Ada bahagia tak terkira ketika aku mendengar tawa teh lilis yang hampir meledak menceritakan kenikmatannya membaca tulisanku. Aku sendiri hampir tak pernah menyangka jika beberapa helai ingatan tentang masa lalu yang kucoba rajut dalam sebuah tulisan memoar pendek mampu membangkitkan ingatan dan kenangan teh lilis tentang kejadian-kejadian di masa lalu. Aku menulis tentang beberapa pengalaman masa kecilku yang sering berbuat onar dan selalu ingin tahu. Aku juga menceritakan tentang bagaimana aku sebagai anak kecil memandang sekelilingku, termasuk melihat sudara-saudaraku. Kenangan memang seperti sebuah titian emas yang terpatri di permukaan ingatan. Seorang yang sangat mencintai kehidupan pasti sering melihat titian emas yang ada dalam ingatannya. Tak heran jika seseorang yang terkena amnesia atau terkena serangan di otak yang menyebabkan memori ingatannya rusak harus distimulus dengan cerita dan kenangan masa lalunya. Manusia sehatpun sering kali terlupa dengan kenangan manis maupun pahit yang telah dilaluinya. Kenangan pahit sebaiknya memang kita lupakan walaupun saat tertentu layak untuk dikenang kembali agar kita mampu bersyukur atas keadaan yang lebih baik saat ini. Kenangan manis selayaknya sering kita panggil dari memori otak agar kita sadar bahwa betapa hidup kita selama ini telah penuh dengan kenikmatan dan kebahagiaan sehingga kesulitan-kesulitan yang ada selama ini ternyata tak sebanding dengan keindahan dan kebahagiaan yang telah kita rasakan. Dibalik setiap cerita pahit selalu terselip penggalan manis karena Tuhan senantiasa menyelipkan hikmah pada setiap kejadian. Cerita pahit kadang menjadi kenangan yang sangat mengesankan ketika kita mampu melewatinya dengan baik dan ternyata saat ini kita telah mampu melihat kesulitan saat itu sebagai sesuatu yang tak berarti lagi. Aku sering mengingat kembali beberapa kepedihan, kesulitan dan ketakutan di masa lalu yang saat itu sempat membuatku frustasi. Alhamdulillah saat ini aku telah mampu melihatnya sebagai sesuatu yang terjadi hanya karena kebodohanku semata yang tak mampu memahami apa yang terjadi. Setiap kejadian selalu membawa hikmah. Setiap kejadian adalah kenangan. Jadi, tak ada salahnya kita merajut hikmah dari untaian kenangan. Well, my sister already gave me a new spirit to write!
dukacita
Hari ini kantor kami berduka. Seorang sahabat kami tadi malam pukul 2 dinihari meninggal dunia. Usianya baru menginjak 39 tahun dengan empat orang anak yang masih sangat kecil. Kepergiannya sungguh mengagetkan kami karena almarhum selama ini ada dalam keadaan sehat walafiat. Tubuhnya bugar dengan kumis dan keceriaan masa muda yang terpancar di wajahnya. Tuhan memang Maha Perencana dan kita tak pernah dapat membaca kejadian bahkan sedetik ke depan akan bagaimana dan terjadi apa. Almarhum hari sabtu masih ikut dalam kegiatan extra di kantor kami dan keesokan harinya berangkat ke Pakanbaru karena diminta datang oleh kedua orangtuanya. Almarhum berangkat seorang diri dan menurut kabar yang saya dengar setibanya di pakanbaru langsung disuguhi dengan buah durian yang sangat banyak karena di kota Pakanbaru sedang musim durian dan entah bagaimana cerita selanjutnya yang pasti bahwa pada pukul 2 malam almarhum sudah menghembuskan nafas yang terakhir. Saya tertegun ketika pagi ini sampai di mulut pintu kantor dan diberi kabar kematian Andi Sartono oleh staff saya. Beberapa hari yang lalu saya masih sempat melihat dan berbicara dengan almarhum dalam sebuah acara rapat kegiatan kantor dan tak terlihat sedikitpun raut wajahnya sebagai seseorang yang sedang menghadapi maut. Saya tercenung beberapa lama. Selalu ada perasaan ganjil setiap mendengar kabar kematian seseorang yang saya kenal apalagi kematian seseorang yang begitu dekat seperti kematian ayah beberapa waktu dulu. Kabar kematian yang tiba-tiba seperti kematian Andi sartono sungguh menjadi berita teramat mengejutkan bagi sanak keluarga dan orang-orang yang mengenalnya. Teman-teman kantor mengantarkan sang istri almarhum ke pakanbaru tanpa memberitahu bahwa sang suami telah tiada. Aku tak sanggup membayangkan bagaimana kesedihan yang terjadi setibanya sang istri di rumah sang mertua dengan disuguhi pemandangan sang suami terbujur kaku. Kos dibawa heulang, kata umi mengibaratkan kehilangan karena kematian tiba-tiba. Adakah kematian seseorang yang tak menyisakan kesedihan bagi orang-orang yang mencintainya? Kematian yang didahului dengan sakit berkepanjangan tak surut membuat rasa kehilangan bagi orang yang ditinggalkan. Sakit sebentar kemudian meninggal juga demikian. Mati saat bayi, kita akan mengasihani sang ayah dan bundanya. Mati saat kanak-kanak tak kurang pedihnya. Keur lucu-lucuna, karunya. Kematian saat masih remaja juga memilukan karena anak seumur jagung telah berpulang ke rahmatullah. Bapak-bapak? Ah, rasanya kok tetep masih belum layak untuk pergi menghadap Tuhan. Kakek kakek, nenek nenek tetap saja ada kegetiran yang ditinggalkan. Karena semua manusia menanam cerita dalam ingatan manusia di sekelilingnya. Kepergian seorang manusia tetap menjadi kehilangan bagi yang mencintainya kapanpun ia pergi. Semoga Allah menerima amal kebajikan setiap muslim dan memaafkan setiap salahnya.
8 desember 2008
Buat neng kimung
Hari ini marcella zalianti masih berada di tahanan polres jakarta pusat, dengan tuduhan penganiayaan terhadap seorang lelaki bernama agung yang dilakukan ananda mikola di depan matanya.
