A DIDIN

Diantara kami lima bersaudara mungkin akulah yang paling menyebalkan waktu kecil dulu. Tubuh kurus kering dengan dua gigi depan yang menggantung semakin menambah lengkap atribut aku sebagai anak menyebalkan dan tidak sedap dilihat. Tubuh cekingku kontras dengan kepalaku yang terlihat besar dengan rambut lebat berdiri kaku. Kakak-kakak ku sering memanggilku nonggar karena bentuk gigiku yang menyembul keluar itu. Tingkah lakuku menambah daftar hitam aku sebagai anak pikasebeleun karena aku termasuk anak yang banyak bicara, cengeng karena gampang menangis dengan suara tangisan yang membuat ayah ibuku sering tak bisa berkonsentrasi saat bekerja ataupun tidur, sok tahu karena berkali-kali aku melakukan ketololan kecil yang berakibat besar seperti menghilangkan cincin kesayangan ayah dan merusak radio transistor ,penakut karena aku tak pernah berani pergi ke kamar mandi tanpa diantar seseorang  dan saat tidur harus kelayapan mencari tempat diantara kaki ibuku. Diantara gaya menyebalkan itu yang paling membuat kesal ayah adalah sikapku yang suka nimbrung perbincangan  orangtuaku saat berbincang dengan tamu atau saudara yang lain. Aku masih ingat ketika suatu ketika ayah dan ibu dengan berbisik berbicara mengenai film di indonesia yang mulai banyak adegan sex, aku mendengarkan perbincangan ayah ibuku dan aku melesat ke ruang tamu sambil bertanya apakah yang dimaksud adegan sex itu. Ibu dan ayahku sebagai generasi pasca kemerdekaan yang belum memahami arti komunikasi dan bagaimana seharusnya menjawab keingintahuan seorang anak tentu saja memarahiku dan memperingatkan aku agar jangan lagi bertanya hal seperti itu dan melarangku ikut terlibat perbincangan orangtua. Lalu suatu hari ketika ayah dan tetanggaku pak anhar berbicara serius soal larangan pemuatan gambar nabi kami dalam bentuk apapun aku menyahut keras ..benar ayah, di komik yang aku baca nabi Muhammad selalu digambarkan dengan nama nabi dalam tulisan arab dan dilingkari. Aku tak mengerti kenapa ayah begitu sewot mendengar urun rembuk aku yang ingin menyampaikan apa yang aku tahu dan merupakan pengetahuan yang kudapat dari apa yang aku baca. Ulah sok tatalapung! Begitu hardik ayah dan aku menegrti kalimat itu berarti bhwa aku tak boleh ikut campur atau sok tahu dengan perbincangan orang dewasa. Kakakku Didin kebalikan dariku karena ia memiliki karakter yang sangat tenang dan pendiam. Bibir dan lidahnya sangat irit mengeluarkan kata-kata dan dia seperti tak tertarik dengan hal-hal sekitarnya apalagi yang terlalu rumit, berat dan bukan urusannya. Sepertinya ia selalu bisa menikmati apapun sepanjang ketenangannya tidak terusik. Karena jarak umur kami hanya dua tahun saat kecil dulu orang sering tidak bisa membedakan mana yang kakak atau adiknya. Aku sering bertengkar dan berantem dengan Didin mulai dari soal mainan sampai kekesalanku yang selalu dianggap pacar si pipih anak perempuan keluarga Anhar. Dasar si Pipih!, begitu kalimat panas dan menyakitkan yang sering aku dengar dari mulut Didin jika kami bertengkar. Aku benci setengah mati jika sudah disebut pacar si Pipih. Aku biasanya mencoba menghajar atau balik meneriaki kakakku dengan ejekan yang tak kalah sadisnya. Dasar pacar si ferri arab. Didin biasanya tambah murka jika aku ejek dengan nama Feri karena nama ini bisa membuatnya kehilangan harga diri terkait dengan peristiwa paling memalukan yang pernah ia lakukan. Ceritanya begini: Saat masuk kelas satu SD Negeri I Leuwiliang, kakakku seperti anak-anak zaman itu masuk ke sekolah tanpa banyak dibimbing dan diatur orangtuanya. Bahkan daftar masuk kelas satu SD hanya dengan mengukur tangan si anak apakah telah sampai ke cuping telinga lewat atas kepala. Didin masuk kelas  satu entah umur berapa. Sikapnya yang pendiam dan pemalu tentu saja banyak menyulitkan dirinya. Nah, suatu hari abangku ini sakit perut entah karena apa. Bagi anak pemalu dan pendiam seperti Didin tentu saja keinginan buang hajat saat berada di tengah keramaian kelas menjadi kengerian tersendiri. Tak mungkin bilang ke guru karena Didin pasti malu dan takut sementara menahan keinginan alami perut  tak mungkin karena itu kodrat manusia untuk mengurai pencernaannya. Akhirnya Didin memilih berdiam diri dan membiarkan apa yang diinginkan perut dan saluran cernanya sehingga ia hari itu sukses membuat seisi kelas menjerit bau dan membuat bu guru kelabakan dan membawa didin keluar kelas dengan celana yang sudah basah dan bau. Bu guru membawa didin keluar kelas dan menyelesaikan persoalan perutnya di wc sekolah. Di depan sekolah SD I ada rumah Bu Enjeh, keluarga arab yang sangat akrab dengan keluarga kami. Bu Enjeh langsung meminjamkan celana anak perempuannya bernama Ferri ketika ia melihat didin keluar dari wc sekolah tanpa celana. Akhirnya didin pulang dari sekolah dengan celana pendek anak wanita bernama Ferri. Ibu tentu saja kaget ketika melihat putranya yang pikarunyaeun pulang dengan wajah tertunduk lesu dan memakai celana yang tak dikenal ibu. Didin pake celana siapa? Tanya ibu dengan pelan. …………..Si ferry, jawab didin masih dengan wajah tertunduk. Sejak saat itu julukan terkutuk yang bisa membuat didin marah dan murka lahir. Sebut saja nama Feri di depan wajahnya. Didin akan semakin murka ketika keluarga Bu Enjeh berkunjung ke rumah lengkap dengan anaknya yang bernama si ferri. Didin akan lenyap entah kemana dan hanya akan muncul saat Bu Enjeh pamit dari rumah kami.

