Cinema at Layar Tancap

Jika anda pernah mengalami hidup zaman paceklik hiburan di tahun 70an anda pasti tahu bagaimana orang-orang kampung seperti orang kampung leuwiliang menikmati sebuah hiburan dengan segala kekonyolannya. Layar tancap merupakan sebuah hiburan yang bisa merobah waktu belajar dan jam bermain kami. Lokasi yang biasa dipakai untuk memutar film layar tancap adalah lapangan sepakbola leuwiliang, lapangan basket sukamanah dan halaman depan polsek leuwiliang.

 Pengumuman kehadiran acara layar tancap disiarkan oleh sebuah mobil pick up kecil yang mengangkut sebuah salon loudspeaker besar yang diikat pada sebuah kursi di belakang mobil. Beberapa hari sebelum hari pertunjukan mobil itu telah wara-wiri mengumumkan kehadiran layar tancap di leuwiliang. Seorang lelaki di sebelah sopir memegang mike yang disambungkan ke speaker dan dengan sangat bangga mengumumkan bahwa akan di adakan hiburan gratis layar tancap menyambut hari kemerdekaan atau hari perayaan nasional lainnya.

Kadang layar tancap diadakan oleh sebuah keluarga yang sedang mengadakan hajatan. Kehadiran layar tancap dianggap sebagai simbol gengsi sebuah keluarga yang tengah berpesta entah itu pesta perkawinan atau pesta sunatan. Biasanya lokasi pemutaran film di depan rumah si pemilik pesta tetapi jika terpaksa sang tuan rumah akan menggeser lokasi layar tancap di tanah yang lebih lapang sekitar rumahnya. Pengumumannya tentu sudah jelas karena tertera di kartu undangan yang disebarkan. Si anu anak si anu kawin dengan si anu anak si anu, mohon doa restu. Hiburan : film. Jika hiburan yang tertera adalah santapan rohani maka kami akan melupakan begitu saja kartu undangan itu. Bagi kami santapan rohani bukanlah hiburan tetapi pekerjaan yang melelahkan dan hanya layak disantap oleh ayah atau kakek kami.

Layar tancap adalah hiburan yang senantiasa disambut degan sukacita oleh kami remaja yang benar-benar haus penyaluran hasrat keingintahuan apalagi ketika bioskop leuwiliang theatre belum berdiri. Aku seperti biasa akan bergabung dengan Dudi, Yusa,dan Edi bahkan kadang bergabung dengan kakakku Didin dan teman-temannya. Kadang kala tersiar kabar burung seperti halnya berita ekonomi yang sering ditiupkan oleh pihak yang tak bertanggung jawab bahwa di lapangan leuwiliang malam ini ada layar tancap. Kami merasa mendapat durian runtuh dan segera menyusun rencana untuk bersiap menuju lapangan bola Leuwiliang. Aku masih ingat ketika itu malam hujan dan ada kabar tiba-tiba dari teman sekampung bahwa ada film layar tancap di lapangan sepakbola leuwiliang malam itu. Demi tuntutan rohani yang haus hiburan akhirnya di tengah gerimis kami berjalan setengah berlari menuju lapangan sepakbola leuwiliang lengkap dengan kardus yang dilipat sebagai alas duduk di lapangan nanti. Baru saja setengah perjalanan kami lalui kerumunan orang nampak berjalan cepat ke arah berlawanan kami sambil berteriak. Euweuh fileeeem, euweuh fileeeeem. Antara kecewa dan malu kami segera berbalik arah dan tanpa diberi komando aku, yusa, dudi dan edi berlari tunggang langgang sambil melemparkan kardus alas duduk untuk menghindari tatapan penghinaan gerombolan yang bisa menertawakan kami. Malunya tak terkira karena bagaimanapun penipuan adalah bentuk lain mempecundangi manusia dan malam itu kami telah sukses menjadi korban.

Pengalaman pertamaku melihat layar tancap ketika aku masih duduk di kelas 3 SD. Bi Een tiba-tiba mengajakku pergi ke lapangan sepak bola untuk menonton dan aku sendiri heran ibu dengan entengnya mengizinkan. Aku tentu saja senang dan ingin tahu seperti apa film layar tancap. Ternyata ketika berangkat kami ditemani mang minta yang aku tahu kemudian menjadi suami Bi Een dan malam itu adalah kencan pertama mereka.

Banyak orang berjualan makanan di sepanjang jalan menuju lapangan dimana layar di tancapkan dan di lapangan manusia membentuk beberapa kerumunan yang terpisah. Beberapa pedagang mie dan bakso memasang tempat duduk di tengah kerumunan penonton sambil menwarkan dagangannya. Kami berdiri di sebuah sudut lapangan dan bi Een dengan manis menawariku untuk memesan mie rebus tapi aku tolak karena aku terlalu antusias dan berkonsentrasi untuk memenuhi rasa ingin tahuku tentang film di layar besar. Tiba-tiba bunyi gelegar keluar dari pengeras suara yang menandakan film segera dimulai. Aku bergidik ketika mendengar bunyi musik film yang diselingi auman srigala setan yang sering kudengar di radio. Aku masih penasaran dan mataku tetap tak lepas memelototi layar putih raksasa di depanku. Aku berjongkok di depan bi Een dan aku benar-benar tak sabar menanti kemunculan gambar di layar besar. Beberapa menit kemudian aku menjerit dan melompat ke arah bi een karena film dibuka langsung dengan adegan pocong yang melompat dari dalam kuburan. Aku peluk bi een, menangis dan tak sanggup lagi melihat layar lebar terkutuk dan menakutkan itu. Bi een menenangkanku dan meyakinkanku bahwa itu hanya sebuah film. Aku tak peduli dan aku merajuk  agar kami segera pulang. Akhirnya malam itu aku sukses mengalami trauma seumur hidup karena melihat pocong dalam ukuran yang sama dengan aslinya.