Hari ini hai raya idul adha, jauh di mekkah sana manusia sedang berlomba untuk menjadi haji yang mabrur di hadapanNya
Hari ini si Giring Nidji baru pulang dari ibadah hajinya, rambutnya tetap kriwil dan siap manggung esok harinya
Hari ini aku dan anak istriku merayakan lebaran idul adha jauh dari kampung halaman dan sanak saudara, tak apa, toh seluruh muka bumi ada dalam genggamanNya dan hatiku selalu bersama mereka
Hari ini Aulia Pohan masih berada di tahanan, demikian juga para pejabat bank indonesia lainnya, bagaimana gundahnya annisa pohan setelah menjenguk ayahnya, terbayang nggak?
Hari ini aku membaca buku maryamah karpov, buku terbaru pelengkap tetralogi laskar pelangi karangan si cakap kata Andrea Hirata
Ah,tiba-tiba hari ini aku ingat adikku, bukan saja karena ia juga suka membaca buku
Bukan karena ia pandai berkata-kata dan sering membuatku tertawa-tawa
Bukan karena anak-anaknya yang elok di pandang mata: Ira,Irgi,Tissa dan Naila
Atau lelaki belahan jiwanya yang selallu berwajah menggoda walau bekerja di Pemda
Bukan,
Aku ingat selalu, 8 Desember adalah hari ulang tahun adikku satu-satunya
Neng kimung, selamat ulang tahun,
Neng kimung akan selalu jadi adik a awang satu-satunya
Selamat berperan dalam dunia yang bukan surga, tapi menjanjikan sejahtera bagi yang penuh syukur padaNya.
Syukuri umur kita hingga detik ini
Sekali lagi selamat ulang tahun, neng kimung
Semoga sejahtera senantiasa bertahta dalam kalbumu
a lulum
Aku selalu ingat uang duaratus ribu rupiah yang diberikan alulum sebagai hadiah kelulusanku masuk di sebuah perguruan tinggi kedinasan favorit. Sebelumnya alulum sudah mengancamku untuk lulus dan ia menjanjikan uang duaratus ribu, sebuah jumlah yang sangat besar untuk saat itu, sebagai iming-iming jika aku berhasil lulus. Aku menerima tantangan alulum dengan tekad dan niat yang sudah bulat bahwa aku harus kuliah di perguruan tinggi itu bagaimanapun caranya. Aku belajar tak kenal waktu, mempersiapkan semua yang terbaik yang bisa kulakukan. Aku mengasingkan diri dari pertemuan rutin dengan teman-teman dan acara keluyuran untuk berkonsentrasi penuh pada hari ujian yang diadakan di istora senayan. Mata pelajaran yang diujikan matematika, bahasa inggris, pengetahuan umum dan logika. Aku merasa sangat siap dengan bahasa inggris dan pengetahuan umum yang kumiliki. Logika juga tak ada kendala karena aku merasa mampu berfikir logis dan bisa membaca rangka setiap permasalahan sesuai usiaku. Ganjalan ada pada maematika karena kemampuan numerikku semakin menurun sejak me masuki usia pubertas. Aku juga tak lagi mudah mengingat rumus-rumus trigonometri dan geometri. Akhirnya untuk matematika aku belajar saja semampuku dan aku banyak menyandalkan rapalan doa saat sholat malamk. Setiap selesai mencoba melatih mengutak atik angka matematika aku tutup dengan doa khusyuk agar aku diberi kemampuan untuk menyelesaikan soal ujian nanti. Taruhanku dengan alulum menang setelah aku melihat dengan mata berkaca-kaca diantara ratusan peserta ujian yang menatap nanar papan pengumuman hitam di depan kampus impianku mencantumkan namaku sebagai salah satu calon mahasiswa yang berhasil lulus ujian. Saat itu aku datang seorang diri karena tak berani mengumumkan kapan hasil ujian diumumkan kepada siapapun termasuk kepada kedua orangtuaku. Aku takut melihat mereka kecewa sehingga hari itu diam-diam aku berangkat ke jakarta untuk menemukan kebahagiaan yang tak terkira seumur hidupku seorang diri. Aku seperti melayang ketika berjalan kaki pulang ke terminal blok M mencari bus yang akan membawaku ke UKI disambung ke Bogor. Tubuhku bergetar hebat dan dadaku membuncah seperti hendak meledak.bus yang penuh sesak tanpa pendingin udara kurasakan bagai pesawat terbang versi terbaru. Sepanjang jagorawi aku tersenyum dan membayangkan diriku tiba-tiba telah menjadi seorang mahasiswa. Mahasiswa ayah! Ayah tak perlu lagi merasa gagal karena salah satu anaknya kini telah bergelar mahasiswa. Ibu tak perlu cemburu melihat anak-anak mahasiswa yang berkali-kali menyambangi rumah kami dalam rangka Kuliah Kerja Nyata. Ayah ibu tak perlu malu. Sampai di rumah tentu saja kebahagiaan mengharu biru ketika kuceritakan apa yang telah kudapatkan. Pertama kali dalam hidupku melihat ayah menangis dengan air mata yang mengalir dari kedua pelupuk matanya berkelok di pipinya yang mulai penuh kerutan. Aku bahkan melihat air mata itu jatuh ke lantai seakan telah membersihkan seluruh beban jiwa raganya. Tangannya bergetar memegang dua lembar pengumuman ucapan selamat datang bagi mahasiswa yang lulus dari kampus impianku dan syarat-syarat yang harus dipenuhi selanjutnya untuk menjadi mahasiswa. Tak pernah kulihat binar mata ibu seperti binarnya hari itu. Ibu berkali-kali mengucapkan kebesaran nama Tuhan diantara tangis bahagianya. Aku menerima langsung duaratus ribu rupiah dari tangan alulum ketika kutunjukan dua lembar kertas bukti aku telah diterima menjadi mahasiswa saat aku tiba di tokonya yang masih ramai. Duaratus ribu rupiah itu aku selalu kenang sebagai uang paling indah yang pernah kuterima dari seorang kakak, seorang kakak bernama alulum.
