BUKU DAN IMPIAN
Hobby yang paling kutekuni dari kecil sampai saat sekarang adalah membaca. Aku banyak tahu hal di dunia ini dengan membaca. Sejak kecil aku sudah bernafsu setiap kali melihat kertas yang tercetak huruf diatasnya apakah itu selembar koran bekas pembungkus belanjaan ibu di pasar, majalah usang, majalah ayah, koran ayah, buku pelajaran kakak bahkan beberapa bacaan dewasa yang tanpa sengaja kutemukan dan kubaca. Imajinasiku ikut terbang setiap kali kubaca tentang perjalanan atau pengalaman seseorang yang berkelana entah itu ke amerika, eropa atau negara kawasan asia lainnya. Salah satu buku yang amat mempengaruhi keinginan dalam hidupku adalah sebuah artikel surat sahabat yang menceritakan kisah seorang pelajar indonesia yang sedang menuntut ilmu di negara jerman yang ditulis di majalah mutiara. Aku lupa nama penulisnya dan kalau tidak salah bernama Wisnu. Wisnu dikirim oleh pak Habibi dalam projek BPPT yang ingin melahirkan anak-anak insinyur untuk memperjuangkan Indonesia menjadi negara industri dengan kekuatan industri pesawat terbang. Aku begitu kagum dan terpesona dengan apa yang diceritakan Wisnu sejak awal persiapan menuju Jerman sampai ia berada di Jerman. Sejak itu aku sudah mengangkat sumpah pada diriku sendiri bahwa aku tak akan tenang dalam hidup jika tak pernah menginjakan kaki ke luar negeri. Cita-citaku melambung untuk dapat bersekolah di luar negeri dan membayangkan kebahagiaan dan kebanggaan ayah ibuku memiliki anak yang bisa menuntut ilmu hingga ke seberang lautan. Sebagai anak kampung pinggiran aku tak banyak mendapatkan akses untuk mencicil keinginanku sekolah tinggi. Kecamatan Leuwiliang bukanlah daerah dimana semangat menuntut ilmu para pemudanya tinggi karena kebanyakan dari kami adalah anak-anak dengan latar belakang orangtua pedagang dan sebagian lagi petani. Kampus IPB memang hanya berjarak 12 km dari Leuwiliang tetapi imbasnya tak terasa samasekali. Kegiatan teman-teman sebayaku sangat jauh dari dunia keilmuan atau pendidikan. Kami tak mengenal perpustakaan, gedung kesenian apalagi gedung olahraga untuk melatih cabang olahraga yang disukai anak-anak remaja. Situasi Leuwiliang lebih didominasi sebagai daerah sentra perdagangan dari wilayah-wilayah pinggiran disekitarnya seperti karacak sampai tanjung sari, nanggung sampai jasinga dan cibatok sampai ciampea. Tak heran struktur dan fasilitas kota kecamatan leuwiliang amburadul dan tak mengenal tata kota. Jalan raya yang sempit dengan kesadaran berkendara penduduk yang sangat rendah membuat kota kecil leuwiliang sering mengalami kemacetan tak masuk akal dari dulu. Tempat pembuangan sampah hampir tak dikenal oleh warga karena mereka lebih suka melemparkan sampah ke sungai di depan rumah baik itu sungai kecil seperti cagatet dan susukan maupun sungai cianten. Sejak aku kecil dulu aku sudah terlatih menyaksikan kotoran dan bau sampah di sepanjang jalan kecil menuju sungai cianten. Kota kecamatan leuwiliang kami juga mengenal wilayah kumuh seperti beberapa titik di lebak kaum, kaum, lebak pasar, lebak sirna dan putra harapan. Rumah-rumah nyaris hanya berbentuk gubuk tanpa sanitasi dan ventilasi yang memadai. Gang-gang sempit yang gelap seperti berada di tengah kota yang sangat padat padahal leuwiliang saat itu masih memiliki banyak persawahan. Banyak tetangga sekitar rumahku yang tak memiliki kamar mandi dan toilet sendiri dan bukan karena ketidakmampuan mereka untuk membuatnya. Aliran sungai kecil didepan rumah kami menjadi toilet mereka dengan cara membangun ruang kecil yang didalamnya dibuat lantai berlobang. Ironisnya ada tetanggaku yang enggan membuat toilet dalam rumahnya karena keyakinan aneh yang dianutnya bahwa rumah yang memiliki tempat buang hajat didalam rumah tidak baik dan celaka. Dari membaca buku aku tahu bahwa kota-kota di negara maju baik itu kota kecil maupun kota besar memiliki fasilitas