 

Setelah terbiasa menonton aku mulai menikmati film apapun di layar tancap walau dengan kualitas suara yang buruk tak terperikan. Sound yang sering ngadat, terputus bahkan kita tak mendengar jelas si bintang film sedang mengucapkan kalimat apa. Aku dan mayoritas anak seusiaku tentu saja tergila-gila film perang yang menayangkan peperangan baik itu produksi dalam negeri seperti lebak membara maupun film perang luar negeri. Film Inggris, begitu kami menyebutnya.

Kami berteriak histeris dan bertepuk tangan ketika adegan menegangkan berlangsung seolah kami penonton di pinggir lapangan yang sedang menyaksikan pertandingan kesebelasan kami di depan mata. Kami berteriak ketika jagoan dikejar musuh. Awas di ditukang!  begitu teriak beberapa orang seolah ingin memberitahu sang jagoan bahwa musuh mengintai di belakang. Terus! terus! Teriakan kami makin menggila ketika jagoan mulai berhasil mengalahkan dan menumpas musuh. Kami berteriak dan meloncat ketika jagoan dikejar-kejar musuh. Awas, buru, buru lumpatna!  Begitu teriak kami memberi dukungan kepada benda mati pembangkit fantasi bernama film. Keganjilan penonton akan berbeda jika layar tancap menayangkan film drama rumah tangga yang menyedihkan seperti seorang suami yang terbujuk perempuan lain dan meninggalkan istri baik dan sholehah di rumah yang menangis tak berkesudahan. Ibu-ibu akan berteriak dan memaki setiap kali si pemeran antagonis wanita perayu suami orang itu muncul. Dasar awewe jalang! Naudzubillah! Begitu teriakan ibu-ibu disekitar kami. Kemudian akan berbalas dengan suara penonton bapak-bapak yang nampaknya menikmati perbuatan si suami yang serong. Enggeus, jadikeun wae, siiplah! Terus wae!….Begitu teriakan mereka ketika melihat si aktor lelaki yang mulai terbius rayuan wanita jahat dan adegan menampilkan setting kamar tidur atau klub malam yang membuat jakun para bapak naik turun. Ibu-ibu tentu saja terus memaki dan mereka menangis setiap kali si istri yang baik dan sholehah muncul di layar dengan wajah sembab karena tangis menunggu sang suami yang tak kunjung pulang. Inget si anu, nasibna sarua! kata seorang ibu yang ngoceh membandingkan nasib si wanita malang di film dengan nasib saudaranya atau tetangganya. Ah, awewe mah emang dinyenyeri wae! si ibu penonton lain menimpali sambil terisak. Begitulah kekonyolan terus berlangsung sampai akhirnya film selesai dan pasti ditutup dengan tepukan para ibu yang menyaksikan happy ending saat si bapak serong itu akhirnya kembali ke pangkuan istri yang baik dan sholehah dan setia menunggu itu.

Ada lagi kekonyolan penonton yang terjadi saat menonton film laga seperti film-film Barry Prima. Penonton riuh rendah mendukung sang jagoan setiap kali sang jagoan beraksi melakukan pembalasan. Semua bertepuk tangan ketika akhirnya Barry Prima berhasil membuat sekumpulan penjahat tak berdaya dan kemudian sekumpulan polisi mengamankan para penjahat dan memuji hasil kerja sang jagoan. Entah kenapa saat itu setiap film laga indonesia selalu ditutup dengan kehadiran sepasukan polisi yang mengamankan penjahat hasil ringkusan sang jagoan. Kehadiran polisi di ujung film  selalu menjadi momok bagi para penonton karena itu pertanda film segera berakhir. Para penonton yang selama satu setengah jam sebelumnya hanyut dalam film biasanya memaki-maki begitu para figuran polisi muncul selain karena kesal dengan selesainya filem mereka juga kesal dengan cara kerja polisi di film. Tuh! dasar pulisi, ari jahat geus beunang mah karak datang, pikasebeleun! Ah, umpatan itu rasanya bukan untuk pengalaman dalam sebuah film.

 

Published in: on December 1, 2008 at 5:40 am Leave a Comment

susah makan

Aku sering jengkel dengan kelakuan anak terkecilku yang susah makan. Usianya sudah menginjak delapan tahun tetapi nafsu makannya tak kunjung muncul walau telah disodori segala jenis makanan. Dulu si sulung juga berkelakuan sama walaupun setelah menginjak smp nafsu makannya ternyata berubah dan bisa makan gila-gilaan. Pasal makan ini sering jadi pertengkaran kecil aku dengan istriku saat kulihat istriku susah payah membujuk anak kami makan. Aku sering berang dan akhirnya  melarang istriku merayu si kecil hanya untuk urusan makan. Sudah, mau makan atau tidak urusan dia, perutnya sendiri, mau diisi atau tidak dia yang merasakan sendiri, aku nyerocos karena tak sabar melihat si kecil yang seolah melihat urusan makan sebagai pekerjaan berat dan melelahkan. Seingatku waktu aku kecil dulu aku tak pernah merasa sulit makan bahkan cenderung kelaparan.

