajut semakin usang dan kusut tetapi jika kita yakin bahwa Tuhan yang telah mengatur semuanya bukan mustahil koyakan itu telah mempercantik rajutan kain kita. Hidup tak mungkin berhenti dan berganti dengan tangis dan penyesalan. Life must go on.
Emak
beberapa bulan yang lalu saya kerap bermimpi berjumpa dengan almarhum nenek saya. Kami biasa memanggilnya Emak dan kepergiannya merupakan kehilangan yang luar biasa bagi saya karena diantara cucu-cucunya saya salah satu yang paling sering berkunjung dan menginap di rumahnya di desa. Emak wanita yang sangat kuat, pemberani dan tak pernah hidup dengan belas kasihan siapapun. Tidak seperti kebanyakan manusia berumur lanjut, emak cukup mandiri untuk ukuran wanita berusia seratus tahun lebih dan ia menikmati kesendiriannya sejak menjadi janda. Seperti umumnya seorang wanita tua, emak terserang beberapa sikap khas perempuan usia lanjut seperti cerewet, money oriented dan suka selalu ingin tahu urusan anak dan cucu di sekelilingnya. Gayanya sering membuat kami cucu-cucunya tertawa dan membuat sikap jahil kami sering menjadi-jadi. Dulu ketika masih bujangan pertanyaan Emak selalu tentang kapan aku kawin dan sering mengingatkan kalo ayahku dulu dari muda sudah minta dikawinkan. Ibuku akan menukas dan bilang bahwa zaman sekarang sudah maju dan orang yang kawin muda ketinggalan zaman. Emak tak segan akan beradu mulut dengan siapapun yang menentang keyakinannya. Emak paling sering adu mulut dengan adikku Neng Kimung karena Emak terus terang menyatakan kalo Nang Kimung terlalu cowok untuk ukuran gadis. Ah, kamu mah nggak bakalan laku kalo hidup di zaman nenek dulu karena sebagai gadis seharusnya kamu bisa ngurus rumah dan masak, begitu gerutu emak selalu. Adikku biasanya cuma nyengir dan merasa tak bersalah karena menurut beberapa informasi yang layak dipercaya ternyata emak dari muda sebenarnya bukan perempuan rumahan dan bukan jenis wanita anggun. Jadilah nasehat emak dianggap angin lalu oleh adikku. Kalo soal pelitnya, emak mungkin hanya bisa disaingin sama anak balita yang sedang takut kehilangan semua mainannya. Perkara pelitnya emak ini sering jadi bahan olokan sepupu-sepupuku di kampung. bahkan si Abbas sepupuku yang sering dihardik emak menjulukinya ratu kumed. Perkara pelitnya Emak ini tak banyak aku rasakan karena sepanjang yang aku ingat aku tak pernah merengek minta sesuatu apapun dari emak. Cuma setelah dewasa aku sering tertawa sendiri melihat cara emak menghemat makanannya. Setiap kali berkunjung ke rumah emak aku tak lupa selalu membawa panganan dan beberapa makanan yang tak ada di kampung. Biasanya aku membawa dalam jumlah yang cukup banyak dan berharap emak membagikannya kepada saudara-saudar yang lain yang rumahnya berdekatan dengan rumah emak. Ternyata pernah suatu ketika aku berkunjung menemukan lemari emak masih penuh dengan makanan bawaanku ketika berkunjung dua bulan yang lalu. Kejadian lucu lainnya jika meminta emak memaskan ayam yang baru aku beli dan dipotong. Saat dihidangkan sahabatku si Akung akan selalu mengusap dada karena ayam selalu tersaji tanpa beberapa bagian. Ayamnya kok cacat, kata akung. Ternyata kepala, hati dan rempela selalu emak simpan di lemari. Buat besok, kata emak, padahal esoknya kami tidak lagi disuguhi sisa-sisa ayam yang emak simpan.
pembantu tersayang
Bagi saya, berbicara tentang pembantu lebih banyak mengundang tawa daripada jengkel dan marah. Setidaknya itu yang saya alami dari kelakuan beberapa pembantu di rumah maupun di rumah saudara-saudaraku. Kita memang seharusnya banyak mafhum karena pembantu kita memang datang bukan dari golongan well educated sehingga banyak kesalahan yang mereka lakukan karena ketidakfahaman mereka atas perintah yang kita sampaikan. Seharusnya kita sebagai majikan menggunakan bahasa yang dapat mereka mengerti dan memakai pendekatan yang berbeda kepada mereka. Salah sekali jika kita menganggap mereka harus punya pemahaman yang sama dengan kita, bekerja sesuai dengan target kita dan melakukan hal-hal yang lain sama persis dengan yang kita inginkan. Namanya saja pembantu,helper,penolong yang berarti hanya membantu melakukan pekerjaan kita bukan mengambil alih semua tugas itu dari kita.
Selama berumahtangga empat belas tahun saya sudah mengalami pergantian pembantu beberapa kali. Mulai dari si Uun yang masih dibawah umur sampai sekarang si Yuli yang harus banyak diberi deodoran. Aku masih ingat pembantu kami ada yang bernama si Jiwa dengan ukuran tubuh yang jumbo dan saat berbicara seperti orang yang sedang berteriak. Lagak laguknya sering membuatku tertawa dan pembantuku ini termasuk kategori orang kampung yang kurang punya sopan santun. Aku memakluminya saja karena kufikir tanpa dia rumah kami pasti kacau karena anak kami yang masih kecil. Ada kejadian lucu yang sempat terjadi dimasa tugas si jiwa ini. Suatu malam kamar kami kedatangan tamu menjijikan seekor tikus got yang sangat besar. Istriku terbangun dan menjerit ketakutan. Aku sebagai suami yang baik tentu saja ikut kaget dan setengah mati ketakutan juga. Aku jijik luar biasa dan rasanya lebih baik menghadapi kejaran beruang kutub daripada dihampiri tikus selokan yang bau dan bertampang setan. Aku loncat bersiap mengambil batang sapu untuk menyerang dan melakukan pertahanan jika si tikus muncul. Tanpa sadar aku meloncat ketakutan ke atas kursi begitu si tikus kembali menampakan diri dari balik tempat tidur. Entah setan mana yang membisikanku untuk memakai sepatu kantor hanya karena ngeri kaki menginjak atau diinjak si tikus belegug itu. Si Jiwa tiba-tiba muncul dari dalam kamarnya dengan hanya memakai kutang dan kain sarung. Ia langsung mengambil alih tugas memberantas penjahat selokan itu dari tanganku. Dikejarnya tikus itu dan dengan tangan kosong pendekarnya ia tangkap tikus itu dan dijinjingnya dengan jari jemari besarnya. Masak bapak takut tikus? Tanyanya dan menurutku pertanyaan yang sangat berbau sara dan penghinaan atas kelaki-lakianku. Keramaian belum berhenti sampai disitu karena setelah semua benar-benar sadar aku dan istriku tertawa hebat. Aku ternyata memakai sarung tanpa baju dan celana, memegang batang sapu dan bersepatu kantor! Tawa aku dan istriku bertambah karena si Jiwa kembali dari tempat sampah di depan rumah hanya berkutang dan kain sarung. Judul kejadian malam itu benar-benar fantastis! pendekar bersarung diselamatkan wonder woman!
