8 desember 2008

Buat neng kimung

 

Hari ini marcella zalianti masih berada di tahanan polres jakarta pusat, dengan tuduhan penganiayaan terhadap seorang lelaki bernama agung yang dilakukan ananda mikola di depan matanya.

Hari ini hai raya idul adha, jauh di mekkah sana manusia sedang berlomba untuk menjadi haji yang mabrur di hadapanNya

Hari ini si Giring Nidji baru pulang dari ibadah hajinya, rambutnya tetap kriwil dan siap manggung esok harinya

Hari ini aku dan anak istriku merayakan lebaran idul adha jauh dari kampung halaman dan sanak saudara, tak apa, toh seluruh muka bumi ada dalam genggamanNya dan hatiku selalu bersama mereka

Hari ini Aulia Pohan masih berada di tahanan, demikian juga para pejabat bank indonesia lainnya, bagaimana gundahnya annisa pohan setelah menjenguk ayahnya, terbayang nggak?

Hari ini aku membaca buku maryamah karpov, buku terbaru pelengkap tetralogi laskar pelangi karangan si cakap kata Andrea Hirata

Ah,tiba-tiba hari ini aku ingat adikku, bukan saja karena ia juga suka membaca buku

Bukan karena ia pandai berkata-kata dan sering membuatku tertawa-tawa

Bukan karena anak-anaknya yang elok di pandang mata: Ira,Irgi,Tissa dan Naila

Atau lelaki belahan jiwanya yang selallu berwajah menggoda walau bekerja di Pemda

Bukan,

Aku ingat selalu, 8 Desember adalah hari ulang tahun adikku satu-satunya

Neng kimung, selamat ulang tahun,

Neng kimung akan selalu jadi adik a awang satu-satunya

Selamat berperan dalam dunia yang bukan surga, tapi menjanjikan sejahtera bagi yang penuh syukur padaNya.

Syukuri  umur kita hingga detik ini

Sekali lagi selamat ulang tahun, neng kimung

Semoga sejahtera senantiasa bertahta dalam kalbumu

Published in: on December 8, 2008 at 11:50 am Comments (1)

a lulum

Aku selalu ingat uang duaratus ribu rupiah yang diberikan alulum sebagai hadiah kelulusanku masuk di sebuah perguruan tinggi kedinasan favorit. Sebelumnya alulum sudah mengancamku untuk lulus dan ia menjanjikan uang duaratus ribu, sebuah jumlah yang sangat besar untuk saat itu, sebagai iming-iming jika  aku berhasil lulus. Aku menerima tantangan alulum dengan tekad dan niat yang sudah bulat bahwa aku harus kuliah di perguruan tinggi itu bagaimanapun caranya. Aku belajar tak kenal waktu, mempersiapkan semua yang terbaik yang bisa kulakukan. Aku mengasingkan diri dari pertemuan rutin dengan teman-teman dan acara keluyuran untuk berkonsentrasi penuh pada hari ujian yang diadakan di istora senayan. Mata pelajaran yang diujikan matematika, bahasa inggris, pengetahuan umum dan logika. Aku merasa sangat siap dengan bahasa inggris dan pengetahuan umum yang kumiliki. Logika juga tak ada kendala karena aku merasa mampu berfikir logis dan bisa membaca rangka setiap permasalahan sesuai usiaku. Ganjalan ada pada maematika karena kemampuan numerikku semakin menurun sejak me masuki usia pubertas. Aku juga tak lagi mudah mengingat  rumus-rumus  trigonometri dan geometri. Akhirnya untuk matematika aku belajar saja semampuku dan  aku banyak menyandalkan rapalan doa saat sholat malamk. Setiap selesai mencoba melatih mengutak atik angka matematika aku tutup dengan doa khusyuk agar aku diberi kemampuan untuk menyelesaikan soal ujian nanti. Taruhanku  dengan alulum menang setelah aku melihat dengan mata berkaca-kaca diantara ratusan peserta ujian yang menatap nanar  papan pengumuman hitam di depan kampus impianku mencantumkan namaku sebagai salah satu calon mahasiswa yang berhasil lulus ujian. Saat itu aku datang seorang diri karena tak berani mengumumkan kapan hasil ujian diumumkan kepada siapapun termasuk kepada kedua orangtuaku. Aku takut melihat mereka kecewa sehingga hari itu diam-diam aku berangkat ke jakarta untuk menemukan kebahagiaan yang tak terkira seumur hidupku seorang diri. Aku seperti melayang ketika berjalan kaki pulang ke terminal blok M mencari bus yang akan membawaku ke UKI disambung ke Bogor. Tubuhku bergetar hebat dan dadaku membuncah seperti hendak meledak.bus yang penuh sesak tanpa pendingin udara kurasakan bagai pesawat terbang versi terbaru. Sepanjang jagorawi aku tersenyum dan membayangkan diriku tiba-tiba telah menjadi seorang mahasiswa. Mahasiswa ayah! Ayah tak perlu lagi merasa gagal karena salah satu anaknya kini telah bergelar mahasiswa. Ibu tak perlu cemburu melihat anak-anak mahasiswa yang berkali-kali menyambangi rumah kami dalam rangka Kuliah Kerja Nyata. Ayah ibu tak perlu malu. Sampai di rumah tentu saja kebahagiaan mengharu biru ketika kuceritakan apa yang telah kudapatkan. Pertama kali dalam hidupku melihat ayah menangis dengan air mata yang mengalir dari kedua pelupuk matanya berkelok di pipinya yang mulai penuh kerutan. Aku bahkan melihat air mata itu jatuh ke lantai seakan telah membersihkan seluruh beban jiwa raganya.  Tangannya bergetar memegang dua lembar pengumuman ucapan selamat datang bagi mahasiswa yang lulus dari kampus impianku dan syarat-syarat yang harus dipenuhi selanjutnya untuk menjadi mahasiswa.  Tak pernah kulihat binar mata ibu seperti binarnya hari itu. Ibu berkali-kali mengucapkan kebesaran nama Tuhan diantara tangis bahagianya.  Aku menerima langsung duaratus ribu rupiah dari tangan alulum ketika kutunjukan dua lembar kertas bukti aku telah diterima menjadi mahasiswa saat aku tiba di tokonya yang masih ramai. Duaratus ribu rupiah itu aku selalu kenang sebagai uang paling indah yang pernah kuterima dari seorang kakak,  seorang kakak bernama alulum.