Aku hanya tahu orang sulit makan saat terbaring sakit  dan hanya saat sakit itulah ibu menawari kami ingin makan apa karena di hari sehat seperti biasa kami hanya memakan apa saja yang ibu masak.  Neng kimung adikku malah makan semakin banyak saat sakit karena ia takut sekali pergi ke dokter dan menelan obat. Alhasil dia selalu berhasil sembuh sebelum disentuh dokter atau mantri.  Kami malah sering merasa kekurangan makanan di rumah karena setiap kali ibu memasak untuk makan siang maka jam empat di meja makan sudah tak tersisa lagi apapun kecuali sambal dan nasi putih. Aku masih ingat ketika pulang sekolah jam 12an di rumah belum ada apapun selain nasi dingin sisa makan pagi. Perut keroncongan memaksa aku untuk berinisiatif membuat apa saja untuk dijadikan lauk pauk makan ngawadang yang artinya makan tak resmi antara pagi dan makan siang. Jika menemukan sebuah ketimun saja sudah bersyukur karena bisa dibuat sambal dengan irisan ketimun. Jika tak ada maka kami hanya makan nasi dengan cabe rawit yang dicampur garam dan air. Rasanya saat itu kami selalu lapar sementara persediaan makanan di rumah hanya ada saat jam makan. Ibu tak pernah membiasakan menyimpan makanan stok yang bisa disantap sekejap saat kami lapar tiba-tiba.

Panganan kecil seperti kue-kue hanya ada saat menjelang lebaran dan beberapa hari sesudahnya. Karena itu lebaran bagi kami seperti memasuki hari bahagia tak ada duanya karena perut bisa diisi segala jenis makanan dari kacang-kacangan sampai daging dan belum habis setelah dua tiga hari. Aku merasakan hal yang sama ketika orangtuaku mengadakan pesta pernikahan teteh lilis. Makanan melimpah ruah dengan buah-buahan yang sampai harus disimpan di atap rumah. Aku mengenangnya sebagai hari hari penuh makanan karena sampai berbulan bulan setelah pesta pernikahan teteh lilis aku masih bisa mengambil kue-kue yang disimpan ibu dalam kaleng blek di bawah tempat tidur. Rasa lapar kami kemudian mulai banyak tertolong setelah teteh lilis berumah tangga dan memiliki rumah sendiri di lebak sirna. Sebagai keluarga muda tentu saja mereka sering membeli panganan kecil sebagai persediaan di rumahnya. Aku dan didin kakakku sampai menjuluki rumah teteh lilis sorga karena di rumahnya kami mengenal roti maksim isi coklat dan kiripik aceh yang ditaburi daun seledri.

Sejak itu kami sering berkunjung ke rumah teteh lilis sepulang sekolah dan biasanya teteh lilis sesekali akan memintaku yang berbelanja dan membeli kue-kue di toko si aci depan polsek leuwiliang. Aku menerima tugas itu dengan penuh sukacita karena selain akan mendapatkan bagian banyak dari kue-kue yang dibeli, si aci pemilik toko selalu menyambutku dengan baik dan pelayannya sering menyuruhku untuk mencoba kue-kue lain yang disusun diatas rak dalam kaleng blek yang dicat biru. Setiap ke toko si aci aku selalu mencoba kue-kue lain demi memenuhi rasa ingin tahuku dan ternyata aku jatuh cinta dengan kue kering kecil dengan bentuk gulungan yang didalamnya berisi abon. Semakin lama aku semakin sering membantu teteh lilis berbelanja ke pasar dan aku semakin senang karena mendapat upah yang jumlahnya dua kali lipat uang jajan yang diberikan ibu setiap pagi. Jika sebelumnya aku hanya jajan makanan seperti buras yang dipotong-potong dan ditaburi sambal encer dan dengan sepotong kerupuk asoy atau bala-bala maka  sekarang aku lebih leluasa membeli jajanan yang lebih mahal seperti bakso dan es doger yang dicampur ketan hitam.

Sore hari aku bersekolah di sekolah ibtidaiyyah yang selama bertahun-tahun dihidupkan oleh sosok pak Muhtar yang bersahaja. Kesukaanku sebelum masuk kelas pak Muhtar adalah membeli  makanan sejenis simpring tipis bundar warna-warni dan jika dikunyah maka sebagian kue terasa melekat di langit-langit mulut. Cara menjualnya juga mengundang rasa penasaran karena kami diminta menarik pelatuk diatas gerobak dan sebuah bola bundar kecil akan melesat mengikuti alur dan berharap jatuh di angka yang besar sehingga mendapatkan kue simpring yang banyak. Pak Muhtar tak pernah menegur kami jika membawa jajanan atau makanan ke dalam kelas walaupun saat itu jam belajar. Ia tak pernah marah dan sepertinya pak muhtar hanya berkonsentrasi dengan dirinya dan mata pelajaran yang ia berikan. Ah, aku jadi ingat bagaimana ia mengajari kami menghafal bahasa arab dalam bait-bait kamus yang dinyanyikan dengan serempak…

Baitun imah, babun panto

Subakun jandela, hojanatun lamari……

 

Atau kali lain pak muhtar akan mengajari kami sejenis syair yang  merupakan bait pujian kepada Allah dan Rasulnya dalam bahasa sunda dan dinyanyikan dengan irama mendayu dan pikaseudiheun…..