Si Isah pembantu di rumah mamah endah tak kurang lucunya. Entah karena tak mengenyam sekolah atau karena gegar otak dari kecil ia selalu berkata-kata dan bertingkah error. Anaknya baik tetapi sering mengundang kemarahan-kemarahan dari ibu mertuaku karena tak pernah bisa diajari apapun dan selalu lupai. Semua harus diulang dan tetap dengan hasil yang salah. Ada kejadian lucu tentang si Isah selain kelucuannya ketika tak bisa mengucapkan ONH plus. Bagi Isah mengucapkan kata ONH plus adalah kesulitan tak terperikan karena ia hanya mampu mengucapkan Ho He Hon plus. Ada kejadian lebih lucu lagi ketika kami sekeluarga lengkap dengan Isah berangkat ke Jogja dalam satu kendaraan saat hari raya Lebaran. Kampi sempat mampir ke Sukabumi dan Isah sudah diperingatkan untuk tidak makan yang aneh seperti jengkol dan pedas agar tidak sakit perut selama perjalanan. Ternyata memang manusia sering mengalami apa yang ia takutkan. Isah sakit perut ketika perjalanan sampai di daerah cirebon di jalur lalu lintas yang sedang macet di malam hari. Awalnya aku yang mendeteksi bau lain di dalam mobil dan kufikir ada yang kentut diantara kami.
Isah kamu kentut ya? Goda istriku dan dijawab Isah dengan kata tidak.
Bau tak sedap makin terasa dan kami segera membuka jendela lebar-lebar. Tak lama berselang Isah dengan takut berbisik bahwa ia ingin buang air besar. Kami tertawa dengan kelakuan Isah yang secara tidak langsung telah mengakui kejahatannya kentut selama perjalanan. Jalanan masih macet dan tidak mungkin mencari tempat buang air besar di tengah jalan yang sekitarnya nampak gelap. Tunggu sebentar sah, kami mengingatkan isah untuk bersabar. Adikku yang memegang setir nampak malah cekikikan membayangkan Isah yang nahan erangan.
Kamu buka aja pintu belakang, godanya, tembak dari situ. Isah tetap menghiba agar segera dicarikan penyelesaian masalah perutnya. Tiba-tiba Isah bergumam setengah tak berdaya.
tuh, kan keluar……., ucapnya
hahaha..pertahanan Isah akhirnya jebol di dalam mobil, hiruk pikuk kami mencari lahan kosong untuk berhenti dan menyelamatkan Isah dari kesulitannya. Akhirnya kami berhenti di tempat sepi. Dengan bermodal segelas air mineral aku mengantar Isah ke tanah kosong yang gelap itu. Isah sukses melepaskan hasrat manusiawinya dan dengan lega kembali masuk kedalam mobil. Sambil tak henti menahan tawa dari dalam mobil lamat-lamat aku melihat sebuah rumah di samping tanah kosong yang baru diberi oleh hadiah Isah itu . Ya, Isah buang hajat di halaman orang. Aku makin tertawa kencang membayangkan seandainya Isah menuliskan Selamat Hari Raya, mohon maaf lahir bathin di atas gundukan hadiahnya itu dan ditujukan kepada si pemilik halaman rumah .
Ini tentang pembantuku di rumah ibu. Aku lupa lagi namanya tetapi wajah dan kelakuannya masih jelas kuingat karena centil dan suka bergaya. Anaknya memang lumayan bisa dipertimbangkan masuk kategori layak sehingga tak heran jika sahabatku si agus cunihin sampai bengong saat melihat ada pembantu yang bisa dikecengin di rumahku. Tanpa sepengetahuanku ternyata agus cunihin berkali-kali mengajak si pembantuku ini mengobrol saat ia main ke rumahku. Aku fikir hanya basa-basi saja ternyata suatu hari agus malah melaporkan kejanggalan hasil obrolannya dengan pembantuku itu padaku.
Eh, pembokat lu itu masih sodaraan ya sama kamu? Tanya agus
Nggak tau, mungkin iya, yang jelas dia dari kampung ibuku di Citamiang, emang kenapa gus? Tanyaku penasaran
Kemarin aku ngobrol banyak, katanya dia anak lulusan SMEA ya?
Hahaha….nggak ah, boong dia, orang dia anak lulusan SD, kataku menjelaskan karena aku tahu dari saudaraku yang membawanya ke rumahku
Aku jadi penasaran dengan cerita agus dan ingin tahu ngomong apa lagi si pembantu centil itu kepada agus cunihin.
Iya sih, gua juga nggak percaya dia anak SMEA sesudah ngobrol ke topik berikutnya, kata agus malu-malu kasian
Emang dia ngomong apa? Kataku makin penasaran
Anu, kata agus entah malu entah ragu entah kasian sama yang bersangkutan. Waktu aku tanya dia ngambil jurusan apa di sekolah SMEA, jawabannya aneh, kata Agus
Emang jawabannya apa? Tanyaku makin penasaran
Dia jawab jurusannya apa aja, soalnya banyak dan tiap hari beda jurusan, kata agus dengan mimik berdosa.
Hahaahaha…kontan aku tertawa ngakak tak terperikan, amit amit dan nyukurin.
