PERELEK

Salah satu kearifan dan kebersamaan di kampungku yang masih aku kenang adalah ketika bi acah datang setiap hari jumat selesai kami shalat dengan sebuah karung kecil dipangkuannya yang baru setengah terisi berteriak lembut di depan rumah:…Pereleeeeek…..

Ibu akan bergegas ke dapur mengambil segelas beras dari penyimpanan beras dan menuangkannya ke karung yang di pangku bi acah. Kadang saat hari lain aku yang disuruh ibu mengambil beras dan menuangkannya. Bi acah akan tersenyum sambil berbasa-basi panjang. Perelek itu akan dikumpulkan dan menjadi kas kampung kami dan biasanya dipakai untuk kepentingan makan anak-anak yatim di kampung kami. Zaman dulu kebersamaan memang sering diwujudkan dalam bentuk beras. Dulu di kampung nenekku di cipatat setiap ada perhelatan tetangga kampung maka kami akan berkunjung pada saat atau sebelum pesta dengan baskom yang diisi makanan dan diisi beras beberapa liter. Beras adalah simbol persaudaraan dan hubungan antara manusia bagi masyarakat kampung. Tak  ada yang lebih istimewa selain beras. Aku jadi ingat dulu ketika menangis meminta dibelikan sebuah mobil-mobilan truk plastik yang dijajakan si mamang ke emak di cipatat. Dengan berat hati emak memenuhi keinginanku dan menukarkan beberapa liter beras menjadi sebuah mobil-mobilan truk plastik warna hijau. Beras adalah alat tukar dan tak mungkin segala kepongahan dan ketamakan terjadi jika manusia menggunakan beras sebagai alat tukar barang. Rasanya tak akan ada perdagangan semu seperti forward trading dan bursa saham jika manusia memakan apa yang mampu ia hasilkan dengan kedua tangannya. Tak akan ada manusia yang ongkang-ongkang hidup dari keringat badag manusia lain. Seharusnya kita belajar banyak dari cara leluhur kita memperlakukan hidup dan alam dunia dengan bijak. Manusia yang paling mulia adalah yang hidup dengan usaha kedua tangannya.

Manusia seharusnya hidup sesuai kemampuannya bekerja dan kemampuannya menerima benda dan makanan bagi tubuhnya. Percuma rasanya berbicara global warming, bahaya makanan olahan, bahaya segala efek industri jika kita tetap ngotot hidup dengan cara yang jauh dari kearifan yang sederhana. Bi acah yang mengumpulkan perelek, orang kampung dengan baskom beras dan pedagang mainan yang menerima bayaran beras emak adalah contoh nyata memelihara dunia. Bukankah perut kita hanya sekepalan tangan dan kulit kita hanya setipis ari sehingga tak elok jika kita selalu bermimpi untuk menelan lautan dan menunggangi gunung yang tinggi.

Published in: on December 2, 2008 at 2:58 am Leave a Comment

sebutir nasi

Kelakuan burukku yang sampai saat ini belum berubah adalah menyisakan nasi di piring setiap kali selesai makan. Entah sejak kapan aku punya sifat buruk seperti ini karena aku sendiri sering merasa feel guilty begitu melihat nasi di piringku yang  tersisa tetapi esok aku kembali melakukan hal yang sama. Aku bertanya dalam hati berapa karung nasi yang telah aku buang sejak aku mampu makan nasi. Like a father  like a son, demikian juga kelakuan anakku yang kedua, makan selalu menyisakan nasi yang tak dihabiskan. Aku sering menegurnya tetapi aku sendiri sering memberikan contoh buruk di depan anakku dengan menyisakan nasi. Kemarin aku melihat sebuah gambar mengerikan seorang anak yang kurus kering tak berdaging dalam ayunan depan rumah gubuknya. Judulnya seorang anak balita korban malnutrisi. Bahasa kasarnya: anak korban kelaparan. Lokasi kejadian bukan di afrika yang jauh walaupun wajah dan tubuh serta kulit anak tersebut seperti bocah pedalaman afrika yang kita lihat pada peristiwa kelaparan di sudan. Kejadiannya di nusa tenggara timur, bagian republik indonesia dimana aku hidup, makan dan membuang nasi sehabis makan. Alangkah banyaknya dosa yang telah kutabung setiap aku selesai mengisi perut.

Dulu waktu masih kecil ibu sering menyuruh kami untuk menghabiskan seluruh nasi didalam piring. Sanguna ceurik mun teu dise’epkeun, begitu ancaman yang ibu berikan. Tahun berganti dan nasihat ibu menghilang seiring dengan berlalunya waktu dan kesombongan masa dewasaku. Aku selalu menyisakan makanan di ujung piring apalagi jika makanan yang disajikan tak aku sukai. Demikian juga saat  mendapatkan porsi nasi di warung yang biasa dikunjungi para tukang yang makannya sebakul, aku pasti kerepotan menghabiskan porsi nasi yang disediakan. Dulu aku rajin mengingatkan tukang nasi untuk mengurangi porsi nasi untukku tetapi kadang saat buru-buru atau sedang malas aku diam dan menerima porsi nasi sesuai keinginan si penjual yang menyiapkannya. Aku makin teriris jika melihat jumlah nasi yang terbuang di sebuah acara pesta atau perhelatan. Entah berapa karung beras yang sudah terbuang ditambah jumlah gas, minyak tanah atau kayu bakar untuk memasaknya dan berapa jumlah tenaga manusia yang telah habis untuk mengolahnya hingga menjadi sepiring nasi yang dibuang begitu saja. Melihat wajah bocah saudaraku yang bergantung dengan sisa nafas setengah semakin membuatku harus mengkaji ulang cara hidupku. Kelihatannya sepele tetapi jika ribuan atau jutaan manusia melakukan hal yang sama denganku, berapa ton beras yang terbuang sia-sia setiap hari padahal  banyak manusia yang bisa terselamatkan dan berapa karung beras yang seharusnya bisa menjadi kebaikan bagi manusia keseluruhan daripada jadi sampah yang disukai syetan, termasuk kebaikan bagi bocah dalam ayunan di nusa tenggara itu. Petaka selalu bermula dari hal kecil dan jika aku dan anda sekalian tak memperdulikan setiap butir beras yang Tuhan titipkan, rasanya suatu saat kita tak pantas meratap untuk kesulitan yang kita terima. Naudzubillahi mindzalik. Rasanya sangat pantas jika aku berjanji untuk memulai menilai luhur setiap rezeki yang Tuhan berikan dalam setiap bulir beras dengan cara menikmati sesuai porsi yang mampu aku konsumsi, makan pada saat memang lapar dan menyisakan jika berlebih untuk mahluk Tuhan lain seperti bocah dalam ayunan. Mudah-mudahan Allah menuntun kita dalam meniti titian serambut di muka bumi.

 

 

Published in: on at 2:57 am Leave a Comment