Ari puji sadaya kagungan Allah rahmat salam na teutep di rasulullah……….

Ibu dan ayah tak pernah memberi uang berlebihan dan mengajari kami dengan memberi uang saku yang pas-pasan. Uang lima puluh rupiah harus cukup untuk uang saku harian  tiga anak yaitu a lulum yang duduk di kelas 6 sebesar 40 rupiah , a didin di kelas  4 dan aku di kelas 2 masing-masing 15 rupiah. Harga semangkuk bakso adalah 20 rupiah sehingga jika aku ingin makan bakso berarti harus menabung selama dua hari atau menyimpan lima rupiah untuk digabungkan dengan 15 rupiah besok. Sulit sekali untuk menyimpan uang sekecil itu agar terkumpul esok hari karena aku selalu ingin jajan dan di rumah kami tak punya makanan pengganjal perut hingga waktu makan sore tiba. Anak sekarang susah makan karena tak doyan makan, sementara kami dulu susah makan karena keadaan.

Ah, seandainya saja anak anakku tahu betapa banyak yang harus disyukuri saat ini……..

 

Published in: on at 3:17 am Leave a Comment

awet sehat

Kemarin malam saya melihat tayangan oprah show yang menampilkan Tina Turner dan Cher sebagai bintang tamu. Bagi yang belum tahu Tina Turner adalah ratu rocker gaek yang pernah manggung di Indonesia sedangkan Cher selain bintang film yang pernah meraih oscar juga seorang penyanyi top yang single nya I believe membuat orang ingin berjingkrak. Satu hal yang membuat saya terkesima beberapa saat di muka tivi adalah ketika oprah menanyakan umur kedua artis kampiun ini. Tina Turner dengan kondisi tubuh yang masih bugar dan suara yang sangat lantang ternyata berumur 68 tahun dan Cher yang masih berlagak bak seorang gadis ternyata berumur 61 tahun. Aje gile, rutuk saya dalam hati. Umur 68 tahun di negeri saya adalah ibu-ibu sepuh yang sudah digerogoti osteoporosis, diabetes, encok, asam urat, darah tinggi atau paling hebat varises akut. Demikian juga 61 tahun yang menurut data beberapa kaum wanita yang saya kenal di lingkungan terdekat saya adalah usia yang sudah dekat dengan kubur karena mulai digerogotii segala macam penyakit dan kepikunan serta latah yang memang turun temurun. Saya tak ingin mencari pembenaran dengan mengatakan bahwa kedua wanita ini adalah artis yang bisa saja menggunakan segala kecanggihan kedokteran untuk menyulap kulit dan tampilannya agar tetap muda. Jika memang mereka menggunakan kecanggihan kedokteran untuk kecantikan permukaan mereka tentunya kesehatan tak dapat dibohongi dengan alat kedokteran. Kesehatan harus diusahakan dalam jangka waktu lama dalam bentuk tabungan pereventif atau pencegahan. Tak salah jika orang-orang hebat memperhatikan kesehatan tubuh mereka sejak dini dengan melakukan segala hal yang menguntungkan tubuh. Olahraga adalah santapan keseharian manusia di negara maju. Kita tahu bahwa tubuh yang banyak bergerak adalah tubuh yang bisa mempertahankan bentuk dan strukturnya lebih lama dibandingkan tubuh yang cenderung diam atau statis. Satu lagi adalah asupan makanan. Jika hanya mengatakan gerak tubuh sebagai pertahanan kesehatan maka rasanya aneh jika tukang kuli yang tiap hari mengeluarkan energi dan keringat tetapi ternyata kesehatan mereka tidak sebaik orang lain yang melakukan latihan otot setiap hari. Tubuh yang terforsir dengan asupan makanan yang pas-pasan tentu saja memberikan hasil yang berbeda dengan tubuh yang terlatih dengan porsi terukur dan asupan kalori yang memadai.  Kesimpulannya : olahraga dan makanan yang sehat biar sehat kayak nenek nenek dan kakek kakek bule.

Published in: on at 1:58 am Leave a Comment

PONSEL OH PONSEL

Ponsel sebagi alat komunikasi yang sudah mewabah ke segala lapisan masyarakat sudah dianggap sebagai benda biasa sebagai alat komunikasi dan tidak lagi digunakan sebagai  alat yang  mempertontonkan kemewahan. Kemajuan teknologi  yang semakin murah dan mudah akhirnya membuat kita dengan sukarela dan sukacita berkenalan dengan teknologi . Ibu saya baru-baru ini telah berani membawa ponsel ketika bepergian sendiri dengan diantar sopir ke rumah saudaranya di pelabuhan ratu. Adik saya neng kimung memaksa agar ibu membawa ponselnya agar mudah dihubungi dan jika terjadi sesuatu bisa menghubungi rumah segera. Neng kimung dengan cekatan mengajarkan kepada ibu semua fungsi tombol pada ponsel. Tombol hijau di sebelah kiri untuk menyalakan dan jika ingin menghubungi nomor rumah tinggal menekan nomor yang telah tersimpan dilayar, tombol merah sebelah kanan untuk  memutus percakapan dan mematikan handphone. Ibu nampak senang walau sedikit ragu karena semua barang elektronik  dimata ibu yang sudah sepuh nampak sulit dioperasikan. Ibu berangkat ditemani Bi Een yang pengetahuannya tentang apapun sangat minim dan seorang sopir. Saya sempat  menghubungi no handphone yang dipegang ibu ketika tahu bahwa ibu sedang pergi ke pelabuhan ratu dan memegang handphone dari neng kimung. Ternyata  berkali mencoba menghubungi ibu handphone tak pernah diangkat dan malah kemudian nada panggil terputus. Ketika saya konfirmasikan kepada neng kimung ternyata jawaban neng kimung juga sama.