Alulum adalah inspirasi bagiku. Masa remajanya yang dilalui dengan singkat karena langsung terjun menjadi manusia dewasa dengan mencari nafkah dalam hiruk pikuk pasar membuatku bertekad untuk melunasi hutang kekalahan keluarga kami di dunia formal pendidikan. Tak bisa kupungkiri bahwa keberlangsungan kehidupan ekonomi kelurga kami terbantu sejak alulum mandii secara ekonomi. Aku masih sering mengingatnya dengan mata yang basah ketika kami digiringkan ke Bogor untuk membeli baju lebaran saat ramadhan datang. Alulum mengajak kami, aku, didin dan neng kimung untuk memilih sendiri baju yang ingin kami kenakan untuk lebaran. Kami tak pernah mengalami itu karena ayah dan ibuku begitu ketat dan keras mendidik pola konsumsi kami. Jaminan keberlangsungan hidup hampir tipis sehingga ayah selalu mengasuransikan kami dengan pola hidup sederhana. Alulum telah membuka pintu keyakinan bagiku bahwa hidup tidaklah sekeras dalam dogma ayah. Kami masih bisa menikmati kebahagiaan seperti halnya keluarga lain di sekitar kami dengan cara yang sangat menyenangkan:berbelanja. Kami menyusuri pertokoan di sekitar jalan merdeka hingga ke toko matahari di jalan kapten muslihat. Satu persatu kami memilih dan alulum tak melarangku untuk mendapatkan baju dan celana terbaik di toko shangrila. Kulihat neng kimung dan adidin serupa denganku, bahagia dan bersyukur tak terkira. Hebatnya ayah adalah ketika ia turut berbahagia ketika alulum mau berbuat royal kepada adiknya. Ia tak memakai segala teori hematnya untuk alulum karena ia telah memperhitungkan dengan seksama kemampuan alulum saat itu.
Kenangan lain adalah cara berfikir alulum yang sangat logis telah membuka cakawala berfikirku menjadi lebih baik. Ribuan buku telah kubaca dan ratusan teori pernah kupelajari tapi aku tetap menganggap bahwa aku telah menerima banyak kalimah sakti dari alulum yang membuat cara berfikirku tak lagi sesat. Ucapannya yang lugas mempreteli satu persatu dogma usang yang melekat dalam alam bawah sadarku. Awalnya kalimat alulum selalu menjadi percikan yang membuat api menyala antara dirinya dengan ayah. Berulangkali ayah tak menerima opini alulum yang sering mempertanyakan hal-hal yang menurut kami saat itu sesuatu yang harus diterima apa adanya, taken for granted, seperti ucapannya bahwa ekonomi dan perdagangan saat ini hanyalah bentuk lain pemerasan dan bukanlah seperti apa yang seharusnya dijalankan sesuai apa yang kami imani. Titik. Atau ketika suatu ketika ia menyatakan bahwa rasul tak pernah mengajari umatnya untuk menumpuk-numpuk harta apapun bentuknya. Ayah tentu saja meradang karena ayah adalah seorang lelaki yang selalu merasa bahagia ketika berhasil menambah koleksi luas lahan pertaniannya dan selalu bungah ketika berhasil menambah jaringan orang di desa yang bekerjasama dalam sistem gade menggarap sawahnya. Saat itu aku tak bisa menerima logika yang dipakai alulum sehingga aku ikut dalam jajaran pendapat bersama ayah bahwa apa yang diucapkan alulum adalah kesalahan fatal yang membuat kerancuan. Selesai berargumentasi dan kadang diakhiri dengan pertengkaran hebat ayah dan alulum, umi akan menjadi penengah setia, demikian juga the lilis dan kang uwoh. Berkali-kali pertengkaran yang diakibatkan perbedaan pemahaman ini menjerumuskan situasi keluarga dalam keributan akut. Perang dingin antara alulum dan ayah seperti peperangan antara dua orang manusia yang memiliki sifat dan karakter yang sama. Keras dan tak pernah takut apapun. Aku sering gemas dengan sikap alulum yang berkepala batu dan berani melawan pendapat ayah. Tahun-tahun itu hubungan ayah dan alulum putus sambung seperti layaknya dua orang yang benci tapi saling merindukan.
Bertahun setelah Ternyata apa yang dialami alulum terjadi pula denganku. Hubunganku dengan ayah sempat memburuk mencapai titik nadir saat aku remaja menginjak dewasa.
PERELEK
Salah satu kearifan dan kebersamaan di kampungku yang masih aku kenang adalah ketika bi acah datang setiap hari jumat selesai kami shalat dengan sebuah karung kecil dipangkuannya yang baru setengah terisi berteriak lembut di depan rumah:…Pereleeeeek…..
Ibu akan bergegas ke dapur mengambil segelas beras dari penyimpanan beras dan menuangkannya ke karung yang di pangku bi acah. Kadang saat hari lain aku yang disuruh ibu mengambil beras dan menuangkannya. Bi acah akan tersenyum sambil berbasa-basi panjang. Perelek itu akan dikumpulkan dan menjadi kas kampung kami dan biasanya dipakai untuk kepentingan makan anak-anak yatim di kampung kami. Zaman dulu kebersamaan memang sering diwujudkan dalam bentuk beras. Dulu di kampung nenekku di cipatat setiap ada perhelatan tetangga kampung maka kami akan berkunjung pada saat atau sebelum pesta dengan baskom yang diisi makanan dan diisi beras beberapa liter. Beras adalah simbol persaudaraan dan hubungan antara manusia bagi masyarakat kampung. Tak ada yang lebih istimewa selain beras. Aku jadi ingat dulu ketika menangis meminta dibelikan sebuah mobil-mobilan truk plastik yang dijajakan si mamang ke emak di cipatat. Dengan berat hati emak memenuhi keinginanku dan menukarkan beberapa liter beras menjadi sebuah mobil-mobilan truk plastik warna hijau. Beras adalah alat tukar dan tak mungkin segala kepongahan dan ketamakan terjadi jika manusia menggunakan beras sebagai alat tukar barang. Rasanya tak akan ada perdagangan semu seperti forward trading dan bursa saham jika manusia memakan apa yang mampu ia hasilkan dengan kedua tangannya. Tak akan ada manusia yang ongkang-ongkang hidup dari keringat badag manusia lain. Seharusnya kita belajar banyak dari cara leluhur kita memperlakukan hidup dan alam dunia dengan bijak. Manusia yang paling mulia adalah yang hidup dengan usaha kedua tangannya.