Makanya kalo kenalan liat-liat orang dong,gus, kataku, masak pembokat aja disikat, atau jangan-jangan elo punya kelainan yang hanya tertarik lulusan SMEA gila ya?
Ah, dasar agus cunihin makanya ketemu pembantu centil!
Cerita lain tentang bi erob adik ibuku yang tinggal bersama kami dan membantu ibuku menyelesaikan tugas di dapur. Bi erob termasuk kategori cantik dengan kulit bersih dan rambut ikal lebat. Banyak laki-laki disekitar rumah yang terang-terangan menyukai bi erob dan memakai aku sebagai jasa kurir penitipan surat dan makanan buat bi erob. Ada si Jaih yang sering kumintai permen dan kubilang permen itu untuk bi erob padahal kumakan sendiri. ada mang Ae yang manis dan sangat sopan sehingga salam-salamnya selalu aku sampaikan ke bi erob. Tetapi bi erob nampaknya tisak melayani mereka karena selain masih kecil bi erob juga bukan jenis anak gadis centil. Tetapi setiap orang sering terkena musibah yang tidak ia sangka. Ceritanya waktu itu ada pertunjukan misbar atau gerimis bubar atau penayangan film gratis di tanah lapang. Bagi kami warga kampung leuwiliang pertunjukan misbar adalah kesempatan emas untuk menonton film karena saat itu belum ada gedung bioskop. Bi erob yang tidak centil ini berangkat denganku ke lapangan di depan kantor polisi bersama beberapa anak perempuan kampung lebak kaum. Pertunjukan dimulai jam delapan sehingga film berdurasi dua jam selesai pukul sepuluh. Anak seusiaku yang duduk di kelas tiga Sd tentu saja sudah menguap saat pertunjukan baru setengah jalan. Aku meminta bi erob untuk pulang tetapi nampaknya bi erob terkesima oleh rhoma irama di layar raksasa putih itu. Bi erob tak mau pulang akhirnya aku pulang sendiri. sampai di rumah ibu langsung bertanya kemana bi erob dan kujawab dia tak mau pulang. Ibu nampak langsung masgul dan marah. Jam menunjukan pukul dua belas lewat ketika aku dengar ibu tak tidur kesana kemari memikirkan adiknya yang tak kunjung pulang. Ayah mulai gelisah dan marah karena takut terjadi sesuatu pada bi erob yang banyak diincar lelaki di kampung kami. Jam dua pagi bi erob pulang dan langsung menerima kemarahan halilintar dari ayah ibuku. bi erob kudengar membela diri bahwa ia malah takut pulang begitu sadar jam menunjukan pukul dua belas dan akhirnya menunggu teman-temannya yang bersedia pulang setelah film ketiga selesai. Ayah ibuku tentu saja tak menerima alasan bi erob. Sejak saat itu bi erob tak pernah lagi keluar rumah untuk melihat sesuatu yang memabukan seperti film rhoma irama. Bi erob akhirnya dinikahkan dengan mang obar dan sampai saat ini anggap saja hidup berbahagia seperti cerita cinderella.
Ini tentang si Jaji, pembantu laki-laki di rumahku. Badannya gempal seperti anak kampung kebanyakan yang bekerja di sawah dan ladang. Pekerjaannya adalah melayani pembeli kayu di toko material kayu ayahku. Aku sering menganggapnya teman karena aku senang mendengar cerita dan pengalamannya hidup di desa dan ia pernah bekerja di kota. Suatu hari jaji sakit demam. Aku melihatnya tertidur di kamar dengan wajah agak pucat. Ibuku menyuruh aku membelikan obat penurun demam buat jaji. Aku bergegas ke warung dan menyerahkan obat itu kepada jaji.
Nanti saja minumnya, kata jaji karena seperti kebanyakan anak kampung lainnya, jaji juga selalu ketakutan minum obat apalagi jarum suntik.
Aku meletakannya di kusen jendela kamarnya. Esoknya kulihat jaji sudah sehat kembali dan aku tanyakan apakah obatnya sudah ia minum.
Sudah, katanya, ini mah gampang minumnya soalnya pilnya kecil-kecil, ada tulisan harinya lagi,bagus, jaji menjawab sambil menunjukan lembar obat yang ia minum.
Aku kaget, masya Allah, tanganku cepat mengambil lembar obat yang diminum jaji. Kamu sudah minum berapa? Tanyaku kaget
Empat kali, emang ada yang salah? Jaji ikut kaget
Ibuuuu,…aku bergegas lari ke arah ibuku yang berada di dapur sambil teriak…si Jaji minum obat pil KB ibu….
Ini tentang si yuli pembantu kami saat ini. Dia asli dari kampung di Blora yang ketika pertama kali datang ke rumahku memiliki sorot mata yang aneh. Tubuhnya hitam dan wajahnya seperti menyiratkan malu dan ketakutan. Jika berbicara hanya menggunakan kata iyah dan enggak. Caranya berjalan dan melakukan sesuatu mengingatkan kami anak-anak yang benar-benar erlantar di tengah hutan. Waktu berlalu dan sekarang kami senang sekali karena si Yuli sudah banyak mengalami perubahan. Dia sudah mau mengangkat telpon dan berbicara dengan intonasi dan kata-kata yang cukup beradab. Kami sering mengajaknya bepergian bahakan pernah mengajaknya terbang dengan pesawat ketika berkunjung ke Jakarta. Dua tahun ternyata cukup untuk mendidik yuli menjadi warga kota yang bearadab dan mengerti tutur sapa dan sopan santun. Malah Yuli kini sudah masuk jajaran pengikut mode garis depan. Lihat saja rambutnya. Tanpa sepengetahuan kami ia kerap ke supermarket dan membeli pewarna rambut. Yuli hobi mengecat rambut dari warna merah marun sampai merah manyun. Rambutnyapun dipotong ala agnes monica yang sedang sakit demam. Bajunya? Tentu celanan selutut super ketat di pahanya yang berukuran jumbo. Nampaknya Yuli termasuk kategori gadis tomboy karena beberapa kali dibelikan baju yang agak feminin oleh istriku tidak ia kenakan. Well, nampaknya pekerjaan Yuli menonton sinetron setiap malam tanpa henti telah banyak mengajari segala sesuatu. Mudah-mudahan saja sinetron alam gaib, hantu dan perdukunan tidak ikut mempengaruhi jalan hidupnya.