Alulum adalah inspirasi bagiku. Masa remajanya yang dilalui dengan singkat karena langsung terjun menjadi manusia dewasa dengan mencari nafkah dalam hiruk pikuk pasar membuatku bertekad untuk melunasi hutang kekalahan keluarga kami di dunia formal pendidikan. Tak bisa kupungkiri bahwa keberlangsungan kehidupan ekonomi kelurga kami terbantu sejak alulum mandii secara ekonomi. Aku masih sering mengingatnya dengan mata yang basah ketika kami digiringkan ke Bogor untuk membeli baju lebaran saat ramadhan datang. Alulum mengajak kami, aku, didin dan neng kimung untuk memilih sendiri baju yang ingin kami kenakan untuk lebaran. Kami tak pernah mengalami itu karena ayah dan ibuku begitu ketat dan keras mendidik pola konsumsi kami. Jaminan keberlangsungan hidup hampir tipis sehingga ayah selalu mengasuransikan kami dengan pola hidup sederhana. Alulum telah membuka pintu keyakinan bagiku bahwa hidup tidaklah sekeras dalam dogma ayah. Kami masih bisa menikmati kebahagiaan seperti halnya keluarga lain di sekitar kami dengan cara yang sangat menyenangkan:berbelanja. Kami  menyusuri pertokoan di sekitar jalan merdeka hingga ke toko matahari di jalan kapten muslihat. Satu persatu kami memilih dan alulum tak melarangku untuk mendapatkan baju dan celana terbaik di toko shangrila. Kulihat neng kimung dan adidin serupa denganku, bahagia dan bersyukur tak terkira. Hebatnya ayah adalah ketika ia turut berbahagia ketika alulum mau berbuat royal kepada adiknya. Ia tak memakai segala teori hematnya untuk alulum karena ia telah memperhitungkan dengan seksama kemampuan alulum  saat itu.

Kenangan lain adalah cara berfikir alulum yang sangat logis telah membuka cakawala berfikirku menjadi lebih baik. Ribuan buku telah kubaca dan ratusan teori pernah kupelajari tapi aku tetap menganggap bahwa aku telah menerima banyak kalimah sakti dari alulum yang membuat cara berfikirku tak lagi sesat. Ucapannya yang lugas mempreteli satu persatu dogma usang yang melekat dalam alam bawah sadarku. Awalnya kalimat alulum selalu menjadi percikan yang membuat api menyala antara dirinya dengan ayah. Berulangkali ayah tak menerima opini alulum yang sering mempertanyakan hal-hal yang menurut kami saat itu sesuatu yang harus diterima apa adanya, taken for granted, seperti ucapannya bahwa ekonomi dan perdagangan saat ini hanyalah bentuk lain pemerasan dan bukanlah seperti apa yang seharusnya dijalankan sesuai apa yang kami imani. Titik. Atau ketika suatu ketika ia menyatakan bahwa rasul tak pernah mengajari umatnya untuk menumpuk-numpuk harta apapun bentuknya. Ayah tentu saja meradang karena ayah adalah seorang lelaki yang selalu merasa bahagia ketika berhasil menambah koleksi luas lahan pertaniannya dan selalu bungah ketika berhasil menambah jaringan orang di desa yang bekerjasama dalam sistem gade menggarap sawahnya. Saat itu aku tak bisa menerima logika yang dipakai alulum sehingga aku ikut dalam jajaran pendapat bersama ayah bahwa apa yang diucapkan alulum adalah kesalahan fatal yang membuat kerancuan. Selesai berargumentasi dan kadang diakhiri dengan pertengkaran hebat ayah dan alulum, umi akan menjadi penengah setia, demikian juga the lilis dan kang uwoh. Berkali-kali pertengkaran yang diakibatkan perbedaan pemahaman ini menjerumuskan situasi keluarga dalam keributan akut. Perang dingin antara alulum dan ayah seperti peperangan antara dua orang manusia yang memiliki sifat dan karakter yang sama. Keras dan tak pernah takut apapun. Aku sering gemas dengan sikap alulum yang berkepala batu dan berani melawan pendapat ayah. Tahun-tahun itu hubungan ayah dan alulum putus sambung seperti layaknya dua orang yang benci tapi saling merindukan.

Bertahun setelah Ternyata apa yang dialami alulum terjadi pula denganku. Hubunganku dengan ayah sempat memburuk mencapai titik nadir saat aku remaja menginjak dewasa.

 

 

Published in: on at 11:49 am Leave a Comment