Manusia seharusnya hidup sesuai kemampuannya bekerja dan kemampuannya menerima benda dan makanan bagi tubuhnya. Percuma rasanya berbicara global warming, bahaya makanan olahan, bahaya segala efek industri jika kita tetap ngotot hidup dengan cara yang jauh dari kearifan yang sederhana. Bi acah yang mengumpulkan perelek, orang kampung dengan baskom beras dan pedagang mainan yang menerima bayaran beras emak adalah contoh nyata memelihara dunia. Bukankah perut kita hanya sekepalan tangan dan kulit kita hanya setipis ari sehingga tak elok jika kita selalu bermimpi untuk menelan lautan dan menunggangi gunung yang tinggi.
sebutir nasi
Kelakuan burukku yang sampai saat ini belum berubah adalah menyisakan nasi di piring setiap kali selesai makan. Entah sejak kapan aku punya sifat buruk seperti ini karena aku sendiri sering merasa feel guilty begitu melihat nasi di piringku yang tersisa tetapi esok aku kembali melakukan hal yang sama. Aku bertanya dalam hati berapa karung nasi yang telah aku buang sejak aku mampu makan nasi. Like a father like a son, demikian juga kelakuan anakku yang kedua, makan selalu menyisakan nasi yang tak dihabiskan. Aku sering menegurnya tetapi aku sendiri sering memberikan contoh buruk di depan anakku dengan menyisakan nasi. Kemarin aku melihat sebuah gambar mengerikan seorang anak yang kurus kering tak berdaging dalam ayunan depan rumah gubuknya. Judulnya seorang anak balita korban malnutrisi. Bahasa kasarnya: anak korban kelaparan. Lokasi kejadian bukan di afrika yang jauh walaupun wajah dan tubuh serta kulit anak tersebut seperti bocah pedalaman afrika yang kita lihat pada peristiwa kelaparan di sudan. Kejadiannya di nusa tenggara timur, bagian republik indonesia dimana aku hidup, makan dan membuang nasi sehabis makan. Alangkah banyaknya dosa yang telah kutabung setiap aku selesai mengisi perut.
Dulu waktu masih kecil ibu sering menyuruh kami untuk menghabiskan seluruh nasi didalam piring. Sanguna ceurik mun teu dise’epkeun, begitu ancaman yang ibu berikan. Tahun berganti dan nasihat ibu menghilang seiring dengan berlalunya waktu dan kesombongan masa dewasaku. Aku selalu menyisakan makanan di ujung piring apalagi jika makanan yang disajikan tak aku sukai. Demikian juga saat mendapatkan porsi nasi di warung yang biasa dikunjungi para tukang yang makannya sebakul, aku pasti kerepotan menghabiskan porsi nasi yang disediakan. Dulu aku rajin mengingatkan tukang nasi untuk mengurangi porsi nasi untukku tetapi kadang saat buru-buru atau sedang malas aku diam dan menerima porsi nasi sesuai keinginan si penjual yang menyiapkannya. Aku makin teriris jika melihat jumlah nasi yang terbuang di sebuah acara pesta atau perhelatan. Entah berapa karung beras yang sudah terbuang ditambah jumlah gas, minyak tanah atau kayu bakar untuk memasaknya dan berapa jumlah tenaga manusia yang telah habis untuk mengolahnya hingga menjadi sepiring nasi yang dibuang begitu saja. Melihat wajah bocah saudaraku yang bergantung dengan sisa nafas setengah semakin membuatku harus mengkaji ulang cara hidupku. Kelihatannya sepele tetapi jika ribuan atau jutaan manusia melakukan hal yang sama denganku, berapa ton beras yang terbuang sia-sia setiap hari padahal banyak manusia yang bisa terselamatkan dan berapa karung beras yang seharusnya bisa menjadi kebaikan bagi manusia keseluruhan daripada jadi sampah yang disukai syetan, termasuk kebaikan bagi bocah dalam ayunan di nusa tenggara itu. Petaka selalu bermula dari hal kecil dan jika aku dan anda sekalian tak memperdulikan setiap butir beras yang Tuhan titipkan, rasanya suatu saat kita tak pantas meratap untuk kesulitan yang kita terima. Naudzubillahi mindzalik. Rasanya sangat pantas jika aku berjanji untuk memulai menilai luhur setiap rezeki yang Tuhan berikan dalam setiap bulir beras dengan cara menikmati sesuai porsi yang mampu aku konsumsi, makan pada saat memang lapar dan menyisakan jika berlebih untuk mahluk Tuhan lain seperti bocah dalam ayunan. Mudah-mudahan Allah menuntun kita dalam meniti titian serambut di muka bumi.
Cinema at Layar Tancap
Jika anda pernah mengalami hidup zaman paceklik hiburan di tahun 70an anda pasti tahu bagaimana orang-orang kampung seperti orang kampung leuwiliang menikmati sebuah hiburan dengan segala kekonyolannya. Layar tancap merupakan sebuah hiburan yang bisa merobah waktu belajar dan jam bermain kami. Lokasi yang biasa dipakai untuk memutar film layar tancap adalah lapangan sepakbola leuwiliang, lapangan basket sukamanah dan halaman depan polsek leuwiliang.
Pengumuman kehadiran acara layar tancap disiarkan oleh sebuah mobil pick up kecil yang mengangkut sebuah salon loudspeaker besar yang diikat pada sebuah kursi di belakang mobil. Beberapa hari sebelum hari pertunjukan mobil itu telah wara-wiri mengumumkan kehadiran layar tancap di leuwiliang. Seorang lelaki di sebelah sopir memegang mike yang disambungkan ke speaker dan dengan sangat bangga mengumumkan bahwa akan di adakan hiburan gratis layar tancap menyambut hari kemerdekaan atau hari perayaan nasional lainnya.
Kadang layar tancap diadakan oleh sebuah keluarga yang sedang mengadakan hajatan. Kehadiran layar tancap dianggap sebagai simbol gengsi sebuah keluarga yang tengah berpesta entah itu pesta perkawinan atau pesta sunatan. Biasanya lokasi pemutaran film di depan rumah si pemilik pesta tetapi jika terpaksa sang tuan rumah akan menggeser lokasi layar tancap di tanah yang lebih lapang sekitar rumahnya. Pengumumannya tentu sudah jelas karena tertera di kartu undangan yang disebarkan. Si anu anak si anu kawin dengan si anu anak si anu, mohon doa restu. Hiburan : film. Jika hiburan yang tertera adalah santapan rohani maka kami akan melupakan begitu saja kartu undangan itu. Bagi kami santapan rohani bukanlah hiburan tetapi pekerjaan yang melelahkan dan hanya layak disantap oleh ayah atau kakek kami.