 

Abangku Didin cenderung pengalah dan ini menurutku karakter orang yang kurang ambisius. Saat mulai bisa berfikir dewasa aku sering berdiskusi dengan Didin dan aku sering mencekokinya dengan ambisi-ambisiku agar menular pada Didin. Saat kami berada di tingkat SMA, kakaku kelas tiga dan aku kelas satu, didin bersekolah di sma pgri leuwiliang yang bagiku seperti bukan sebuah sekolah karena hanya menampung anak-anak yang pindah atau dikeluarkan dari sekolah lain dan sisa-sisa anak-anak yang tak diterima di sekolah negeri. Kulihat didin jarang menekuni pelajarannya dan didin memang bukan seorang pembaca buku yang baik. Sebenarnya Didin sempat menjadi siswa PGA dan hanya bertahan beberapa minggu karena disuatu pagi didin tak mau berangkat ke sekolah PGA dan menyatakan ingin pindah sekolah. Kejadiannya sempat membuat ayah marah luar biasa karena tiba-tiba saja setelah membayar uang pendaftaran dan masuk PGA didin menyatakan tak suka bersekolah di PGA. Alasannya terdengar sangat naif : nggak suka jadi guru,nggak suka menghafal ayat dan hadis. Aku yakin sebenrnya abangku tahu apa itu PGA dan kepindahanyya pastilah terkait kesadaran tiba-tiba tentang kebebasan, gaya hidup remaja dan pengaruh teman-temannya yang ramai-ramai keluar darin PGA.  Ayah meradang dan sempat mengobrak-abrik kamar abangku saat Didin tak beranjak dari tempat tidur ketika waktu bersekolah tiba. Akhirnya untuk yang kedua kalinya ayahku menyatakan kecewa dengan semangat menuntut ilmu anak-anak lelakinya. Saat itulah aku menyaksikan kemarahan dan frustasi ayah sehingga tanpa aku sadari  tertanam dalam bawah sadarku bahwa aku tak akan mengecewakannya dan aku adalah harapannya yang ingin memiliki anak mahasiswa yang  masih tersisa.

 

Walaupun pendiam, Didin tetap bisa membuat suasana jadi penuh tawa karena jika berbicara sepatah kata saja ia sudah mampu membuat kami terbahak. Aku masih ingat saat kecil dulu bertamasya ke kebun raya bogor. Didin mabuk berat walaupun jarak tempuh cuma dua puluh kilo meter. Tamasya di kebun raya saat itu seperti menempuh perjalanan yang sangat jauh bahkan ibu membawa perbekalan lengkap mulai dari nasi,lauk pauk hingga sambal jengkol dan pete. Tak lupa membawa air minum dalam poci yang dijinjing bi erob. Perjalanan selama satu jam sangat menyiksa karena mobil yang kami tumpangi seperti alat penyedot isi kepala dan isi perut. Penumpang masuk dengan cara berjejal. Bangku penumpang adalah lapisan plastik yang membuat sekujur tubuh panas apalagi jika terkena sinar matahari. Udara pengap karena jendela yang tertutup sementara pengatur suhu hanyalah angin yang bertiup di sela jendela yang terbuka. Bensin campuran menambah sedap bau di dalam kendaraan membuat kepala ingin memuntahkan semua isi perut walaupun bi Een sering menganggap bau bensin sangat menyenangkan. Ah, si Een mah gelo, begitu kata A Didin menanggapi opini bi Een tentang bau bensin. Puncak siksaan adalah ketika hujan datang karena pintu mobil dan seluruh jendela harus ditutup rapat. Jadilah kami seperti udang yang sedang dihangatkan dalam sekotak kaleng. Aku,Didin dan nenen adiku pasti muntah udag lajer dan membuat suasana perjalanan kadang berubah jadi pertempuran melawan kesabaran dan kemarahan.