nothing impossible
Tak ada yang tak mungkin di dunia ini dan saya percaya itu. Dengan keyakinan diri, berfikir positif dan kerja keras manusia mampu mencapai puncak kesuksesan yang awalnya nampak mustahil untuk diraih. Saya mengalaminya sendiri. Bukan bermaksud membanggakan apa yang telah saya capai saat ini walau selayaknya saya bersyukur atas apa yang telah saya raih sampai detik ini jika dibandingkan dengan taraf hidup saya dimasa lalu. Saya hanya ingin berbagi tentang bagaimana akhirnya saya mendapatkan banyak hal yang saya impikan. Saya bukan dari golongan berada, terkenal, menak apalagi penguasa. Saya hanya seorang bocah kecil yang berasal dari keluarga sederhana yang tak memiliki jaminan apapun untuk menjemput masa depan kecuali dengan harapan. Kampung tempat saya dilahirkan bukanlah kampung dimana lingkungan keilmuan dan pendidikan menjadi prioritas utama. Kampung Leuwiliang tempat saya dilahirkan dan dibesarkan adalah kampung yang hiruk pikuk oleh perdagangan tradisional. Hampir semua teman sekelas di masa SD saya adalah anak pedagang pasar Leuwiliang yang menghabiskan sisa hari mereka di pasar membantu orang tua berjualan. Saat masuk sekolah kantung mereka penuh dengan uang receh tetapi mereka tak pernah menggunakan uang itu untuk sebuah buku dan memandang sekolah bukan sebagai hal sangat penting karena mereka meyakini tanpa sekolah tinggi mereka mampu untuk menghasilkan uang. Beberapa teman sekelas satu persatu mulai menghilang dari kelas dan menjadi pedagang kaki lima di pasar leuwiliang. Saya tak punya banyak pilihan lain jika melihat keadaan seperti itu. Untungnya kedua orangtua saya memiliki wawasan yang lebih luas dari orang-rang di kampung kami. Ayah dan ibu selalu mendorong kami agar mengepakan sayap dan terbang tinggi. Ibuku selalu berucap alangkah bahagianya jika diantara anak-anaknya ada yang menjadi mahasiswa. Ayahku selalu bermimpi memiliki anak yang berhasil dalam ilmu dan berkecukupan. Alam bawah sadar saya senantiasa dijejali informasi betapa hidup itu nikmat bagi orang yang berilmu. Jadi mahasiswa, jadi dosen,jadi orang hebat,jadi orang pinter. Satu persatu kakak-kakakku bertumbangan dari bangku sekolah dan tinggal aku harapan satu-satunya orangtuaku karena adik perempuanku tak menunjukan keinginan untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Tuhan mendengar setiap keinginan. Saya diterima di perguruan tinggi ikatan dinas yang membebaskan mahasiswanya dari kewajiban membayar biaya perkuliahan. Saya berasal dari sekolah menengah umum di kampung yang tak layak bersanding dengan teman-teman lulusan sekolah favorit dari kotamadya di seluruh Indonesia. Ada rasa minder dan takut menyergap ketika mengikuti awal masa perkuliahan walau saya akhirnya mampu menaklukan perasaan itu. Akhirnya saya sekali lagi harus mempercayai kerja keras dan kebesaran Tuhan. Saya malah terpilih untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi ke Malaysia sampai akhirnya menyelesaikan S2 saya di universitas ternama di Yogyakarta. Kadang saya belum percaya dengan apa yang telah saya alami dan telah diizinkan Tuhan untuk terjadi. Saya bekerja di sebuah Departemen yang selalu menjadi buruan teman-teman yang baru lulus kuliah. Saya mengalami begitu banyak kemudahan hanya karena saya selalu bermimpi untuk terbang dan menggapai semuanya. Satu persatu Tuhan telah menunjukan mimpi-mimpi masa kecil saya. Jagalah mimpimu, fokuskan mimpimu pada kebaikan dan kesuksesan, yakinlah bahwa hidup selalu menyediakan kesempatan tak terbatas untuk semua keinginan. Semoga Tuhan menjaga mimpi-mimpi baik kita.
Tengok Malaysia
Malaysia sekarang sungguh berbeda dengan Malaysia duapuluh tahun yang lalu. Penilaian lembaga dunia atas kinerja ekonomi Malaysia seringkali jauh diatas peringkat Indonesia. Dalam tataran ekonomi dan pendidikan saja Malaysia sudah mampu menyalip negeri kita dalam sekali helaan program ekonomi yang dicanangkan Mahathir sejak dua puluh tahun terakhir. Masih terekam dalam ingatan para pendidik kita terdahulu bahwa dua puluh tahun yang lalu mereka ramai-ramai dikirim ke Malaysia untuk menjadi tenaga pendidik di sekolah-sekolah dasar Kebangsaan Malaysia karena adanya wajib belajar bagi seluruh anak-anak Malaysia yang dibebaskan dari pungutan. Pemuda-pemudanya saat itu ramai yang yang melanjutkan ke Institut Teknologi Bandung atau Institut Pertanian Bogor selain Universitas Padjajaran dan Universitas Indonesia. Berbondong-bondong pula para pegawai Petronas belajar tentang pengelolaan minyak bumi pada Pertamina. Saat itu perekonomian dan pembangunanIndonesia melaju didepan Malaysia dan secara sejarah Indonesia adalah kakak kandung bagi Malaysia. Duapuluh tahun berlalu dan ternyata sang adik melesat meninggalkan sang kakak yang kini terhuyung-huyung diterpa segala permasalahan yang tak pernah berhenti. Saat ini ribuan pelajar Indonesia berbondong-bondong belajar ke Malaysia dari mulai tingkat menengah hingga program doktoral dan sisanya adalah orang-orang kita yang tak berdaya dan mencari penghidupan sebagai buruh kasar Indon disana. Malaysia membuka banyak cabang sekolah dan universitas Internasional yang memungkinkan siswa mendapatkan ijazah universitas di Eropa atau Amerika yang diikuti di Malaysia. Birokrat dan pengajar di Indonesia sudah banyak yang mengenyam pendidikan dan menjadi alumni universitas di Malaysia. Petronas sekarang telah menancapkan kuku dibidang migas dengan perolehan keuntungan yang jauh melampui