 Esoknya ketika ibu kembali pulang  dari pelabuhan ratu neng kimung menanyakan perihal handphone yang tak bisa dihubungi selama ibu di pelabuhan ratu. Iya, kok tiap ibu tekan bunyi teleponnya malah langsung mati, kata ibu. Neng kimung penasaran dan meminta ibu memperlihatkan bagaimana ibu mengangkat handphone. Neng kimung mencoba menghubungi nomor yang dipegang ibu. Begitu handphone berdering ibu dengan sigap mempraktekan apa yang telah dipelajarinya dengan menekan tombol sebelah kanan. Kenapa ibu pencet yang merah? Tanya adikku. Lha! Pokoknya kalo terima telpon kan tekan yang gambar telepon sebelah kiri, jawab ibu. Iya betul, tapi…….walah walah, ternyata ibu memegang handphone terbalik. Layar handphone yang seharusnya di atas jadi di bawah sementara semua tombol  ada di atas. Pantes saja.

Kisah lain kelakuan anak buah saya yang sudah paruh baya dan juga buta teknologi. Sebut saja namanya pak yoyo. Suatu sore yang panas dan seisi  ruangan kantor sedang suntuk tiba-tiba kami dikejutkan ulah pak yoyo yang sedang mengangkat handphone. Disela percakapan dengan si penelpon pak yoyo  berteriak kepada Rini anak magang diruangan kami yang kursinya berhadapan langsung dengan kursi pak yoyo: …mbak Rini coba tolong duduknya pindah dulu, sinyal handphone saya kok nggak jelas dan terputus-putus……

Kontan saja kami tertawa karena omongan pak yoyo yang serius dan tak masuk akal itu mengundang kegelian dan rasa kasihan karena pak yoyo benar-benar tak tahu bagaimana cara bekerjanya sinyal handphone. Masak orang bisa mengganggu lalu lintas sinyal handphone, yang beuneur ajah.

Kelakuan teman saya lain lagi. Ia pernah uring-uringan saat handphonenya tak bisa dipakai karena mati. Ia sudah siap berangkat ke toko handphone dimana dulu ia membelinya. Jangan-jangan ini handphone palsu, ujarnya sewot. Saya tertawa tak terkira ketika ia berteriak bahwa handphonenya tak rusak karena ternyata ia hanya lupa memasang kembali baterenya.

Saya pernah tertinggal handphone PDA touch screen di rumah ibu dan saya menelpon ibu untuk memastikan keberadaan handphone saya. Sebentar kemudian ibu memeriksa lemari yang saya sebutkan sebagai tempat kemungkinan tertinggalnya handphone. Suara ibu kemudian kembali muncul di telepon sambil bertanya: handphone nya ada dua, yang punya kamu yang ditekan-tekan apa yang di colok-colok? Tanya ibu dengan polos. Kontan saya tertawa sambil menjawab bahwa yang dicolok-colok itu kepunyaan saya. Well, bagi ibu ternyata touch screen itu artinya dicolok-colok.

Lain lagi ayah saya yang selalu ingin tahu segala hal kemajuan teknologi. Beliau antusias setiap kali melihat saya berganti handphone dan berkali menyatakan keinginannya untuk memiliki handphone. Buat dibawa kalo maen ke cipatat, begitu jawaban ayah ketika kutanyakan alasannya. Kujelaskan bahwa di kampung terpencil seperti Cipatat tak dapat menerima sinyal komunikasi handphone dan ibu berkali-kali mengingatkan ayah agar jangan banyak gaya. Kayak anak muda aja ingin punya handphone segala, ayah kan nggak suka kemana-mana, begitu gerutu ibu.

Ayah kemudian mengerti tetapi beberapa bulan kemudian ayah kembali merajuk kepadaku ingin memiliki handphone. Si Supardi punya handphone dan ternyata di Cipatat sekarang bisa pake handphone, kata ayah menceritakan seorang keponakannya yang berhandphone dan kerjanya menjaga sawah ayah di kampung. Sinyal mungkin sudah sampai di cipatat dengan dibangunnya menara komunikasi milik si operator. Ayah semakin antusias dan bertanya bagaimana cara memiliki handphone. Kukatakan bahwa tinggal beli handphone dan beli voucher atau berlangganan, pra bayar atau pasca bayar. Berapa sebulan kamu bayar untuk handphone? Tanya ayah. Satu juta sampai dua juta, kataku jujur tanpa bermaksud pamer atau menakut-nakuti ayah. Ayah tiba-tiba menunjukan wajah bencinya. Berarti si Supardi gelo! cuma tukang bengkel  tapi demi gengsi mau bayar handphone berjuta-juta tiap bulan. Aku diam dan belum sempat menjelaskan ketika aku lihat ibu memberi isyarat agar aku diam.  Aing mah ke heula kudu miceunan duit kana henpon, mending nitah supir atawa budak ojeg talatah kamana mana ge, dua rebu perak! kata ayah bersungut bangga. Akhirnya aku tak mengoreksi kesimpulan ayah  dan keinginan ayah memiliki handphone lenyap seketika dengan kesimpulanya yang salah.