dan tata kota yang sangat baik. Rumah-rumah dibangun dengan teratur dan penuh estetika. Perpustakaan umum, taman kota, gedung olahraga, gedung kesenian bahkan kota kecilpun memiliki tempat terbuka yang begitu indah dan kesucian sungai yang dijaga dengan ketat. Aku sering bergetar ketika memandang gambar pemandangan kota-kota asri di Eropa. Desa-desa di Itali sering membuatku membayangkan bahwa sorga mungkin bentuknya seperti itu. Aku semakin terbelalak ketika menemukan sebuah majalah tentang arsitektur rumah di luar negeri. Rumah dibuat begitu indah dengan kelengkapan seperti furnitur, kamar mandi, taman, kolam renang seperti bukan di alam dunia. Ibu sering menukasku jika banyak bertanya kenapa orang kulit putih hidupnya begitu indah. Sorga mereka di dunia, sementara sorga kita di akhirat nanti, kata ibu. Benar apa yang dikatakan ibuku tapi sebagai anak yang selalu berfikir aku merasakan suatu yang salah telah terjadi sehingga orang-orang kulit putih saja yang hidupnya lebih indah.aku tak pernah tahu bahwa di negeri inipun saat itu sudah banyak rakyatnya yang menikmati keindahan hidup. Ibu melarangku banyak berkhayal untuk memiliki hidup indah seperti orang kulit putih tetapi ibu telah banyak menerapkan prinsip yang jauh lebih modern dibandingkan dengan masyarakat sekitar kami. Ibuku mampu membaca dan berhitung sehingga ibu mampu menjadi istri sekaligus rekan bisnis ayah yang handal. Ibu sering menceritakan kesuksesan hidup orang-orang yang berilmu dan berpengetahuan. Kamu harus sekolah yang tinggi supaya bisa jadi orang yang mampu melihat karena ilmu itu cahaya. Alilmu nur. Kesukaanku pada buku rupanya tak banyak diperhatikan oleh ayah ibu karena mereka begitu sibuk mencari nafkah untuk memastikan bahwa kami bisa makan dan ada simpanan uang untuk berjaga-jaga saat menghadapi kesulitan. Setahuku tak ada tetangga yang mampu untuk ikut asuransi kesehatan apalagi pendidikan sehingga hidup bagi kami kebanyakan seperti sebuah permainan yang menegangkan karena kami tak tahu apa yang akan terjadi esok hari dan tak ada apapun yang bisa kami pegang. Kami biasa mendengar tetangga yang mengalami kepailitan yang memang sudah kekurangan karena salah satu anggota keluarganya jatuh sakit lama dan memerlukan perawatan dengan biaya besar. Belum lagi bencana lain seperti kebakaran yang bisa melenyapkan seluruh harta dan tempat usaha dalam sekejap. Aku masih teringat kejadian memilukan ketika tetangga seberang jalan rumah kami mengalami kebakaran hebat. Harta bendanya hanya sedikit saja yang terselamtkan sehingga mereka tak lagi memiliki apapun. Sekarang aku menyadari betapa sangat tak mungkin saat itu untuk menyediakan buku-buku yang layak untuk kami. Harga buku yang relatif mahal selalu dibandingkan dengan berapa liter beras yang dapat dibeli dengan uang sebanyak itu. Bagi masyarakat agraris di perkampungan setiap harga suatu barang memang akan di rujukan pada berapa liter, gedeng atau karung beras. Semua barang terdengar mahal dan bagi kami seperti membuang berkarung beras jika harus menukarkannya dengan beberapa buah buku. untungnya ayahku tetap memaksakan diri sesekali membeli koran dan berlangganan majalah panji masyarakat. Koran yang sering dibelinya adalah koran Sinar Pagi yang beritanya lebih memanjakan pembaca dewasa karena sering memuat cerita-cerita erotik disamping berita poliitik dan lainnya. Aku tak pernah ketinggalan membuka setiap koran yang dibeli ayah dan dari sinilah petualanganku dengan dunia luar bermula. Majalah panjimas lebih aku sukai karena sering menampilkan foto berwarna yang menceritakan kota-kota didunia walaupun dalam bingkai cerita penyebaran islam di negara-negara lain. Dari sinilah aku mengenal kota Jerusalem yang sangat diimpikan oleh tiga agama besar di dunia, Islam, Kristen dan Yahudi. Bangsa-bangsa besar berlomba menaklukannya dan pertumpahan darah terjadi sejak ratusan