Mengenang ayah
Ayah,
Amarah yang menghunjam dalam gelap tidurku
Kecewa yang sering terumbar dari lidahku
Kesal yang menggumpal dalam darahku
Lenyap seketika
Menguap seiring pedihku menatap jasad dinginmu
Kehilanganmu membalikan segalanya
Kau lah pelipur ku saat duka
Kekuatanku saat tak berdaya
Mata ku saat ku buta
Telingaku saat ku tuli
Lidah ku saat ku kelu
Aku merindumu ayah
Menghitung hari sejak ayah pergi
Setiap hari yang kulalui
Kufikir adalah air yang membasuh luka
Ternyata adalah cat warna yang semakin menambah jelas paras luka,