Layar tancap adalah hiburan yang senantiasa disambut degan sukacita oleh kami remaja yang benar-benar haus penyaluran hasrat keingintahuan apalagi ketika bioskop leuwiliang theatre belum berdiri. Aku seperti biasa akan bergabung dengan Dudi, Yusa,dan Edi bahkan kadang bergabung dengan kakakku Didin dan teman-temannya. Kadang kala tersiar kabar burung seperti halnya berita ekonomi yang sering ditiupkan oleh pihak yang tak bertanggung jawab bahwa di lapangan leuwiliang malam ini ada layar tancap. Kami merasa mendapat durian runtuh dan segera menyusun rencana untuk bersiap menuju lapangan bola Leuwiliang. Aku masih ingat ketika itu malam hujan dan ada kabar tiba-tiba dari teman sekampung bahwa ada film layar tancap di lapangan sepakbola leuwiliang malam itu. Demi tuntutan rohani yang haus hiburan akhirnya di tengah gerimis kami berjalan setengah berlari menuju lapangan sepakbola leuwiliang lengkap dengan kardus yang dilipat sebagai alas duduk di lapangan nanti. Baru saja setengah perjalanan kami lalui kerumunan orang nampak berjalan cepat ke arah berlawanan kami sambil berteriak. Euweuh fileeeem, euweuh fileeeeem. Antara kecewa dan malu kami segera berbalik arah dan tanpa diberi komando aku, yusa, dudi dan edi berlari tunggang langgang sambil melemparkan kardus alas duduk untuk menghindari tatapan penghinaan gerombolan yang bisa menertawakan kami. Malunya tak terkira karena bagaimanapun penipuan adalah bentuk lain mempecundangi manusia dan malam itu kami telah sukses menjadi korban.
Pengalaman pertamaku melihat layar tancap ketika aku masih duduk di kelas 3 SD. Bi Een tiba-tiba mengajakku pergi ke lapangan sepak bola untuk menonton dan aku sendiri heran ibu dengan entengnya mengizinkan. Aku tentu saja senang dan ingin tahu seperti apa film layar tancap. Ternyata ketika berangkat kami ditemani mang minta yang aku tahu kemudian menjadi suami Bi Een dan malam itu adalah kencan pertama mereka.
Banyak orang berjualan makanan di sepanjang jalan menuju lapangan dimana layar di tancapkan dan di lapangan manusia membentuk beberapa kerumunan yang terpisah. Beberapa pedagang mie dan bakso memasang tempat duduk di tengah kerumunan penonton sambil menwarkan dagangannya. Kami berdiri di sebuah sudut lapangan dan bi Een dengan manis menawariku untuk memesan mie rebus tapi aku tolak karena aku terlalu antusias dan berkonsentrasi untuk memenuhi rasa ingin tahuku tentang film di layar besar. Tiba-tiba bunyi gelegar keluar dari pengeras suara yang menandakan film segera dimulai. Aku bergidik ketika mendengar bunyi musik film yang diselingi auman srigala setan yang sering kudengar di radio. Aku masih penasaran dan mataku tetap tak lepas memelototi layar putih raksasa di depanku. Aku berjongkok di depan bi Een dan aku benar-benar tak sabar menanti kemunculan gambar di layar besar. Beberapa menit kemudian aku menjerit dan melompat ke arah bi een karena film dibuka langsung dengan adegan pocong yang melompat dari dalam kuburan. Aku peluk bi een, menangis dan tak sanggup lagi melihat layar lebar terkutuk dan menakutkan itu. Bi een menenangkanku dan meyakinkanku bahwa itu hanya sebuah film. Aku tak peduli dan aku merajuk agar kami segera pulang. Akhirnya malam itu aku sukses mengalami trauma seumur hidup karena melihat pocong dalam ukuran yang sama dengan aslinya.
Setelah terbiasa menonton aku mulai menikmati film apapun di layar tancap walau dengan kualitas suara yang buruk tak terperikan. Sound yang sering ngadat, terputus bahkan kita tak mendengar jelas si bintang film sedang mengucapkan kalimat apa. Aku dan mayoritas anak seusiaku tentu saja tergila-gila film perang yang menayangkan peperangan baik itu produksi dalam negeri seperti lebak membara maupun film perang luar negeri. Film Inggris, begitu kami menyebutnya.
Kami berteriak histeris dan bertepuk tangan ketika adegan menegangkan berlangsung seolah kami penonton di pinggir lapangan yang sedang menyaksikan pertandingan kesebelasan kami di depan mata. Kami berteriak ketika jagoan dikejar musuh. Awas di ditukang! begitu teriak beberapa orang seolah ingin memberitahu sang jagoan bahwa musuh mengintai di belakang. Terus! terus! Teriakan kami makin menggila ketika jagoan mulai berhasil mengalahkan dan menumpas musuh. Kami berteriak dan meloncat ketika jagoan dikejar-kejar musuh. Awas, buru, buru lumpatna! Begitu teriak kami memberi dukungan kepada benda mati pembangkit fantasi bernama film. Keganjilan penonton akan berbeda jika layar tancap menayangkan film drama rumah tangga yang menyedihkan seperti seorang suami yang terbujuk perempuan lain dan meninggalkan istri baik dan sholehah di rumah yang menangis tak berkesudahan. Ibu-ibu akan berteriak dan memaki setiap kali si pemeran antagonis wanita perayu suami orang itu muncul. Dasar awewe jalang! Naudzubillah! Begitu teriakan ibu-ibu disekitar kami. Kemudian akan berbalas dengan suara penonton bapak-bapak yang nampaknya menikmati perbuatan si suami yang serong. Enggeus, jadikeun wae, siiplah! Terus wae!….Begitu teriakan mereka ketika melihat si aktor lelaki yang mulai terbius rayuan wanita jahat dan adegan menampilkan setting kamar tidur atau klub malam yang membuat jakun para bapak naik turun. Ibu-ibu tentu saja terus memaki dan mereka menangis setiap kali si istri yang baik dan sholehah muncul di layar dengan wajah sembab karena tangis menunggu sang suami yang tak kunjung pulang. Inget si anu, nasibna sarua! kata seorang ibu yang ngoceh membandingkan nasib si wanita malang di film dengan nasib saudaranya atau tetangganya. Ah, awewe mah emang dinyenyeri wae! si ibu penonton lain menimpali sambil terisak. Begitulah kekonyolan terus berlangsung sampai akhirnya film selesai dan pasti ditutup dengan tepukan para ibu yang menyaksikan happy ending saat si bapak serong itu akhirnya kembali ke pangkuan istri yang baik dan sholehah dan setia menunggu itu.