 

Published in: on at 1:55 am Leave a Comment

MY FAVE MENU DI LWLIANG

Dari kecil saya penggila makanan walaupun tubuh saya tak pernah menunjukan bahwa saya pemburu makanan lezat. Saya masih mengenang beberapa warung yang sering membuat lidah saya nyut-nyut sampai sekarang saat kangen ingin menyantapnya. Nah beberapa tempat makan di leuwiliang ini sempat membuat lidah di masa kecil saya bergoyang saat mengunyahnya :

1.     Pak Sarta

Jika ada orang leuwiliang angkatan tahun 80 sampai 90 an yang tak mengenal pak Sarta berarti dia seorang pendatang atau memang tak bergaul di sekitar kota kecamatan leuwiliang. Pak Sarta adalah nama pemilik warung yang terkenal walaupun nama warung sebenarnya kalo tidak salah adalah Sindang Reret. Maskananya ajib abis dari mulai mie goreng, mie rebus sampai nasi goreng. Varian mie rebus nya ada yang pakai baso dan telor. Favorit saya mie rebus baso nya. Dihidangkan panas dan dibuat langsung oleh tangan cekatan pak Sarta yang selalu bersenda gurau dengan para pembelinya. Tubuh pak Sarta yang tambun meyakinkan saya bahwa memakan mie buatannya akan membuat tubuh segempal pak Sarta. Air liur saya selalu meleleh saat siap menyantap hidangan mie rebus pak Sarta. Paling sempurna jika ditambah dengan kerupuk kampung warna putih. Jangan lupa tambahkan saos dan kecap yang banyak. Hmmm.. mie rebus pak sarta tiada duanya.

 

2.     Mie Ipong

Selain pak Sarta yang warungnya lebih permanen dan tertata, ada satu warung kaki lima di depan toko Mas Setiawan yang hanya buka di malam hari dengan mengandalkan sebuah meja tetapi memiliki penggemar fanatik yang sangat banyak. Nama Ipong sebenarnya hanya panggilan anak-anak muda yang jika dibalik berarti ngopi karena mang Ipong menyediakan minuman kopi panas dan letaknya saat itu strategis karena dekat pasar leuwiliang dan kantor polisi sehingga menjadi tempat nongkrong anak-anak muda leuwiliang. Jangan datang ke tempat Ipong saat sangat lapar karena mang Ipong selama bertahun-tahun hanya mengandalkan sebuah kompor minyak tanah tua untuk melayani sekian banyak pelanggannya. Pelanggan biasanya mengantri seperti ulat dan menunggu lama untuk mendapatkan sebungkus mie goreng telor. Ada kenikmatan tersendiri saat mengantri karena mang Ipong mengerjakan pesanan pembelinya dengan cara yang sangat enak dilihat, tenang, anggun, berwibawa, tak banyak bicara dan sangat rapih. Rasa mie nya khas dan tak bisa disamai oleh warung manapun. Porsinya memang sedikit tetapi sangat tepat untuk ukuran perut yang tidak suka makan berlebihan. Mie gorengnya dilengkapi kol dan tomat dan walaupun judulnya mie goreng tetapi mie goreng Ipong terasa berkuah.

 

 

3.     Pecel bu Uut

Bu Uut adalah nama salah satu warga lebak kaum yang membuka warung kecil di depan rumahnya. Walaupun bukan orang asli dari sunda, masakan bu Uut sangat sunda dan sesuai selera kami. Pecel, karedok, asinan, petis dan ketoprak adalah menu yang disediakan di meja mungilnya. Saya selalu tergila-gila pecel Bu Uut karena rasanya pas dan kebersihannya terjaga. Selain pecel saya suka karedok dan asinannya. Asinan yang dimakan dengan kerupuk mie kuning adalah padanan dahsyat yang bisa disantap saat hari panas. Rasanya tak pernah bisa saya lupakan di ujung lidah. Pecelnya bisa dilengkapi dengan lontong dan bakwan yang tidak banyak kolnya. Rasa bakwannya agak keras tetapi tidak digoreng garing. Pokoknya maknyus dimakan sepulang sekolah yang melelahkan.

4.     Sate dan sop kambing Mang Enuh

Walaupun pernah mencoba berbagai tempat makan sate dan sop kambing saya tetap menganggap sate dan sop kambing mang Enuh di pinggir jalan dekat gang masuk lebak kaum sebagai sop kambing paling lezat. Sop kambingnya yang disajikan panas tidak terasa anyir dan dengan irisan daging yang mudah dicerna karena empuk. Beri sambal secukupnya maka  kuahnya akan meruapkan aroma yang luar biasa sedapnya. Saya bisa menghabiskan nasi putih tiga piring untuk mengiringi semangkuk sop kambing mang Enuh

 

5.     Es teler Bu banu

Seumur hidup saya tak akan lupa rasa es teler bu banu yang dijual di tokonyadi ekalokasari yang sekarang menjadi bank amanah umah. Rasanya seperti meminum air dari nirwana ketika pertama kali saya mencicipi es teler bu banu. Entah saya yang sangat kampung dan tak pernah minum es teler atau memang si penjual yang sangat hebat meracik es telernya sehingga sampai detik ini saya tetap menganggap es teler bu banu yang paling lezat yang pernah saya coba. Buah-buahan segar seperti kelapa, nangka, alpokat dicampur dengan kolang-kaling yang kenyal. Siropnya wangi entah sirop apa, ditambah susu cair dan ditambah air kelapa yang segar.

