BOMBOM

Diantara sahabat-sahabatku, bombom adalah remaja lelaki yang paling perasa. Sering ketika kami bercanda yang terlalu jauh atau dengan bahasa yang kelewat sadis, bombom akan menunjukan wajah yang menyiratkan tidak setuju. Karena kedekatan yang sangat lama, aku bahkan sudah mengenal bahasa wajahnya yang paling ringan sekalipun ketika ia tak setuju dengan ucapanku. Kadang aku malu sendiri ketika tiba-tiba tersadar jika ucapan dan guyonanku basi sekali. Anehnya, kalo urusan mengorbankan agus kumis dia selalu setuju denganku. Saat mengolok maupun memperdaya agus kumis adalah saat yang paling tepat melihat tawa bombom yang paling keras. Walaupun paling perasa dan pemalu, bombom paling kami andalkan untuk urusan link persahabatan diluar geng. Diluar geng kami, bombom memiliki teman yang banyak dan sering ikut bermain dengan anak kampung lain.

 

Ayah bombom adalah pegawai sekaligus kepala kantor Pos di kecamatanku. Wajahnya berbeda dengan bombom yang gempal dan berkulit coklat, pak Rosid ayah bombom adalah pria paruh baya berwajah tampan dan sering nampak seperti seorang Indo dengan kulit yang kemerahan. Wajahnya menyiratkan kebijakan walaupun kadang terlihat membuat kikuk remaja seusiaku. Setali tiga uang dengan mamah bombom, selalu hangat menerima kehadiran kami di rumahnya. Aku kadang risih sendiri karena malu kalo sudah terlalu sering menginap di rumah bombom ( beda dengan akung yang terlahir dengan urat malu yang setengahnya sudah terputus saat usia 2 bulan).Rumah dinas kepala kantor pos inilah yang menjadi base camp geng kami setiap jam pulang sekolah tiba. Kami akan duduk atau ngobrol dan bercanda di kamar depan yang dihuni bombom. Biasanya kami selingi dengan menyanyi bersama dengan formasi  bombom main gitar, akung lead vokal, sementara aku dan agus backing vokalnya (anyway backing vokal disini bisa berarti juga memperburuk suara penyanyi utama mengingat kemampuan olah vokal aku yang fales berat dan suara agus yang hanya menang dari suara anak TK luar biasa yang nyanyi lagu orang dewasa). Nggak ketinggalan asap rokok memenuhi ruangan kamar seperti sedang ada kegiatan bakar-bakar sampah, maklum agus, akung maupun bombom perokok aktif sejak SMP, sementara aku perokok pasif yang pada akhirnya ketika bekerja nanti menjadi perokok aktif. Soal lagu, ada beberapa lagu yang saat itu happening banget dan jadi jingle wajib geng kami. Kalo nggak salah lagunya Ruth Sahanaya yang berjudul memori, lagu Nicky Astria judulnya lupa dan tentu saja lagu Iwan Fals yang judulnya Buku ini aku pinjam……

……………………………..

Buku ini aku pinjam

Kan kutulis sajak indah

Hanya untukmu seorang

Tentang mimpi-mimpi malam

……………………………………….

 

Jika malam minggu tiba, kami berlima pasti belingsatan sejak sabtu pagi, memikirkan acara apa yang akan kami buat. Nginep rame-rame sudah pasti, entah itu di rumahku, rumah kakakku,rumah bombom, rumah Soni atau sesekali di rumah akung  (hihihi….kita ternyata nggak pernah nginep di rumah agus ya…..). kalo bosen kita biasanya cari alternatif ngincer temen lain yang rumahnya bisa dikunjungi dan bisa dipake bermalam. Paling okeh kalo rumah si temen di kampung yang masih ada sungai dan pesawahannya, cus banget buat hiking dan renang gratisan. Salah satu temen yang pernah kami satroni rumahnya adalah Abbas.  Anak sekelas kami dengan tipikal perawakan dan gaya anak kampung sejati. Bengal, kekar dan seperti tak takut apapun. Kami cabut sejak siang sepulang sekolah. Heran juga kalo inget bahwa saat itu kami baisa pergi tanpa membawa perlengkapan apapun padahal acara bermalam. Nggak inget baju ganti, celanan dalam, sikat gigi apalagi sabun. Kami berangkat dengan baju seragam dan tas sekolah saja. Abbas ternyata setuju begitu kami sampaikan keinginan untuk bermalam dan ngendong di rumahnya.

Hari sudah sore ketika sampai di kampung abbas, kebetulan arahnya sama dengan jalan menuju rumah nenekku jadi kami cukup hapal daerah yang akan dilalui. Ketika sampai di jembatan dan melewati sungai, tanpa ampun kami langsung berlarian turun ke arah sungai untuk mandi, ya menyeburkan diri ke sungai yang hijau dan jernih. Kami langsung sibuk buka baju dan celana. Tapi kami lihat si akung sambil cengengesan malah membuka seluruh pakaiannya. “Lu siap pulang nggak pake cedal? Gua mah ogah…mending bugil asal cedal kering…..”….hihih…si akung berargumen membenarkan kelakuan dirinya. Aku,bombom dan soni sempet bingung. Apalagi Agus karena dia sadar tuguhnya setengah dewa penuh bulu rimba. Akhirnya dengan pertimbangan sederhana dan cepat serta alasan logis yang dikemukakan akung itu pula akhirnya kami turun ke sungai dengan telanjang beramai-ramai (kalo inget bagian ini saya suka mules karena malu mengenangnya…..).