Ada lagi kekonyolan penonton yang terjadi saat menonton film laga seperti film-film Barry Prima. Penonton riuh rendah mendukung sang jagoan setiap kali sang jagoan beraksi melakukan pembalasan. Semua bertepuk tangan ketika akhirnya Barry Prima berhasil membuat sekumpulan penjahat tak berdaya dan kemudian sekumpulan polisi mengamankan para penjahat dan memuji hasil kerja sang jagoan. Entah kenapa saat itu setiap film laga indonesia selalu ditutup dengan kehadiran sepasukan polisi yang mengamankan penjahat hasil ringkusan sang jagoan. Kehadiran polisi di ujung film selalu menjadi momok bagi para penonton karena itu pertanda film segera berakhir. Para penonton yang selama satu setengah jam sebelumnya hanyut dalam film biasanya memaki-maki begitu para figuran polisi muncul selain karena kesal dengan selesainya filem mereka juga kesal dengan cara kerja polisi di film. Tuh! dasar pulisi, ari jahat geus beunang mah karak datang, pikasebeleun! Ah, umpatan itu rasanya bukan untuk pengalaman dalam sebuah film.
susah makan
Aku sering jengkel dengan kelakuan anak terkecilku yang susah makan. Usianya sudah menginjak delapan tahun tetapi nafsu makannya tak kunjung muncul walau telah disodori segala jenis makanan. Dulu si sulung juga berkelakuan sama walaupun setelah menginjak smp nafsu makannya ternyata berubah dan bisa makan gila-gilaan. Pasal makan ini sering jadi pertengkaran kecil aku dengan istriku saat kulihat istriku susah payah membujuk anak kami makan. Aku sering berang dan akhirnya melarang istriku merayu si kecil hanya untuk urusan makan. Sudah, mau makan atau tidak urusan dia, perutnya sendiri, mau diisi atau tidak dia yang merasakan sendiri, aku nyerocos karena tak sabar melihat si kecil yang seolah melihat urusan makan sebagai pekerjaan berat dan melelahkan. Seingatku waktu aku kecil dulu aku tak pernah merasa sulit makan bahkan cenderung kelaparan.
Aku hanya tahu orang sulit makan saat terbaring sakit dan hanya saat sakit itulah ibu menawari kami ingin makan apa karena di hari sehat seperti biasa kami hanya memakan apa saja yang ibu masak. Neng kimung adikku malah makan semakin banyak saat sakit karena ia takut sekali pergi ke dokter dan menelan obat. Alhasil dia selalu berhasil sembuh sebelum disentuh dokter atau mantri. Kami malah sering merasa kekurangan makanan di rumah karena setiap kali ibu memasak untuk makan siang maka jam empat di meja makan sudah tak tersisa lagi apapun kecuali sambal dan nasi putih. Aku masih ingat ketika pulang sekolah jam 12an di rumah belum ada apapun selain nasi dingin sisa makan pagi. Perut keroncongan memaksa aku untuk berinisiatif membuat apa saja untuk dijadikan lauk pauk makan ngawadang yang artinya makan tak resmi antara pagi dan makan siang. Jika menemukan sebuah ketimun saja sudah bersyukur karena bisa dibuat sambal dengan irisan ketimun. Jika tak ada maka kami hanya makan nasi dengan cabe rawit yang dicampur garam dan air. Rasanya saat itu kami selalu lapar sementara persediaan makanan di rumah hanya ada saat jam makan. Ibu tak pernah membiasakan menyimpan makanan stok yang bisa disantap sekejap saat kami lapar tiba-tiba.
Panganan kecil seperti kue-kue hanya ada saat menjelang lebaran dan beberapa hari sesudahnya. Karena itu lebaran bagi kami seperti memasuki hari bahagia tak ada duanya karena perut bisa diisi segala jenis makanan dari kacang-kacangan sampai daging dan belum habis setelah dua tiga hari. Aku merasakan hal yang sama ketika orangtuaku mengadakan pesta pernikahan teteh lilis. Makanan melimpah ruah dengan buah-buahan yang sampai harus disimpan di atap rumah. Aku mengenangnya sebagai hari hari penuh makanan karena sampai berbulan bulan setelah pesta pernikahan teteh lilis aku masih bisa mengambil kue-kue yang disimpan ibu dalam kaleng blek di bawah tempat tidur. Rasa lapar kami kemudian mulai banyak tertolong setelah teteh lilis berumah tangga dan memiliki rumah sendiri di lebak sirna. Sebagai keluarga muda tentu saja mereka sering membeli panganan kecil sebagai persediaan di rumahnya. Aku dan didin kakakku sampai menjuluki rumah teteh lilis sorga karena di rumahnya kami mengenal roti maksim isi coklat dan kiripik aceh yang ditaburi daun seledri.
Sejak itu kami sering berkunjung ke rumah teteh lilis sepulang sekolah dan biasanya teteh lilis sesekali akan memintaku yang berbelanja dan membeli kue-kue di toko si aci depan polsek leuwiliang. Aku menerima tugas itu dengan penuh sukacita karena selain akan mendapatkan bagian banyak dari kue-kue yang dibeli, si aci pemilik toko selalu menyambutku dengan baik dan pelayannya sering menyuruhku untuk mencoba kue-kue lain yang disusun diatas rak dalam kaleng blek yang dicat biru. Setiap ke toko si aci aku selalu mencoba kue-kue lain demi memenuhi rasa ingin tahuku dan ternyata aku jatuh cinta dengan kue kering kecil dengan bentuk gulungan yang didalamnya berisi abon. Semakin lama aku semakin sering membantu teteh lilis berbelanja ke pasar dan aku semakin senang karena mendapat upah yang jumlahnya dua kali lipat uang jajan yang diberikan ibu setiap pagi. Jika sebelumnya aku hanya jajan makanan seperti buras yang dipotong-potong dan ditaburi sambal encer dan dengan sepotong kerupuk asoy atau bala-bala maka sekarang aku lebih leluasa membeli jajanan yang lebih mahal seperti bakso dan es doger yang dicampur ketan hitam.