 

6.     Baso di sekolah Tsanawiyah

Saat bersekolah di tsanawiyah ada seorang penjual baso di belakang sekolah saya. Namanya saya lupa tapi rasa basonya tak akan pernah saya lupakan. Saya termasuk dari segelintir anak laki-laki yang senang makan bakso karena pelanggan lainnya kebanyakan anak perempuan. Si Mamang akan membiarkan kami meracik sendiri bumbu maupun bagian apa yang akan kami santap. Saya selalu memilih bihun, seledri yang banyak, bawang goreng yang banyak, potongan lumpia, dan kecap manis. Kuahnya sangat kental dengan bentuk bakso bulat kecil dan akan diberi bonus irisan lemak. Fuuiih, anak-anak perempuan rasanya tak pernah absen hadir memakan bakso si mamang setiap jam istirahat tiba. Mereka biasanya menambahkan saos merah yang gila-gilaan dan membuat rasanya selezat masa remaja.

 

 

Published in: on at 1:51 am Leave a Comment

BUKIT TINGGI

Hari ini tubuh saya lemas sekali, badan demam dan rasanya persendian ngilu seperti baru dipakai berjalan naik gunung. Saya baru pulang dari kota bukit tinggi mengikuti acara rapat di instansi tempat saya bertugas. Perjalanan Surabaya Padang walaupun menggunakan pesawat ternyata menyita tenaga dan menguras kesabaran. Seperti yang pernah saya ceritakan bahwa saya pengidap phobia terbang sehingga ketika hari dimana boss memberitahu bahwa saya harus dan wajib ikut menemaninya ke Bukit Tinggi saya langsung linglung. Beberapa alasan sempat terlontar tapi boss ternyata tidak menggubris rajuk dan permohonan saya. Hari keberangkatan dipastikan dan kami berangkat menggunakan Garuda busines class Surabaya Jakarta kemudian dari Jakarta ke Padang disambung dengan Lion Air karena tidak berhasil mendapatkan tiket Garuda.

Malam sebelum keberangkatan saya senewen dan berulangkali mengeluh kepada istri dan ditanggapi dengan ketawa istri menanggapi ketakutan saya naik pesawat terbang untuk kesekian kalinya. Istri mengantar sampai bandara dan tak lama kemudian boss datang dengan gayanya yang sangat berwibawa. Saya tak mau malu-maluin berdandan sewibawa mungkin lengkap dengan jeket kulit dan menutup rapat rahasia ketakutan saya. Pesawat kami berangkat pukul  2 siang dan Garuda hari itu tepat waktu saat mengumumkan penumpang untuk boarding. Terus terang aja saya belum pernah naik busines class dan kesempatan pertama ini membuat saya berbahagai walau dengan rasa takut yang tak kunjung hilang. Nikmat juga bisa merasakan pelayanan business class. Makanannya disajikan sangat manusiawi dengan pilihan fettucini dan sphagetti tuna diatas piring keramik yang panas.

Alhamdulillah tak ada guncangan yang berarti yang bisa mempermalukan saya di hadapan boss dan penumpang lain apalagi saya lihat Nurul Arifin si mantan bintang sexy yang sekarang keliatan well educated duduk dengan antengnya di kursi belakang kami. Sampai di Jakarta kami dijemput seorang rekan yang akan bergabung berangkat ke Padang. Pukul 6 sore kami bergegas masuk ke pesawat Lion Air yang akan membawa kami menuju Padang. Pesawat yang nampak besar ini ternyata benar-benar besar daya tampungnya. Dengan jumlah kursi penumpang diatas 200 saya seperti masuk bis kota dalam ukuran besar dan bisa terbang. Boeing 737-900 ER ini benar-benar didesain untuk menampung banyak penumpang dengan jarak antara kursi sangat rapat sehingga bagi yang berkaki panjang perjalanan satu jam saja bisa membuat kakinya kesemutan. Selama penerbangan pramugari  menawarkan makanan minuman dan beberapa souvenir yang bisa dibeli penumpang. Saya sama sekali tak tertarik karena tetap berkonsentrasi dengan nyawa yang serasa diujung tanduk. Belum lagi suara mesin pesawat yang dalam pendengaran saya seperti suara mesin yang sangat berat dan menakutkan. Akhirnya pramugari mengumumkan bahwa pesawat beberapa saat lagi akan mendarat di lapangan terbang Minangkabau. Lega campur waswas dengan pendaratan sampai akhirnya penumpang diminta agar tetap duduk walaupun pesawat sudah mencapai landasan.