 

Di kebun raya kami berkeliling taman kebun raya dan puncak acara adalah membuka perbekalan yang dikemas dalam rantang dan memboyong  tempat makanan di dapur. Kami seperti memboyong dapur karena alat makan yang kami pakai adalah apa yang ada didapur dan bukan alat khusus untuk bepergian. Tak heran jika poci aladin besar tempat menyimpan teh, termos, piring plastik dan rantang empat susun dibawa. Bi erob tentu saja paling repot karena menjadi andalan ibu untuk berkemas makanan. Ada kejadian lucu ketika kami menyusuri kebun raya untuk pulang. Bi erob bertubrukan dengan seorang kakek pejalan lain. Tentu anda pernah mengalami bertumbukan dengan seseorang yang berjalan di jalur yang sama tapi dari arah yang berlawanan. Kita sering jadi masgul karena saat serong kiri si pejalan didepan kita ikut serong kiri,kita ke kanan di juga kanan sehingga biasanya salah seorang harus diam untuk membiarkan si pejalan dari arah berlawanan memutuskan hendak  ke sebelah mana dia berjalan. Nah, bi erob ini saking groginya berjalan dan bertumbukan sampai yang serong kiri serong kanan itu bukan hanya kaki tetapi juga leher bi erob dan si kakek dari arah berlawanan. Tentu saja jadi pemandangan aneh dan mengundang tawa kami. Lain lagi ulah a Didin si pendiam dan si pendekar mabuk, begitu kami naik ke dalam bemo untuk menuju terminal colt mini yang menuju leuwiliang, dia langsung menundukan kepalanya ke tubuh kang uwoh karena takut mabuk. Lama setelah bemo berjalan dia merasakan sensasi yang berbeda dari sebuah bemo. Ternyata a didin menikmati perjalanan bemonya walaupun dengan kepala tetap nyungsep di tubuh dan paha kang uwoh. Lalu tiba-tiba antara ngigau atau jeritan harapan hatinya, a Didin berkata, umi…..bemo na nepi ka leuwiliaaaaang?….

 

A didin pandai membuat lelucon. Diantara sahabatnya dia dikenal tukang komentar lucu. Aku sering terbahak saat mendengar didin berceloteh pendek. Aku masih ingat ketika ia menghardik si sumi anak bi een yang super ganjen dan centil. Dengan gayanya yang memang pikasebeleun si sumi hilir mudik di depan muka a didin. Terang saja abangku ini naik pitam sambil menghardik, sumi…cicing maneh, di karate ku aing! . hahaha aku ngakak mendengar a didin menggunakan kata karate untuk menghardik si sumi karena selain ia tak pernah ikut karate, toh si sumi jangan-jangan tak mengerti apa arti karate. Lain kali aku tertawa saat  a didin mengomentari ulah anak-anak neng kimung yang emang matanya belo semua seperti ayahnya,si jeje. Saat si irgi membuat tingkah yang menyebalkan a didin, komentarnya pasti konyol….Irgi!, awas maneh dicolok matana ku aing! Belum lagi si Irgi pernah dikerjain gila-gilaan ketika a didin mengatakan pada Irgi bahwa sekarang ada obat tetes mata untuk mengecilkan mata yang menonjol keluar alias belo supaya tidak terlalu belo. Si Irgi dengan polosnya meminta dibelikan obat itu pada ibunya dan tentu saja membuat semua orang tertawa dan tahu siapa yang telah mengerjai si Irgi.  Lain lagi saat a didin menggodaku jika aku ia tahu aku memiliki baju baru, kalimatnya pasti konyol seperti…geus, eta mah pantesna di urang, maneh mah meuli deui. Emak, nenek kami saja tak luput dari kejahilan a didin. Aku masih ingat saat lebaran berkunjung ke rumah emak. Seperti biasa saat kami bersiap pamit pulang emak seperti tahun-tahun lalu akan memasang wajah memelas tetapi sumringah dan tangan terbuka  untuk siap menerima uang lebaran dari anak cucunya. Satu persatu kami antri untuk menyelipkan uang ke tangan emak yang keriput, istilahnya ngeupeulan. Tiba giliran a didin emak kaget sekali karena biasanya kami mewakilkan itu kepada istri masing-masing, sisinarieun si eta! biasana tara ngeupeulan ka aing! begitu kata emak dengan sumringah. Setelah cium pipi kiri kanan antara emak dan a didin, emak menjerit sambil memelototi apa yang ada di tangannya. Ternyata yang diselipkan a didin ke tangan emak adalah beberapa helai kulit buah. Kami semua tertawa terbahak  dan amarah emak langsung reda begitu istri a didin menyelipkan lembaran uang asli ke tangan emak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.