Sore hari aku bersekolah di sekolah ibtidaiyyah yang selama bertahun-tahun dihidupkan oleh sosok pak Muhtar yang bersahaja. Kesukaanku sebelum masuk kelas pak Muhtar adalah membeli makanan sejenis simpring tipis bundar warna-warni dan jika dikunyah maka sebagian kue terasa melekat di langit-langit mulut. Cara menjualnya juga mengundang rasa penasaran karena kami diminta menarik pelatuk diatas gerobak dan sebuah bola bundar kecil akan melesat mengikuti alur dan berharap jatuh di angka yang besar sehingga mendapatkan kue simpring yang banyak. Pak Muhtar tak pernah menegur kami jika membawa jajanan atau makanan ke dalam kelas walaupun saat itu jam belajar. Ia tak pernah marah dan sepertinya pak muhtar hanya berkonsentrasi dengan dirinya dan mata pelajaran yang ia berikan. Ah, aku jadi ingat bagaimana ia mengajari kami menghafal bahasa arab dalam bait-bait kamus yang dinyanyikan dengan serempak…
Baitun imah, babun panto
Subakun jandela, hojanatun lamari……
Atau kali lain pak muhtar akan mengajari kami sejenis syair yang merupakan bait pujian kepada Allah dan Rasulnya dalam bahasa sunda dan dinyanyikan dengan irama mendayu dan pikaseudiheun…..
Ari puji sadaya kagungan Allah rahmat salam na teutep di rasulullah……….
Ibu dan ayah tak pernah memberi uang berlebihan dan mengajari kami dengan memberi uang saku yang pas-pasan. Uang lima puluh rupiah harus cukup untuk uang saku harian tiga anak yaitu a lulum yang duduk di kelas 6 sebesar 40 rupiah , a didin di kelas 4 dan aku di kelas 2 masing-masing 15 rupiah. Harga semangkuk bakso adalah 20 rupiah sehingga jika aku ingin makan bakso berarti harus menabung selama dua hari atau menyimpan lima rupiah untuk digabungkan dengan 15 rupiah besok. Sulit sekali untuk menyimpan uang sekecil itu agar terkumpul esok hari karena aku selalu ingin jajan dan di rumah kami tak punya makanan pengganjal perut hingga waktu makan sore tiba. Anak sekarang susah makan karena tak doyan makan, sementara kami dulu susah makan karena keadaan.
Ah, seandainya saja anak anakku tahu betapa banyak yang harus disyukuri saat ini……..
awet sehat
Kemarin malam saya melihat tayangan oprah show yang menampilkan Tina Turner dan Cher sebagai bintang tamu. Bagi yang belum tahu Tina Turner adalah ratu rocker gaek yang pernah manggung di Indonesia sedangkan Cher selain bintang film yang pernah meraih oscar juga seorang penyanyi top yang single nya I believe membuat orang ingin berjingkrak. Satu hal yang membuat saya terkesima beberapa saat di muka tivi adalah ketika oprah menanyakan umur kedua artis kampiun ini. Tina Turner dengan kondisi tubuh yang masih bugar dan suara yang sangat lantang ternyata berumur 68 tahun dan Cher yang masih berlagak bak seorang gadis ternyata berumur 61 tahun. Aje gile, rutuk saya dalam hati. Umur 68 tahun di negeri saya adalah ibu-ibu sepuh yang sudah digerogoti osteoporosis, diabetes, encok, asam urat, darah tinggi atau paling hebat varises akut. Demikian juga 61 tahun yang menurut data beberapa kaum wanita yang saya kenal di lingkungan terdekat saya adalah usia yang sudah dekat dengan kubur karena mulai digerogotii segala macam penyakit dan kepikunan serta latah yang memang turun temurun. Saya tak ingin mencari pembenaran dengan mengatakan bahwa kedua wanita ini adalah artis yang bisa saja menggunakan segala kecanggihan kedokteran untuk menyulap kulit dan tampilannya agar tetap muda. Jika memang mereka menggunakan kecanggihan kedokteran untuk kecantikan permukaan mereka tentunya kesehatan tak dapat dibohongi dengan alat kedokteran. Kesehatan harus diusahakan dalam jangka waktu lama dalam bentuk tabungan pereventif atau pencegahan. Tak salah jika orang-orang hebat memperhatikan kesehatan tubuh mereka sejak dini dengan melakukan segala hal yang menguntungkan tubuh. Olahraga adalah santapan keseharian manusia di negara maju. Kita tahu bahwa tubuh yang banyak bergerak adalah tubuh yang bisa mempertahankan bentuk dan strukturnya lebih lama dibandingkan tubuh yang cenderung diam atau statis. Satu lagi adalah asupan makanan. Jika hanya mengatakan gerak tubuh sebagai pertahanan kesehatan maka rasanya aneh jika tukang kuli yang tiap hari mengeluarkan energi dan keringat tetapi ternyata kesehatan mereka tidak sebaik orang lain yang melakukan latihan otot setiap hari. Tubuh yang terforsir dengan asupan makanan yang pas-pasan tentu saja memberikan hasil yang berbeda dengan tubuh yang terlatih dengan porsi terukur dan asupan kalori yang memadai. Kesimpulannya : olahraga dan makanan yang sehat biar sehat kayak nenek nenek dan kakek kakek bule.
