Agus Saputra
Agus Saputra namanya.Bapaknya tentara (aku nggak tahu pangkat terakhirnya apa) makanya Agus memiliki karakter keras dan berani melawan. Sebenarnya dia sainganku sejak SMP karena kami sekolah di tempat yang sama. Masuk SMA kecerdasannya makin terasah sehingga aku selalu berada di bawahnya. Agus ranking 1 aku rangking 2, agus rangking 2 aku rangking tiga. Diantara kami uang jajan Agus termasuk minus tapi kesehatannya paling bagus. Kami menjulukinya si kumis karena sejak SMP sudah memiliki kumis hitam legam dan baplang. agus paling sering jadi korban pembunuhan karakter kami terutama soal cewek dan gaya, sementara soni abstain karena hanya Soni yang pendiam. Aku dan Bom-bom adalah sejoli tukang ngetawain dan gong penghinaan terbesarnya akan dilakukan Akung. Saking jailnya, aku dan bom-bom pernah melaporkan Agus pada ibunya bahwa agus sudah tidak masuk sekolah selama tiga hari. Aku ingat waktu itu jam istirahat, bingung karena nggak ada kerjaan, aku dan bom-bom meluncur dengan motor ke rumah agus. Disana aku nemuin ibunya yang sudah aku kenal dan bilang bahwa agus sudah 3 hari tidak masuk sekolah. Ibunya langsung bingung dan jengkel karena setiap hari Agus berangkat dari rumah. Yang lucu malah komentar adiknya….’mungkin kebawa mobil, tiap hari nyasar…..’, hihihihiiik…(ampuuuun…maaf umi Agus, adik Agus). Besoknya agus uring-uringan dan marah besar…aku dan bom-bom Cuma cengir-cengiran aja. Yang lebih gila kejadian waktu belajar bersama. Ceritanya kita belajar bareng bertiga,aku, bom-bom dan agus. Kami belajar di teras rumah dengan meja belajar dan tiga kursi. Saat mengerjakan PR itulah aku dan bom2 mulai liat agus terkantuk-kantuk berat (agus ini suka banget nonton…bahkan misbarpun jadi makanya sering ngantuk di jam melek). Mulailah setan membisikan sesuatu padaku dan bom2. Makin lama agus nampaknya makin ngantuk sampai akhirnya terlelap dengan kepala dan tangan menempel diatas meja. Kemudian ngorok!, …….nah inilah pemicu segala jailku. Aku bergegas nyari tali rapia. Bom2 setuju ketika aku mulai mengikatkan kaki dan pinggang agus ke kursi dan meja. Rasanya nggak kuat menahan tawa ketika kami membayangkan betapa kagetnya saat agus terbangun nanti. Kurang seru, aku dan asep segera berinisiatif meninggalkan lokasi,biar kaget agus makin heboh. Kami masuk kamar yang berbatasan dengan teras dan tetap mencoba mencuri dengar apa yang akan terjadi pada jam berikutnya. Lama kami tak mendengar apapun. Eh, tiba2 terdengar suara batuk2 agus, kemudian terdengar suara kursi bergeser (sayang sekali saat itu belum ada teknologi kamera digital kayak di HP yang bisa merekam ringisan dan kekagetan agus). Aku dan bom2 rasanya ingin kencing menahan tawa. Terdengar suara agus memanggil-manggil namaku pelan, karena malam sudah larut dan dia pasti malu kalo kakak kakakku sampai terbangun. Aku tak bergeming. Berikutnya suara agus nampak berhasil memutuskan tali, terdengar suara kaki berjalan pelan kemudian……lenyap. aku dan bom2 bingung. Nyari atau cuekin. Dasar aku dan bom2 tak berperikemanusiaan, kami malah tidur dan tidak ingin tahu kemana dan dimana agus tidur. Esoknya agus marah2 di sekolah, tapi itulah sahabat. Yang memarahi dan dimarahai akhirnya cengar-cengir……………..