Aku sering jengkel dengan kelakuan anak terkecilku yang susah makan. Usianya sudah menginjak delapan tahun tetapi nafsu makannya tak kunjung muncul walau telah disodori segala jenis makanan. Dulu si sulung juga berkelakuan sama walaupun setelah menginjak smp nafsu makannya ternyata berubah dan bisa makan gila-gilaan. Pasal makan ini sering jadi pertengkaran kecil aku dengan istriku saat kulihat istriku susah payah membujuk anak kami makan. Aku sering berang dan akhirnya melarang istriku merayu si kecil hanya untuk urusan makan. Sudah, mau makan atau tidak urusan dia, perutnya sendiri, mau diisi atau tidak dia yang merasakan sendiri, aku nyerocos karena tak sabar melihat si kecil yang seolah melihat urusan makan sebagai pekerjaan berat dan melelahkan. Seingatku waktu aku kecil dulu aku tak pernah merasa sulit makan bahkan cenderung kelaparan.
Aku hanya tahu orang sulit makan saat terbaring sakit dan hanya saat sakit itulah ibu menawari kami ingin makan apa karena di hari sehat seperti biasa kami hanya memakan apa saja yang ibu masak. Neng kimung adikku malah makan semakin banyak saat sakit karena ia takut sekali pergi ke dokter dan menelan obat. Alhasil dia selalu berhasil sembuh sebelum disentuh dokter atau mantri. Kami malah sering merasa kekurangan makanan di rumah karena setiap kali ibu memasak untuk makan siang maka jam empat di meja makan sudah tak tersisa lagi apapun kecuali sambal dan nasi putih. Aku masih ingat ketika pulang sekolah jam 12an di rumah belum ada apapun selain nasi dingin sisa makan pagi. Perut keroncongan memaksa aku untuk berinisiatif membuat apa saja untuk dijadikan lauk pauk makan ngawadang yang artinya makan tak resmi antara pagi dan makan siang. Jika menemukan sebuah ketimun saja sudah bersyukur karena bisa dibuat sambal dengan irisan ketimun. Jika tak ada maka kami hanya makan nasi dengan cabe rawit yang dicampur garam dan air. Rasanya saat itu kami selalu lapar sementara persediaan makanan di rumah hanya ada saat jam makan. Ibu tak pernah membiasakan menyimpan makanan stok yang bisa disantap sekejap saat kami lapar tiba-tiba.
Panganan kecil seperti kue-kue hanya ada saat menjelang lebaran dan beberapa hari sesudahnya. Karena itu lebaran bagi kami seperti memasuki hari bahagia tak ada duanya karena perut bisa diisi segala jenis makanan dari kacang-kacangan sampai daging dan belum habis setelah dua tiga hari. Aku merasakan hal yang sama ketika orangtuaku mengadakan pesta pernikahan teteh lilis. Makanan melimpah ruah dengan buah-buahan yang sampai harus disimpan di atap rumah. Aku mengenangnya sebagai hari hari penuh makanan karena sampai berbulan bulan setelah pesta pernikahan teteh lilis aku masih bisa mengambil kue-kue yang disimpan ibu dalam kaleng blek di bawah tempat tidur. Rasa lapar kami kemudian mulai banyak tertolong setelah teteh lilis berumah tangga dan memiliki rumah sendiri di lebak sirna. Sebagai keluarga muda tentu saja mereka sering membeli panganan kecil sebagai persediaan di rumahnya. Aku dan didin kakakku sampai menjuluki rumah teteh lilis sorga karena di rumahnya kami mengenal roti maksim isi coklat dan kiripik aceh yang ditaburi daun seledri.
Sejak itu kami sering berkunjung ke rumah teteh lilis sepulang sekolah dan biasanya teteh lilis sesekali akan memintaku yang berbelanja dan membeli kue-kue di toko si aci depan polsek leuwiliang. Aku menerima tugas itu dengan penuh sukacita karena selain akan mendapatkan bagian banyak dari kue-kue yang dibeli, si aci pemilik toko selalu menyambutku dengan baik dan pelayannya sering menyuruhku untuk mencoba kue-kue lain yang disusun diatas rak dalam kaleng blek yang dicat biru. Setiap ke toko si aci aku selalu mencoba kue-kue lain demi memenuhi rasa ingin tahuku dan ternyata aku jatuh cinta dengan kue kering kecil dengan bentuk gulungan yang didalamnya berisi abon. Semakin lama aku semakin sering membantu teteh lilis berbelanja ke pasar dan aku semakin senang karena mendapat upah yang jumlahnya dua kali lipat uang jajan yang diberikan ibu setiap pagi. Jika sebelumnya aku hanya jajan makanan seperti buras yang dipotong-potong dan ditaburi sambal encer dan dengan sepotong kerupuk asoy atau bala-bala maka sekarang aku lebih leluasa membeli jajanan yang lebih mahal seperti bakso dan es doger yang dicampur ketan hitam.
Sore hari aku bersekolah di sekolah ibtidaiyyah yang selama bertahun-tahun dihidupkan oleh sosok pak Muhtar yang bersahaja. Kesukaanku sebelum masuk kelas pak Muhtar adalah membeli makanan sejenis simpring tipis bundar warna-warni dan jika dikunyah maka sebagian kue terasa melekat di langit-langit mulut. Cara menjualnya juga mengundang rasa penasaran karena kami diminta menarik pelatuk diatas gerobak dan sebuah bola bundar kecil akan melesat mengikuti alur dan berharap jatuh di angka yang besar sehingga mendapatkan kue simpring yang banyak. Pak Muhtar tak pernah menegur kami jika membawa jajanan atau makanan ke dalam kelas walaupun saat itu jam belajar. Ia tak pernah marah dan sepertinya pak muhtar hanya berkonsentrasi dengan dirinya dan mata pelajaran yang ia berikan. Ah, aku jadi ingat bagaimana ia mengajari kami menghafal bahasa arab dalam bait-bait kamus yang dinyanyikan dengan serempak…
Baitun imah, babun panto
Subakun jandela, hojanatun lamari……
Atau kali lain pak muhtar akan mengajari kami sejenis syair yang merupakan bait pujian kepada Allah dan Rasulnya dalam bahasa sunda dan dinyanyikan dengan irama mendayu dan pikaseudiheun…..
Ari puji sadaya kagungan Allah rahmat salam na teutep di rasulullah……….
Ibu dan ayah tak pernah memberi uang berlebihan dan mengajari kami dengan memberi uang saku yang pas-pasan. Uang lima puluh rupiah harus cukup untuk uang saku harian tiga anak yaitu a lulum yang duduk di kelas 6 sebesar 40 rupiah , a didin di kelas 4 dan aku di kelas 2 masing-masing 15 rupiah. Harga semangkuk bakso adalah 20 rupiah sehingga jika aku ingin makan bakso berarti harus menabung selama dua hari atau menyimpan lima rupiah untuk digabungkan dengan 15 rupiah besok. Sulit sekali untuk menyimpan uang sekecil itu agar terkumpul esok hari karena aku selalu ingin jajan dan di rumah kami tak punya makanan pengganjal perut hingga waktu makan sore tiba. Anak sekarang susah makan karena tak doyan makan, sementara kami dulu susah makan karena keadaan.
Ah, seandainya saja anak anakku tahu betapa banyak yang harus disyukuri saat ini……..