 

Tiba-tiba terdengar suara kegaduhan dari kursi depan. Saya melihat seorang penumpang pria memaki dan melemparkan majalah ke arah wajah seorang pramugari. Saya tak tahu apa pasal kejadiannya yang pasti para pramugari tak terima dan melaporkan kejadian tersebut kepada pilot. Akhirnya pilot mengumumkan agar penumpang tetap duduk dikursi masing-masing dan kabin pesawat dibiarkan tetap gelap. Rupanya pilot telah menghubungi keamanan bandara agar mengamankan si penumpang tak punya tata krama tersebut. Setelah si penumpang tak bertata krama dijemput petugas keamanan barulah kami diperbolehkan turun. Saya sempat melihat si penumpang bermasalah itu digiring masuk ke ruang security ketika melewati pintu keluar bandara. Ah, ada-ada saja, untung keributannya di darat, kalo di udara bisa-bisa saya yang digotong keluar bandara.

Kota bukit tinggi ternyata sebuah kota yang mengingatkan saya pada kawasan puncak dan kota Batu di Jawa Timur. Udara dingin dan pepohonan yang hijau mendominasi kota walaupun saya menyesalkan kebersihan kota yang kurang terpelihara. Sampah nampak berserakan dimana-mana dan sedih sekali melihat Ngarai Sianok yang sebagian tebingnya digunakan sebagai tempat pembuangan sampah. Saya sempat masuk ke Goa Jepang yang dibangun oleh tentara Jepang dalam menghadapi perang Asia Timur Raya. Bentuknya seperti kawasan bawah tanah milik tentara vietcong di Vietnam yang digunakan untuk tempat persembunyian dan penyerangan. Konyolnya pemerintah daerah dengan sembrononya mengubah beberapa bagian keotentikan goa dengan sentuhan sembarangan. Pemasangan lampu di sepanjang goa membuat goa nampak seperti lorong menuju diskotik. Dinding goa telah diperbarui dengan dilapisi semen yang bentuknya sangat modern tapi kasar bahkan dapur asli milik tentara jepang telah disulap menjadi bentuk dapur rumah kos-kosan lengkap dengan tembok batu-bata untuk menyimpan kompor. Dulunya tanah, kata si pemandu dan saya yakin seharusnya dibiarkan apa adanya. Puncak keanehan adalah bahwa ternyata pemda setempat sempat merencanakan untuk membuat café di dalam goa tersebut sebagai cara untuk menarik pengunjung dan memanfaatkan situs bersejarah. Untunglah rencana tersebut gagal walaupun saya sempat melihat bagaimana kesiapan rencana tersebut sudah setengah terealisir dengan banyaknya bangku-bangku café yang telah ditata disalah satu bagian ruang goa.

Tanah minangkabau mengingatkan saya pada Malaysia karena logat berbicara orang padang sangat dekat dengan logat melayu. Cara berbicara mereka seperti mengingatkan saya pada sandiwara P.Ramli di Malaysia. Orang Padang pintar memasak sehingga tak heran sepanjang perjalanan Padang BukitTinggi kami singgah di beberapa restoran dan merasa puas dengan makanan yang disajikan. Saya sempat minum teh taluang, yaitu campuran teh pekat, susu kental dan telur ayam kampung. Jangan bayangkan anyir telurnya karena ternyata begitu glek rasanya mak nyus. Ketika perjalanan pulang dari BukitTinggi ke Padang kami mampir ke restoran dan ditawari minuman jus buah pinang. Untuk kesehatan lelaki, begitu promosi si bapak pemilik restoran. Setahu saya buah pinang rasanya kecut tapi saya selalu ingin mencoba hal baru, jadilah saya minum jus buah pinang yang ternyata rasanya hebat seperti wangi alpokat.

Ada kejadian lucu yang layak saya tulis ketika acara rapat resmi dengan bu menteri  di bukitTinggi. Malam sebelum acara dimulai, teman sekamar saya yang namanya layak dirahasiakan kaget bukan main karena ternyata didalam kopernya tak ditemukan celana hitam sebagai celana wajib dikenakan esok pagi. Jam sudah menunjukan pukul  10 malam sehingga kami tak mungkin menemukan pedagang celana panjang di kota bukittinggi yang mulai sepi. Akhirnya saya tawarkan celana saya sebagai alternatif dan agar dicoba walaupun yang bersangkutan memiliki lingkar pinggang 36 sementara saya berlingkar pinggang 32. Ketika dicoba kami sudah tertawa-tawa karena kaki dan betisnya masuk leluasa tapi celana saya tak bisa masuk sampai pinggangnya. Pakai saja ikat pinggang untuk menahan agar celana tak merosot, kenakan jaket hitam yang melewati pinggang dan jangan banyak bergerak, usul saya. Akhirnya teman saya menyetujui walaupun masih jelas terlihat keraguan dimatanya.

Esoknya kami bersiap ke ruang pertemuan dan saya melihat teman sekamar ini sibuk berpakaian dan mengutak-atik celana saya. Saya sempat terbahak karena teringat mr.Bean yang tangannya tersangkut dicelananya saat hendak berjabat tangan dengan Ratu Elizabeth karena teman saya bercelana dengan gaya berbahaya yaitu tanpa meristletingkan celana dan hanya mengencangkannya dengan ikat pinggangnya. Hati-hati saat duduk dan berdiri,  nanti bisa-bisa acara bubar karena jam gadang di gadang-gadang, kata saya terbahak senang.

Published in: on at 1:42 am Leave a Comment