usaha sang kakak pertamina yang terbelit berbagai masalah, korupsi dan hutang. Petronas kini bahkan sudah mampu untuk menjadi sponsor olahraga yang sangat mahal dengan berkoalisi membentuk tim Sauber-Petronas di ajang balapan F1 Formula satu. Dari sini saja kita sudah dapat menarik kesimpulan sementara bahwa ada sesuatu yang salah dengan negeri kita. Jika kita mempersalahkan kecerdasan atau bentuk otak rasanya tidak mungkin dan bukan alasan yang masuk akal karena Malaysia pernah menjadi murid yang kita ajari yang suatu ketika dahulu kita mereka belajar dari kita dalam segi-segi hidup yang memerlukan kecerdasan. Menurut pengalaman saya sebagai mahasiswa yang bersekolah di Malaysia dengan tegas mengatakan bahwa orang-orang Malaysia tidaklah lebih pintar atau cerdas atau bahkan saya berani mengatakan bahwa kecerdasan anak Indonesia berada jauh diatas kecerdasan anak Malaysia. Beberapa prinsip mendasar yang ada pada pelajar Malaysia dan tidak dimiliki oleh pelajar Indonesia dan sangat menentukan maju tidaknya mereka sebagai sebuah bangsa yaitu kejujuran, kerja keras, harga diri dan kebanggaan. Kejujuran disini luas sekali dan tidak hanya menyangkut contek mencontek di ruang kelas. Pelajar di Malaysia meyakini bahwa mereka lebih baik jujur mengerjakan sesuatu apa adanya daripada membuat sesutu yang lebih bagus tetapi dengan campur tangan orang lain. Sering sekali pada saat mengumpulkan tugas atau laporan mereka hanya menyerahkan tugas atau jawaban soal dalam beberapa lembar kertas buram dengan tulisan tangan yang tidak rapi. Mereka tak biasa meminta seseorang untuk membantu mengerjakan apalagi dengan membayar orang lain menyelesaikan tugas yang dari dosen. Mereka juga sudah pada tahap meyakini bagaimanapun hasil yang diperoleh dari kelulusan nanti peluang tetap terbuka untuk berjuang dan bersaing dalam lapangan kerja sepanjang mereka mau berusaha. Mereka meyakini bahwa ekonomi dan kehidupan Malaysia menjadi lebih baik setelah pencangan pemberantasan korupsi atau rasuah dan kesempatan yang sama bagi setiap warga tanpa memandang ras untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik. Soal kerja keras mereka sudah mengikuti pola pelajar Singapura yang notebene adalah orang cina yang memiliki etos kerja dan semangat hidup tinggi. Mereka seringkali menganggap Singapura adalah kompetitor terdekat yang harus dilampaui dan bukan negara yang harus dianggap hebat apalagi dipuja. Banyak sekali mahasiswa yang kualitas kecerdasannya pas-pasan tetapi ditahap ujian berikutnya ia bisa menyelesaikan semua perkuliahan dan tugas yang diberikan pengajar tepat pada waktunya sementara di negara kita seringkali mahasiswa cerdas gagal lulus hanya karena ia terbentur malas untuk menyelesaikan skripsi apalagi keyakinan bodoh mahasiswa kita bahwa jika lulus kuliahpun mereka akan bingung untuk mencari pekerjaan sesuai dengan ijazah yang mereka pegang. Mahasiswa di Malaysia sangat bangga dan memiliki harga diri yang kadang berlebih. Mereka sangat percaya diri untuk menyampaikan apapun di depan kelas dan begitulah seharusnya proses belajar mengajar itu. Mereka tak akan segan untuk mendebat dosen atau kawan yang mengeluarkan pernyataan yang menurut mereka tak semestinya. Mereka tak segan bertanya kepada dosen sampai hal yang sangat kecil dan sang dosen selalu siap melayani pertanyaan kapanpun. Orang malaysia memang lebih blak-blakan jika berbicara bahkan untuk hal yang menurut kita nampak saru. Hubungan antara dosen dengan mahasiswa juga cenderung lebih terbuka dan egaliter. Mahasiswa tak perlu mencari-cari dosen untuk mendapatkan tanda tangan atau bimbingan yang tak jelas masukannya. Beberapa dosen malah memberikan jadwal hariannya sehingga ia bisa ditemui pada saat ia berada dimanapun sesuai jadwal yang tertera. Seringkali sang dosen tidak keberatan bahkan ditemui pada saat melakukan aktifitas olahraga di lapangan tenis atau badminton. Bahkan dalam satu forum diskusi di kelas seringkali mahasiswa sudah membayangkan dirinya adalah seorang pegawai dalam satu perusahaan yang mereka dambakan dan menganggap dosen sebagai mitra kerjanya saja.Mahasiswa malaysia juga tidak menyukai pertengkaran diluar kelas, mereka akan selesaiakan semuanya di ruang kelas sehingga perkelahian antar pelajar seperti tawuran hampir tidak pernah terjadi. Mahasiswa disana juga hemat sekaya apapun orang tua mereka. Mereka tidak suka mengeluarkan uang berlebihan untuk hal-hal yang konsumtif walaupun ia misalanya adalah anak seseorang yang datuk. Sering dijumpai anak-anak mahasiswa yang sebenarnya dari keluarga mampu sudah bekerja paruh waktu sambil menyelesaikan kuliahnya. Budaya saling mentraktir juga tidak ada sehingga orang tidak saling terjebak untuk berbuat baik diluar kemampuannya, bahkan penulis masih teringat pada saat pertama kali datang ke ruang kelas untuk mengikuti pelajaran terkaget-kaget ada seorang teman yang menyodorkan sebungkus rokok kemudian teman-teman Malaysia mengambil masing-masing sebatang rokok dan meninggalkan uang tigapuluh sen ke dalam bungkus rokok teman pemilik rokok tadi. Disana nampaknya pengertian berbuat baik dan benar sudah tertanam tanpa harus mempertimbangkan ewuh pakewuh yang sering merancukan kebenaran itu sendiri. Saat lebaran saya pernah diundang ke rumah salah satu sahabat Malaysia saya dan ternyata hari itu segala jenis makanan dihidangkan dan tidak lupa kawan saya pemilik rokok itu menyediakan sebungkus rokok buat saya sebagai tamunya, gratis!
