ADE SUSANTI
Kalo ada orang nggak percaya bahwa perempuan banyak yang sangat gagah dan pemberani maka kusarankan agar orang tersebut bertemu dengan sahabat tercintaku Ade Susanti. Sejak pertemanan di SMA dulu aku sudah tahu bahwa ade bukan perempuan biasa. Rambutnya tidak pernah melebihi kuping karena selalu dipotong cepak. Gaya jalannya juga bukan tipe perempuan yang minta dipelototi lawan jenis tapi seperti menantang siapa saja untuk berantem adu fisik. Jangan coba-coba menyentuhnya tanpa alasan karena satu pukulan akan langsung dihajarkan kepada yang berani mencobanya. Bahkan aku pernah tanpa sengaja menyenggol dadanya (sumpah nggak sengaja!) dan tanpa tedeng aling-aling dia balas meremas dadaku. Gila kan? Masak cowok dadanya diremas?
Ade adalah Odah, julukan pak Zainuddin guru SMA kami. Orangnya sangat ceria sampai aku pernah bertanya padanya apakah ia pernah bersedih dan menangis. Aku masih ingat caranya tertawa karena saat duduk di kelas satu aku begitu akrab dengan Ade. Aku berasal dari sekolah Tsanawiyah yang tidak punya banyak teman seangkatan yang melanjutkan ke SMA Leuwiliang sehingga aku hanya mengenal beberapa gelintir anak saja termasuk Ade yang kebetulan teman sekampung. Tiap hari aku berangkat dan pulang bersama Ade, sesekali dengan Pepi dan Evi. Biasanya Ade akan rame bercerita dan jalannya selalu seperti orang sempoyongan dan sedikit membungkuk (belakangan baru aku ketahui kalo Ade membungkuk karena ia benci dengan dadanya yang terlalu membusung). Saat aku dan ade berjalan berdua sebenarnya adalah dua remaja dengan karakter kontras. Ade dengan sisi maskulinitasnya yang luar biasa dan aku remaja cowok dengan sisi feminitas (hihihi….kata orang aku terlalu lembut untuk ukuran anak lelaki). Mungkin karena itulah kami sangat cocok karena aku merasa bersahabat dengan anak laki-laki yang berwujud ade susanti. Malah aku pernah bercerita ke ade kalo aku abis ditolak cinta oleh seorang gadis (hahahaha…..,tapi gadis itu nyeselnya sampe sekarang lho De) dan ade hanya cengar cengir hambar saja.
Tak banyak lagi yang bisa kuingat karena setelah kelas dua kami jarang berjumpa karena aku masuk kelas Biologi dan ade masuk kelas sosial. Lagipula di kelas dua itu tiba-tiba aku sibuk memproklamirkan diri dengan pacar baru dan semakin sibuk dengan keanggotaan geng kacenjus. Sesekali masih bertemu di sekolah dan saat pulang sekolah.
Lulus sma,kuliah, kerja, kuliah lagi, kerja
Aku pernah bertemu ade ketika menggendong anak pertamanya bersama sang suami. Setelah itu benar-benar tak ada kabar lagi sampai kemudian aku mendengar dari ibuku bahwa suami ade meninggal dunia di rumah sakit PMI Bogor karena diare akut. Innalillahi wa inna ilaihi Raajiuun. Aku tentu kaget tapi saat itu tak memungkinkan aku untuk menemui ade dan mengucapkan belasungkawa. Tahun 2003 aku mengundang teman-temanku untuk berkumpul dan reuni di jakarta. Kebetulan bombom sedang ada di Bandung jadi lengkaplah keinginanku untuk berkumpul. Itulah saat pertamakali aku melihat kembali ade susanti. Senyum dan gayanya tak berubah dan tetap penuh semangat hidup. Seperti acara kumpul lainnya, kami akhirnya sampai pada acara bercerita tentang suka duka hidup selama ini. Tak disangka ternyata ade paling antusias bercerita. Semua seksama mendengarkan karena ade bercerita dengan selang-seling tawa dan mata berkaca-kaca. Ade bercerita dari A sampai Z walau secara garis besar saja tentang apa yang dialaminya dalam hidup selama ini. Suaminya meninggal, anaknya dua, lelaki dan perempuan, saat ini tinggal dengan kakaknya di laladon. Bagaimana detik-detik menjelang kematian suaminya, perlakuan keluarga suaminya, sikapnya memandang hidup, semua ia ceritakan dengan gaya lucu dan sempat membuat semua orang tersihir karena cerita hidupnya bisa dibilang dramatis. Aku tak menganggapnya getir karena seseungguhnya semua orang diberi cobaan dalam hidup.Getir atau tak getir hanya bagaimana kita sendiri menyikapinya. Berulang kali aku katakan pada ade bahwa aku begitu takjub dengan caranya menghadapi hidup.
Kalo sudah ada ade,akung,dewi dan lia, maka panggung acara jadi milik mereka. Bagi akung, ade adalah sumber inspirasi lelucon yang tak ada habisnya. Semua akan jadi bahan tertwaan dan semua kalimat lucu dan penghinaan akan keluar. Kalimat penghinaan yang paling rendah pun terasa sebagai lelucon yang menyenangkan saja. Ibarat empat sehat lima sempurna, maka Lia adalah susu yang menyempurnakan. Akung ibarat diberi mainan antik karena dengan itu ia bisa mengolah segala kalimat dan ekspresi lucu. Ade,akung dan Lia adalah tiga sejoli yang diutus Tuhan untuk membuat kami tertawa. Tentang Lia ini perlu aku tambahkan bahwa dia adalah sahabat kami dengan ciri-ciri fisik yang yang membuat kami bahagia. Bagaimana tidak, dengan tubuh suburnya Lia percaya diri saja untuk berkata-kata dengan segala sumpah serapah sehingga kami akan dibuatnya tertawa berdiri. Apalagi kabar terakhir dari ade kudengar suami Lia telah berhasil menjadi kepala Desa…(heheheh…semua bertanya-tanya akan kemana warga desa mengadukan Bu Lurahnya yang kejam itu?).
Ah, inget ade jadi ingin kubuat sebuah kesimpulan indah : belajar senyum menghadapi hidup dan berkeluh kesah hanya kepada Allah
Nov 07, 2008 @ 07:31:11
Odah…disaat susah pun tetep ketawa ngakak!