Saat waktu senggang, rasanya banyak diantara kita yang memilih menyalakan si kotak ajaib (walaupun sekarang sudah banyak yang bentuknya pipih) di depan kita, nonton televisi. nah, perkara televisi atau tipi ini bikin saya akhir-akhir ini sering uring-uringan. Saya tidak tahu apakah karena faktor usia yang semakin bertambah tua ataukah emang acara tipinya sendiri. Saya sering bolak balik memencet angka di remote control dan tetap tidak bisa menemukan acara yang bisa membuat saya tune in dalam jangka seharusnya. Saya bingung karena tak ada tontonan yang menurut saya layak saya pelototin. Program berita kadang masih saya ikutin jika ada berita baru baik itu tentang ketololan pejabat, ironi tabung gas, kecelakaan alat transportasi atau tragedi kemanusiaan baik di dalam maupun luar negeri. Tapi acara berita kadang malah seperti propaganda dan amat membosankan karena diangkat jadi headline berkali kali dan berhari hari. Belum lagi wawancara kadang dengan mengundang narasumber yang tidak kompeten dan malah seperti ingin mengangkat polemik ditengah masyarakat. Acara hiburan? sami mawon. Stasiun televisi tertentu sudah pada tahap membuat acara yang tidak memberikan kejelasan maksud acara dengan pembawa acara yang sangat tidak bisa membuat saya tertawa. Untungnya masih ada acara kick andy dan oprah. Dua acara ini saja yang menurut saya mengajarkan kecerdasan berfikir dan memanusiakan manusia. Saya tidak kenal kedua pembawa acara ini tetapi saya yakin sekali manusia yang ingin belajar banyak lewat media televisi pasti setuju dengan saya. So, saya rasa benar sekali nasehat terkini yang menghimbau agar kita menjauhkan keluarga dan anak kita dari televisi semampu kita. Nyalakan tipi saat kita sendiri dan tak ada pilihan kegiatan lain.
Asuransi
August 23, 2010
Orang indonesia seperti saya ini memang suka sekali menantang hidup. Tepatnya mungkin menantang hidup yang beresiko tanpa persiapan. Terus terang saya merupakan salah satu kepala keluarga yang termasuk tidak mempersiapkan planning yang baik untuk keberlangsungan rumah tangga. Kejadiannya kemarin waktu istri saya masuk rumah sakit untuk kesekian kalinya. Padahal sudah jadi pelajaran (berharga) banget bahwa masuk rumah sakit di negara ini sangat mahal kecuali buat teman-teman yang beruntung bekerja di perusahaan besar atau multinasional yang jaminan kesehatannya ditanggung penuh oleh perusahaan. Nah, bagi pegawai negeri seperti saya jelas masuk rumah sakit (bagus) menjadi tantangan tersendiri karena tidak mungkin mengandalkan ASKES yang hanya bisa dipakai untuk kelas dan obat yang dengan standar tertentu. Saya sempat terkaget-kaget membaca bill tagihan rumah sakit untuk 2 malam perawatan. Jalan keluar sebenarnya sudah jelas bahwa jika kita ingin mendapatkan jaminan penggantian atas biaya rumah sakit harus ikut asuransi kesehatan. Anehnya, berkali kali mendapatkan tagihan rumah sakit yang mahal tetap saja tidak mengubah orientasi otak saya bahwa asuransi kesehatan itu mendesak sekali. Akhirnya hari ini sepulang dari rumah sakit setelah sakit hati melihat angka bill yang harus dilunasi saya putuskan ikut salah satu program asurnasi yang ditawarkan sebuah bank milik pemerintah. Budaya orang indonesia memang menyerahkan semua pada kalimat sakti gimana nanti, bukan nanti bagaimana. Saya tahu sekali banyak saudara dan handai taulan yang hidup berkecukupan tapi tidak pernah melakukan planning atas masa dpan kesehatannya sehingga bukan cerita bohong banyak kasus keluarga di negeri ini yang bangkrut total karena salah satu anggota keluarganya sakit parah dan lama sehingga menguras seluruh tabungan usaha. Belum lagi jika kita bicara asuransi rumah, pendidikan dan asuransi jiwa. Memang benar Tuhan yang mengatur dan memberi rezeki pada seluruh manusia tapi tentu Tuhan menyerahkan semua pengelolaannya pada diri kita. Jadi ikut asuransi saya fikir tak ada salahnya.