AGUS KIRMADI SAHABATKU
Jika ada saudaraku yang muslim dan begitu membenci manusia lain yang berbeda keyakinan dengannya kuharap ia bertemu dengan sahabatku,Agus Kirmadi. Terlahir dari keluarga yang berkeyakinan kejawen agus memeluk nasrani sejak usia masuk sekolah SMA. Keluarganya terbagi dalam dua keyakinan muslim dan kristen karena orangtuanya membebaskan anak-anaknya untuk memilih keyakinan masing-masing. Aku tak ingin menyinggung masalah bagaimana hukum orangtua yang membebaskan anak-anaknya memilih keyakinan anak-anaknya dan hukum saudara Agus yang membarkan saudaranya yang lain dalam keyakinan yang berbeda karena toh Agus dan saudara-saudaranya berasal dari sepasang orangtua penganut keyakinan kejawen . Bukan pula menjadi hak aku untuk berbicara dan menghakimi mereka karena aku bukan pula yang menentukan siapa harus terlahir dari rahim siapa sehingga bodoh rasanya membuat kesimpulan atas apa yang terjadi pada mereka. Aku hanya ingin bercerita dan berbagi tentang bagaimana nikmatnya hidup yang kurasakan dalam menjalin persahabatan tulus dengan seseorang yang berbeda keyakinan seperti agus dan ketika kami saling mempercayai untuk tidak saling menyerang apalagi menyakiti keyakinan masing-masing. Aku bisa bertanya bebas tentang ajaran nasrani pada agus dan mengomentarinya dalam suasana yang sangat menyenangkan. Demikian juga agus terhadapku, aku selalu siap menjawab pertanyaannya tentang Islam sepanjang aku mampu menjelaskannya. Aku merasa sedang menjalankan perintah Rasul kami yang berbudi pekerti luhur dan telah memberi teladan untuk mampu hidup berdampingan dengan manusia lain yang berbeda keyakinan dalam suatu tatanan hidup yang harmoni dan damai. Pernah suatu ketika Agus mengolok-oloku ketika kami hendak berangkat bersama naik pesawat dan ia tahu aku masih saja takut saat terbang dengan pesawat. Katanya udah rajin shalat tahajjud segala, kok masih saja takut naik pesawat, belum siap ketemu Tuhan? Kata agus mengomentari keluhan rasa takutku. Aku malah heran sama sampeyan, nggak pernah sholat kok nggak takut naik pesawat dan nggak takut mati, jawabku dengan tangkas dan seringai tulus. Atau guyonan kami yang lain ketika aku mengomentari betapa rajinnya agus pergi beribadah. Jangan terlalu rajin ke gereja gus, ntar kamu jadi pengen hidup selibat tanpa perempuan lho, kataku. Iya, kamu juga jangan sering ikut pengajian, nanti malah pengen kawin sampe empat kali, jawab agus sekenanya. Tawa kami pecah. Tentu guyonan yang kami lontarkan bukan konsumsi publik dan hanya berlaku untuk kami yang sudah saling percaya dengan ketulusan penghormatan terhadap keyakinan diantara kami. Tak pernah aku dengar dan aku baca dalam suatu ayat kitab suci atau hadis yang kuyakini kebenarannya yang memintaku untuk memusuhi seseorang yang berbeda keyakinan denganku sementara ia tak memusuhi ku dan apa yang kuyakini. Bukankah rasul tak pernah melakukan huru-hara, pemaksaan apalagi ekspansi militer yang menyerang sekelompok manusia atau negara lain saat memperkenalkan Islam? Diluar itu agus adalah sahabat yang telah beberapa kali teruji ketulusannya membantuku saat-saat sulit. Aku sering merasa risih dengan kesiapannya untuk membantu. Istriku sering berkomentar bahwa agus kirmadi terlalu baik sebagai sahabat. Beberapa teman dekatku yang pernah kukenalkan pada agus pun langsung menangkap tingkah polah agus yang santun dan menyenngkan. Adikku pernah mengenalnya beberapa hari ketika kami pergi ke Bali bersama dalam suatu acara kantor. Agus, baik sekali,lucu dan bener-bener nyenengin, kata adikku. Ah, seandainya manusia memahami sebuah pengertian bahwa agama bukanlah ajaran yang menghalangi manusia untuk menjalin hubungan persahabatan dan silaturahim untuk saling mengenal. Agama seharusnya menjadi sendi utama manusia untuk selalu berbudi pekerti dan menempatkan kemanusiaan diatas syak wasangka buruk dan merendahkan manusia lain. Tuhan kita bukanlah Tuhan yang mengajarkan kekejaman dan penyeru kebinasaan. Ia menyeru manusia agar menjadi wakilnya di muka bumi untuk melestarikan alam dan mengasihi seluruh penghuninya hingga datang ketetapanNya untuk menghentikan semua yang telah Ia ciptakan. Bagiku perang yang ada saat ini lebih kulihat sebagai sebuah pertempuran antara kebencian melawan ketamakan, kekejian melawan kerakusan dan kebodohan melawan takabur. Manusia mulia yang mempercayai Tuhan sebagai yang Maha Pengasih dan Penyayang tentu akan lebih memilih hidup damai dan mengupayakan perdamain.