Kami nggak nyangka juga abbas ternyata tuan rumah yang baik karena menyediakan makanan yang layak dan sesuai untuk kami yang selalu lapar. Kami disediakan ayam bakar dengan nasi khas bau pedesaan (nasi walaupun sama tapi kalo di masak pake tungku kayu bakar oleh tangan ikhlas ibu-ibu di desa rasanya bedaaaaaaaaaaaaaaaaaa banget). Semalam suntuk kami begadang, menyanyi, ketawa, cerita, nyanyi lagi, ngerokok, ngopi, cerita cewek, cerita guru….ah semua diomongin.

 

Balik lagi soal bombom, karena pemalu inilah bombom walaupun termasuk kategori manis asem jawa nggak laku sampai kelas tiga SMA (well, sorry to say if we talk about love or a girl, bombom is as worst as agus at that time ). Pernah naksir cewek di sekolah tapi dia nggak berani mengungkapkan (tragedi cinta sejak zaman romawi kuno) sampai suatu ketika nanti akhirnya kami tahu siapa yang dia taksir. Syukur juga diantara kami di geng Kacenjus hanya aku yang udah laku (hihihih…jangan marah friends…) dan punya cewek, soalnya kalo semua punya gandengan mungkin ceritanya akan beda. Lagian aku kan nggak suka nyantol 24 jam dan bukan tipe remaja yang kebelet kawin, paling banter pulang sekolah jalan dan makan dulu. Urusan cewek ini juga sering bikin ruwet karena temen-temenku keberatan dengan gaya gandenganku yang possesif dan sok ingin ikut (heheheh…..malah ada yang pake istilah golek segala,sadis lo pade…). Aku juga nggak pernah intens dengan cewek yang satu ini walaupun menurut beberapa pendapat ada yang  bilang kalo cewek satu ini cantik dan setia (cuuus, apaan tuh setia).

 Bombom juga punya mimpi-mimpi sepertiku saat remaja dulu. Berkelana ke seluruh penjuru dunia dan penasaran jika tak menginjakan kaki di eropa atau australia (belakangan semua cita-citanya terkabul karena bombom bekerja di kapal pesiar dan berlayar sampai ke alaska segala).

 

Mungkin karena di didik dengan latar belakang sopan santun gaya bandung priangan, bombom cenderung sensitif dan pundungan. Aku baru tahu segitu sensitif nya bombom ketika suatu sore ia mengajakku untuk pergi ke Cianjur naik motor itemnya. Hari itu hari jumat berarti kami harus bolos hari sabtu. Well, nggak apalah sekalian pengen ketemu soni yang saat itu udah pindah rumah dan bersekolah di Cianjur. Kami pergi ketika hari mulai gelap dengan rute bogor,puncak, cianjur. Udara puncak yang dingin membuatku hampir meminta bombom untuk kembali ke leuwiliang. Tapi bombom nampak udah bulat tekad bara membaja  ingin pergi ke cianjur. Sampai di cianjur soni nggak ada di rumah tapi untung ada maman, saudara soni yang tinggal di rumah soni ( ya ampuuun…..son, kamana ari maman teh ayeuna?). seperti biasa kami selalu punya acara saat berkumpul (acaraaaaaaaaaaa mulu,kapan kerjanya?belajar? hihihi…untung tetep pinter). Bakar ayam dan bakar ikan menu acaranya. Aku nggak menangkap sesuatu yang aneh dari raut wajah bombom sampai ketika esoknya agus dan akung datang menyusul (horas! Akhirnya agus dan akung bisa berjalan berduaan doang). Wang, si bombom itu kan lagi kabur?…,

“hah………?”…. Aku melongo,

“iya, dia lagi pundung sama nyokapnya”, agus nyerocos

“minta dibeliin Video tape”, akung menimpali, ……………”makanya ngajak lu doang, soalnya acara kabur pundung”…………

Bombom Cuma diem tersipu, sementara aku menahan tawa campur rasa aneh dan kasian. Agus dan Akung sibuk ngais-ngais makanan yang disediakan Soni karena mereka kelaparan sepanjang perjalanan leuwiliang  Cianjur (hihihi…tanpa kita-kita mereka kelaparan coy!).

 

Beberapa hari kemudian, ketika kami mampir sepulang sekolah ke rumah bombom, mamah bombom berbisik padaku bahwa bombom ke Cianjur karena pundung pengen dibeliin video. Mamah bombom cerita dengan wajah yang tetep penuh belas kasih dan sempet khawatir jika  terjadi apa-apa dengan bombom,katanya………….sekarang udah ada tuh videonya”.

 

Iiiiiiiiiiiih, segitunya si bombom, kirain aku dia pengen ngerjain si agus kumis dan si akung  yang dodol dodol…ternyata malah nyulik aku ikutan kabur karena pundung.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.