tahun bahkan ribuan tahun lalu. Aku begitu terpesona pada epik kepahlawanan Salahuddin Al Ayyubi sekaligus takjub dengan kegagahan Richard The Lion Heart yang menjadi lawan di medan peperangan crusade. Impianku untuk mengunjungi yerusalem tertanam sejak saat itu hingga sekarang. Aku selalu mengharapkan suatu ketika dapat memasuki masjid alaqsa. Aku ingin meapaki tanah yang ribuan tahun telah dilalui berbagai bangsa di muka bumi. Jerusalem adalah tanah para nabi selain jazirah arab lainnya. Kolom dan tulisan lainnya di panji masyarakat aku baca tapi lebih sering membuat keningku keriput karena bahasa dan konteksnya sukar di fahami untuk anak kelas lima SD. Aku masih ingat membaca berulang-ulang sebuah kolom bersambung Emha Ainun Nadjib berjudul ‘ mereka mencari rumus Tuhan’ dan aku tak pernah berhasil mencernanya. Kemudian Tuhan mentakdirkan bahwa aku harus mendapatkan buku-buku yang kuinginkan. Sebuah keluarga pindahan baru yang tinggal di kampungku akhirnya menjadi salah satu penyedia sumur ilmu pada dahagaku selama ini. Keluarga Pak Ahis memiliki seorang anak yang sebaya denganku bernama Yusa. Pak Ahis seorang pegawai Depag yang sering hilir mudik ke Bogor dan ia rajin membelikan majalah dan buku buat anak-anaknya termasuk Yusa. Majalah Hai adalah salah satu bacaan paling mempesona yang mengundang minatku sejak pertama kali aku membacanya. Pak Ahis seorang yang akan kukenang sebagai pembawa kunci pengetahuan awal bagiku karena ia dengan senang hati sering mengundang kami untuk membaca di rumahnya. Ia keluarkan semua buku dan majalah yang ia miliki bahkan kadang ia siapkan penganan kecil untuk kami. Aku bahagia setiap kali berada di depan rumah Yusa. Kadang aku yang merengek dan merajuk pada Yusa agar membawa majalah barunya. Dari majalah Hai aku banyak menemukan hal mengagumkan. Aku punya tempat rahasia saat membaca buku yang sangat menarik karena aku tak ingin diganggu oleh kakak kakakku atau ibu yang sering menyuruhku ke warung bi Enung untuk membeli bumbu dapur. Aku menyelinap ke atap rumah yang tepat berada di bawah naungan pohon cengkeh di depan rumah. Tempatnya teduh dan tersembunyi. Aku bisa berjam-jam duduk disana dengan beberapa buah buku dan majalah bekas. Menginjak usia sekolah menengah pertama keluarga kami mengalami peningkatan taraf hidup yang jauh lebih baik. Kakakku yang pertama telah menikah dan suaminya membuka sebuah toko di pasar lama leuwiliang. Kakakku yang kedua memutuskan berhenti sekolah di kelas dua SMA karena bertekad untuk membuka toko kelontong di toko pasar baru leuwiliang yang dibeli ayah dengan susah payah. Tak menunggu lama kakakku yang kedua mulai menampakan kemajuan usahanya. Aku sering ikut membantunya dengan bekerja sebagai part timer saat kakakku berbelanja bahan dagangan atau saat waktu shalat dzuhur. Bekerja di toko kakakku yang pertama maupun yang kedua tak menyurutkan langkahku untuk mengelana dunia, keluar dari leuwiliang. Aku tak pernah mendapatkan pujian berarti saat bekerja karena sering melakukan keslahan fatal dan dianggap tak punya bakat berbisnis. Aku tak pernah bersedih dengan komentar mereka bahkan semakin meyakinkan diriku bahwa aku memang tak mau hidup dengan menghabiskan waktu di pasar. Pekerjaanku di toko tetap menyenangkan bagiku karena tumpukan majalah dan koran luar biasa banyaknya dan aku menghabiskan waktu di toko bukan dengan mempelajari harga atau tata cara berdagang. Aku membaca semua tumpukan koran yang ada. Beberapa yang kurasa penting dan menarik minatku akan kusobek atau kubawa. Saat itulah aku menemukan majalah mutiara yang memuat cerita seorang pemuda yang bersekolah di jerman atas beasiswa BPPT. Darahku mendidih dan nyaliku menggelegak. Aku ingin seperti Wisnu yang ada di majalah itu. Kutandai setiap halaman yang memuat cerita dari jerman itu. Aku bersumpah tak akan pernah surut untuk melanglang buana dan mencari ilmu.