SYUKUR
Hari Sabtu pagi itu saya agak malas untk bangun setelah shalat shubuh dan kembali tidur. Aku menikmati rasa malas sambil tiduran bersama istriku. Dalam hati aku mulai merancang acara hendak pergi kemana dengan anak dan istriku weekend ini karena aku sering merasa bosan saat melalui hari sabtu dan minggu tanpa bepergian keliling kota walau anak-anakku tak pernah meminta apalagi memaksa. Agus kirmadi sahabatku mampir saat acara jalan paginya. Sambil menyeka keringat Agus bercerita tentang teman-teman kami. Akhirnya obrolan berfokus pada salah satu sahabat kami yang jarang berkirim kabar lagi. Mungkin udah lupa aku, gus, kataku berasumsi. Berkali-kali kutelpon dan kirim sms nggak dijawab. Kemaren ia telpon aku, agus menyela, ternyata ia sedang susah, katanya. Agus menceritakan kesulitan yang sedang dihadapi sahabat kami itu terkait putranya yang telah divonis mengidap autis oleh dokter. Usianya dua tahun tetapi belum mampu berbicara sepatah katapun, agus menambahkan. Ya ampun, kasian sekali, aku bergumam. Anak autis kesulitan dan beradaptasi, berinteraksi dan berbicara. Aku tiba-tiba seperti diingatkan tentang syukur pagi ini. Anak kami yang sehat dan normal seringkali kuanggap sesuatu yang memang sudah seharusnya dan selayaknya terjadi padahal semuanya adalah karena kemurahan Tuhan pada kami dan jika Ia menghendaki tak ada yang sulit bagiNya untuk menimpakan ujian yang diberikan pada sahabatku itu kepada siapapun. Aku seharusnya mensyukuri semua ini setiap saat dari saat terbangun shubuh hingga berangkat tidur di malam hari. Betapa aku sering lupa bahwa Allah telah membesarkan dan menjaga anak-anakku sejak dalam kandungan hingga sekarang mereka menjadi manusia yang bisa kuajak bercerita dan berbagi. Aku mensyukuri yang Tuhan berikan untukku dan anak-anakku tetapi aku layak untuk mendoakan yang terbaik pada sahabatku yang sedang diuji. Kita tak layak untuk memberikan syak wasangka kemungkinan seseorang mendapatkan keturunan yang tak normal karena kesalahan yang pernah dilakukannya. Allah telah mengatur setiap helai daun kering yang gugur apalagi menyangkut mahluk yang ditunjuk sebagai khalifah di muka bumi. Aku hanya berharap sahabatku mampu menjalani ujian yang diberikan kepadanya. Anak spesial tentu untuk orang tua yang spesial, agus mengutip isi salah satu buku. Benar sekali, bahkan setiap kesulitan berupa penderitaan, kepayahan, ketaknormalan bahkan bencana akan selalu menjadi hikmah agung buat yang mau bersabar dan berusaha keluar dari kesulitannya.
kucing
Kemarin sore aku mendapatkan pengalaman yang mengesankan dan membuatku trenyuh. Dari pagi anakku Haikal main di rumah Agus sahabatku dan seperti biasa ia lupa waktu untuk pulang. Sampai jam 4 sore Haikal belum juga pulang dan akhirnya aku bersama si sulung Luthfan menjemput Haikal karena istriku mulai khawatir kalo-kalo Haikal kurang istirahat siang. Sampai di rumah Agus kudapati Haikal sedang bermain game di komputer bersama Kurnia anak sahabatku yang sebaya dengannya. Aku mengajaknya untuk segera pulang sambil beberapa kali menasehatinya untuk tidak sering main game sampai lupa waktu. Sepanjang perjalanan Haikal terdiam dan menunjukan wajah merasa bersalahnya tetapi tiba-tiba dia berlari ke arah got perumahan yang kami lewati. Haikal nampak girang sekaligus iba ketika ia menunjukan tangannya ke arah got. Di bawah got yang mengering ternyata ada seekor anak kucing dekil yang mungkin telah dibuang seseorang atau tersesat dari induknya. Haikal merajuk untuk membawa kucing itu ke rumah tapi aku dan si sulung mengatakan tidak. Kucingnya kotor, janganlah, nanti malah bikin rumah kita kotor, kataku. Haikal bergeming dan diam di tempat sambil tangannya mulai meraih anak kucing itu dan membelainya. Aku mulai gemas karena takut jangan-jangan kucing itu membawa penyakit. Sempat kudengar seorang ibu yang lewat mengatakan kalo kucingnya kotor dan jelek kepada anakku. Kucing kotor begitu buat apa, dik, kata si ibu. Tak berhasil mempan dengan rayuan aku dan si sulung akhirnya aku menyerah dan mengizinkan Haikal menggendong kucing itu ke rumah. Sampai di rumah disambut rasa jijik dan ketakutan seorang pembantuku yang phobia dengan anak kucing. Ih, jijik dek, jangan dibawa, buang ajah, kata pembantuku merayu Haikal. Haikal tak mendengarkan ucapan pembantuku dan tetap membawa masuk kucing ke dalam rumah. Dengan sigap kulihat Haikal menyiapkan makanan untuk anak kucing itu. Tak berapa aku lihat Haikal sudah sibuk memandikan dan mengeringkan tubuh anak kucing itu. Akhirnya si sulung malah ikut membantu mengeringkan bulu anak kucing yang basah. Nampaknya Haikal benar-benar jatuh hati dengan anak kucing itu. Malamnya ia siapkan kain sebagai alas tidur dan minuman untuk si kucing. Beberapa kali ia memeriksa si kucing sebelum ia berangkat tidur. Aku betul-betul terenyuh. Betapa sebenarnya aku yang harus memberi contoh pada putra-putraku tentang kasih dan mengasihi semua mahluk TUhan. Seharusnya kami manusia dewasa yang harus sadar bahwa Tuhan telah memberikan pada kalbu manusia perasaan kasih sayang . Mungkin karena sejarah hidup kita yang kelam atau memang kita tak lagi mau merenungi akan fitrah manusia sebagai mahluk yang harus memelihara alam raya dan segala mahluk diatasnya menjadikan kita lupa untuk peduli pada semua mahluk disekitar kita. Aku jadi ingat kisah ibuku tentang seorang wanita pendosa yang akhirnya masuk dalam sorga karena memberi minum seekor anjing yang kehausan dengan air dari dalam terompahnya. Aku merasa mendapatkan pelajaran kecil dari anakku. Ah, jika kita mau menggunakan semua indra dan nurani kita dan selalu berbesar hati, seluruh yang ada di bumi sesungguhnya adalah guru bagi kita.