PONSEL OH PONSEL
Ponsel sebagi alat komunikasi yang sudah mewabah ke segala lapisan masyarakat sudah dianggap sebagai benda biasa sebagai alat komunikasi dan tidak lagi digunakan sebagai alat yang mempertontonkan kemewahan. Kemajuan teknologi yang semakin murah dan mudah akhirnya membuat kita dengan sukarela dan sukacita berkenalan dengan teknologi . Ibu saya baru-baru ini telah berani membawa ponsel ketika bepergian sendiri dengan diantar sopir ke rumah saudaranya di pelabuhan ratu. Adik saya neng kimung memaksa agar ibu membawa ponselnya agar mudah dihubungi dan jika terjadi sesuatu bisa menghubungi rumah segera. Neng kimung dengan cekatan mengajarkan kepada ibu semua fungsi tombol pada ponsel. Tombol hijau di sebelah kiri untuk menyalakan dan jika ingin menghubungi nomor rumah tinggal menekan nomor yang telah tersimpan dilayar, tombol merah sebelah kanan untuk memutus percakapan dan mematikan handphone. Ibu nampak senang walau sedikit ragu karena semua barang elektronik dimata ibu yang sudah sepuh nampak sulit dioperasikan. Ibu berangkat ditemani Bi Een yang pengetahuannya tentang apapun sangat minim dan seorang sopir. Saya sempat menghubungi no handphone yang dipegang ibu ketika tahu bahwa ibu sedang pergi ke pelabuhan ratu dan memegang handphone dari neng kimung. Ternyata berkali mencoba menghubungi ibu handphone tak pernah diangkat dan malah kemudian nada panggil terputus. Ketika saya konfirmasikan kepada neng kimung ternyata jawaban neng kimung juga sama.
Esoknya ketika ibu kembali pulang dari pelabuhan ratu neng kimung menanyakan perihal handphone yang tak bisa dihubungi selama ibu di pelabuhan ratu. Iya, kok tiap ibu tekan bunyi teleponnya malah langsung mati, kata ibu. Neng kimung penasaran dan meminta ibu memperlihatkan bagaimana ibu mengangkat handphone. Neng kimung mencoba menghubungi nomor yang dipegang ibu. Begitu handphone berdering ibu dengan sigap mempraktekan apa yang telah dipelajarinya dengan menekan tombol sebelah kanan. Kenapa ibu pencet yang merah? Tanya adikku. Lha! Pokoknya kalo terima telpon kan tekan yang gambar telepon sebelah kiri, jawab ibu. Iya betul, tapi…….walah walah, ternyata ibu memegang handphone terbalik. Layar handphone yang seharusnya di atas jadi di bawah sementara semua tombol ada di atas. Pantes saja.
Kisah lain kelakuan anak buah saya yang sudah paruh baya dan juga buta teknologi. Sebut saja namanya pak yoyo. Suatu sore yang panas dan seisi ruangan kantor sedang suntuk tiba-tiba kami dikejutkan ulah pak yoyo yang sedang mengangkat handphone. Disela percakapan dengan si penelpon pak yoyo berteriak kepada Rini anak magang diruangan kami yang kursinya berhadapan langsung dengan kursi pak yoyo: …mbak Rini coba tolong duduknya pindah dulu, sinyal handphone saya kok nggak jelas dan terputus-putus……
Kontan saja kami tertawa karena omongan pak yoyo yang serius dan tak masuk akal itu mengundang kegelian dan rasa kasihan karena pak yoyo benar-benar tak tahu bagaimana cara bekerjanya sinyal handphone. Masak orang bisa mengganggu lalu lintas sinyal handphone, yang beuneur ajah.
Kelakuan teman saya lain lagi. Ia pernah uring-uringan saat handphonenya tak bisa dipakai karena mati. Ia sudah siap berangkat ke toko handphone dimana dulu ia membelinya. Jangan-jangan ini handphone palsu, ujarnya sewot. Saya tertawa tak terkira ketika ia berteriak bahwa handphonenya tak rusak karena ternyata ia hanya lupa memasang kembali baterenya.
Saya pernah tertinggal handphone PDA touch screen di rumah ibu dan saya menelpon ibu untuk memastikan keberadaan handphone saya. Sebentar kemudian ibu memeriksa lemari yang saya sebutkan sebagai tempat kemungkinan tertinggalnya handphone. Suara ibu kemudian kembali muncul di telepon sambil bertanya: handphone nya ada dua, yang punya kamu yang ditekan-tekan apa yang di colok-colok? Tanya ibu dengan polos. Kontan saya tertawa sambil menjawab bahwa yang dicolok-colok itu kepunyaan saya. Well, bagi ibu ternyata touch screen itu artinya dicolok-colok.
Lain lagi ayah saya yang selalu ingin tahu segala hal kemajuan teknologi. Beliau antusias setiap kali melihat saya berganti handphone dan berkali menyatakan keinginannya untuk memiliki handphone. Buat dibawa kalo maen ke cipatat, begitu jawaban ayah ketika kutanyakan alasannya. Kujelaskan bahwa di kampung terpencil seperti Cipatat tak dapat menerima sinyal komunikasi handphone dan ibu berkali-kali mengingatkan ayah agar jangan banyak gaya. Kayak anak muda aja ingin punya handphone segala, ayah kan nggak suka kemana-mana, begitu gerutu ibu.
Ayah kemudian mengerti tetapi beberapa bulan kemudian ayah kembali merajuk kepadaku ingin memiliki handphone. Si Supardi punya handphone dan ternyata di Cipatat sekarang bisa pake handphone, kata ayah menceritakan seorang keponakannya yang berhandphone dan kerjanya menjaga sawah ayah di kampung. Sinyal mungkin sudah sampai di cipatat dengan dibangunnya menara komunikasi milik si operator. Ayah semakin antusias dan bertanya bagaimana cara memiliki handphone. Kukatakan bahwa tinggal beli handphone dan beli voucher atau berlangganan, pra bayar atau pasca bayar. Berapa sebulan kamu bayar untuk handphone? Tanya ayah. Satu juta sampai dua juta, kataku jujur tanpa bermaksud pamer atau menakut-nakuti ayah. Ayah tiba-tiba menunjukan wajah bencinya. Berarti si Supardi gelo! cuma tukang bengkel tapi demi gengsi mau bayar handphone berjuta-juta tiap bulan. Aku diam dan belum sempat menjelaskan ketika aku lihat ibu memberi isyarat agar aku diam. Aing mah ke heula kudu miceunan duit kana henpon, mending nitah supir atawa budak ojeg talatah kamana mana ge, dua rebu perak! kata ayah bersungut bangga. Akhirnya aku tak mengoreksi kesimpulan ayah dan keinginan ayah memiliki handphone lenyap seketika dengan kesimpulanya yang salah.