PENGINGAT MASA LALU
Banyak hal yang bisa membuat kita teringat seseorang, entah itu suatu tempat, selembar foto, alunan lagu, wangi parfum, seseorang yang mirip, suara yang mirip bahkan makanan. Orang yang kita ingat biasanya seseorang yang begitu dekat dengan kita namun sedang berada jauh atau tak lagi bersama kita. Lagu KLA projek berjudul ‘tentang Kita’ selalu mengingatkanku pada saat-saat pertama masuk SMA sehingga fikiran selalu menerawang pada sahabat-sahabat masa awal SMA. Lagu Madonna La Isla Bonita pasti membuatku ingat Bombom, akung dan agus serta Soni. Lagu Iwan Fals dan Ebiet mengingatkanku pada Bombom, lagu memory nya Ruth Sahanaya mengingatkanku pada akung karena ia bisa menyanyikan lagu tesebut dengan begitu fasih dan Uthe sekali. Lagu Angie nya Mick Jagger tentu saja mampu mengusik rinduku pada Kumis karena betapa ingatanku merekam suara Kumis yang gagal total meniru suara Mick Jagger dan membuatku takut Mick Jagger mempidanakan Kumis yang telah menghancurkan komposisi, irama dan arransemen lagunya. Lagu Peter Cetera seperti even a fool can see, Glory of love sering membuatku sedih abis karena ingat betapa masa-masa awal tugas belajarku di malaysia kulalui dengan senewen dan nangis bombay bermalam-malam. Tapi dari semua irama musik yang pernah kudengar, aku selalu merinding saat mendengar lagu just for you nya Richard Cocciante, lagu yang telah menemani sisi pedih masa kecilku. Aku sering menangis sendiri ditemani lagu ini ketika aku tak mendapatkan jawaban dari setiap gundahku. Bagi orang lain mungkin terdengar aneh jika anak kecil seusiaku saat itu sudah sering melamun dan menikmati kepedihan dan emosi yang belum waktunya sambil diiringi sebuah lagu. Lagu-lagu Ikke Nurjanah membuatku ingat ayah karena aku ingat betapa ayah seorang penikmat lagu melayu dengan idola Ikke Nurjanah. Lagu seroja adalah salah satu lagu kesukaan ayah dan akan bertambah lengkap sukacita ayah jika lagu itu dinyanyikan Ikke Nurjannah. Lagu Bintang-bintang Titi Dj punya arti tersendiri buatku karena aku ingat suatu pagi terbangun untuk pertama kali dalam hidupku ditemani seorang perempuan yang telah menjadi istriku dan sayup-sayup kudengar lagu Bintang-Bintang Titi DJ dari radio milik istriku. Lagu Kiss Me Red inget Dedeh Sopiah teman SMA yang sering menyanyikannya tetapi lebih terdengar seperti pekikan gadis banten daripada sebuah lagu. Lagu-lagu tahun 80an milik Genesis, Alphaville, Michael Jackson, Lionel Richie, Diana Ross, Paul Mc Cartney, Peter Gabriel membuatku ingat loteng rumah dan kakakku A lulum yang bagaimanapun telah ikut andil membuatku menyukai lagu-lagu barat. Salah satu lagu yang sering diputar dengan volume keras di kamar A Lulum di loteng rumah dan membuatku benar-benar serasa jadi anak SMP yang berusaha jadi remaja keren adalah lagu Invisible touch nya Phill Collins. Aku sering membayangkan ada satu panggung dengan Phill Collins menyanyikan lagu itu. Lain lagi kalo denger lagu wajib seperti syukur,gugur bunga dan lagu mengheningkan cipta maka ingatanku pada masa SMA saat ikut paduan suara dan pernah menang disuatu lomba tingkat kabupaten.
Aku nggak tahu kenapa setiap dengar lagu Rayuan Pulau Kelapa hatiku merasa sedih dan teringat masa kecil dulu saat acara TVRI yang cuma the only ditutup dengan lagu ini. Seperti mendengarkan lagu perpisahan dengan dunia khayalan masa kanak kanakku. Kesedihan bertambah karena pada hari minggu siang begitu acara tipi selesai pukul 12 siang aku merasa tak punya apa-apa lagi dan fikiran sering merasa kosong karena serasa dilemparkan kembali pada kenyataan hidup yang berbeda dengan yang kulihat seperti dalam film Little House on The prairie yang membuatku ingin hidup di desa Walnut Groove atau film Rumah Masa Depan yang membuatku ingin menjadi bagian keluarga Gerhana. Lagu Dream membuatku ingat saat putraku Luthfan masih kecil terbata-bata mencoba menyanyikan lagu itu diiringi karaoke dari tv kecil kami. Ah, hidup memang indah. Bahkan seluruh hidup adalah keindahan yang bisa dirangkaikan dan diberi original theme song yang kita inginkan. Lagu sedih atau lagu riang adalah pilihan kita, demikian juga hidup senantiasa menawarkan pilihan pada kita.
Film tahun 80 an selalu mengingatkanku pada sahabat-sahabat masa kecilku, Dudi, Empek dan Yusa. Saat itu kami adalah segerombolan bocah kampung yang mengalami euphoria karena sebuah bioskop berdiri di dekat terminal Leuwiliang. Usai jam sekolah kami akan berangkat bermain dan pasti menyempatkan diri mampir ke Leuwiliang Theatre untuk memastikan apakah ada poster film baru yang dipajang. Melihat poster adalah hiburan tersendiri bagi kami karena dari poster saja kami sudah dapat membuat satu percakapan panjang dibumbui prakiraan kami seperti apa film yang akan diputar walaupun setiap pergantian film baru selalu ada mobil keliling yang menggunakan pengeras suara mengumumkan film apa yang sedang diputar lengkap dengan nama-nama pemainnya ditambah sinopsis singkat tentang film tersebut. Kertas-kertas fotokopi serupa brosur juga disebarkan dari mobil dan kami konyolnya masih saja berebut untuk mendapatkannya. Film Lupus dan Catatan si Boy tentu saja mewarnai generasi kami. Siapa yang nggak kenal Lupus, pemuda gondrong ciptaan Hilman Hariwijaya yang jadi inspirasi kami untuk bergaya dan berdandan a la Lupus. Saat itu semua anak remaja khususnya anak SMA ingin seperti Lupus dengan baju kedodoran, tali tas kepanjangan dan sepatu kets murahan. Film Lupus sebenarnya lebih down to earth tapi entah kenapa saya lebih asyik membayangkan diri saya jadi si Boy yang hidup kayak di sorga karena semua sudah tersedia dan kekayaan yang kayaknya nggak mungkin ada di kota kami. Dua film ini bener-bener bikin masa remaja kami terasa asik walau kemudian aku tahu kalo demam hidup kayak si Boy Cuma khayalan gila karena tidak mengajarkan betapa realita hidup sebenarnya adalah perjuangan keras.