evi novida

Pagi ini aku dapat sms yang membuat hatiku berbunga.”Aku suka semua yang kamu tulis,tapi aku sangat tersentuh dengan tulisan kamu tentang kematian”. Sms dari sahabatku  yang selama ini sering kujadikan sandaran untuk berbagi cerita apalagi kalo ingat tahun-tahun kebelakang disaat aku terpuruk total karena tidak memahami hidup dan menjadi orang yang gagal bersyukur. Evi Novida namanya. Geng kacenjus pasti mengenal baik diantara nama teman-teman yang lain semisal Ellah, Ade odah,Irma,Nia,Dewi dan yang lainnya karena kebetulan salah satu pentolan Kacenjus Kumis sempat jatuh hati dengan Evi (halo kumis,kalo baca ini nggak usah marah,toh itu masa lalu dan saat itu kita masih kanak-kanak (hihihi…kumis kanak-kanak?yang bener ajah?) dan Evi, jangan ge-er karena itu terjadi duapuluh tahun yang lalu ketika kamu masih bau kencur dan sekarang udah bau balsem gosok). Evi termasuk istimewa dan masuk list kacenjus sebagai gadis yang tak memalukan sekolah karena selain ditaksir kumis juga emang pribadinya menyenangkan. Seingatku lumayan banyak anak cowok, baik satu angkatan, sekelas maupun kakak kelas yang ngantri minta cinta evi, padahal kalo diukur gaya dandan nggak ada apa-apanya dibanding cewek lain semisal Iis Purnama atau si cantik kemayu Tita, si semlohai Sarah atau gadis-gadis lumayan beauty anggota Dewinie (Dewi,Wiwi,Nia dan Irma). Mungkin evi ini punya inner beauty atau punya ajian versi mak erot yang ampuh karena berhasil membuat barisan lumayan panjang sebagai anggota pengharap cintanya. Aku dan bombom sempet menghina dina kumis yang mau naksir evi karena bagi kacenjus menurut versiku selaku ketua merangkap anggota, seharusnya anggota kacenjus ditaksir duluan, bukan naksir duluan (heheheh….asumsiku saat itu seburuk-buruknya anggota kacenjus lebih buruk anggota geng Srimulat). Seingatku belum pernah ada kejadian yang nyerempet kriminal yang melibatkan Evi, paling banter bersitegang sedikit dengan kacenjus karena dia masuk dalam geng Folosg (folosg apa polos? Artinya kurang lebih kecil mungil imut dempes…hehehehe…). Kacenjus dibilang kumpulan cowok berhidung mancung dan berbibir mancung (kurang ajar banget nyamain gue ama akung! Lagian si Soni kan nggak mancung bibirnya!) sementara kami membalasnya dengan istilah serba pendek dan kecil..bibir kecil tapi idung juga kecil alias pes** (hihi…..ini juga masa lalu loh, karena kulihat evi maupun elah udah jadi ibu-ibu muda yang cantik perkasa…). Aku agak lupa siapa lagi anggota Folosg yang lainnya selain Lilis Heryanti kemayu anggun mempesona tiada tara di depan kelas kita, yang pasti namanya perseteruan ini Cuma sekilas karena kenyataannya kami sangat akrab. Evi boleh nggak jadian sama kumis tapi persahabatan tetep berjalan. Kami sering ngumpul dan ngalor ngidul di sekitar sekolah maupun sekitar Leuwiliang yang masih belum semrawut seperti sekarang. Tapi sempet ada gejolak lagi karena si Akung ternyata ikut-ikutan naksir anggota folosg yang lain,..ya, Lilis Heryanti  (ya ampuuun..si biang kerok naksir yang kemayu dan aleman pisan…hampura ya Lis, tapi Lilis waktu SMA emang gimanaaa gituh kalo suruh maju ke depan kelas).Nah, si Lilis ini mau aja nerima cinta suci Akung dengan syarat :

1.     Evi pacaran sama Agus

2.     Elah pacaran sama bombom

Hehehe…..aku kalo inget suka berfikir …begitu gila kah kita saat SMA dulu? Sampe ada temen yang mau nerima cinta seseorang dengan syarat sahabatnya pacaran sama sahabat pacarnya atau jangan-jangan itu akal-akalannya  Lilis supaya bisa nolak cinta Akung, seperti Legenda Bandung Bondowoso disuruh bikin seribu candi oleh Lara jonggrang sebagai syarat menerima cintanya. Aku sebagai dedengkot kacenjus sempet down dan prihatin atas tragedi ini karena ternyata baik Lilis (dengan sangat anggun mengirimkan surat balasan penolakan cintanya kepada Akung dan akung dengan wajah pias membacakan surat penolakan itu di depanku) maupun Evi menolak cinta lelaki-lelaki Kacenjus. Untungnya tidak ada kata frustasi bagi Akung dan Agus selaku anggota Kacenjus karena setelah itu tidak ada kejadian mabok-mabokan maupun penusukan terhadap gadis penolak cinta (anyway, soal Kumis naksir Evi itu nggak clear sampai sekarang …apakah Kumis pernah mengutarakannya kepada Evi? Apakah kumis berkirim surat? Apakah Kumis nyuruh pak Kepala sekolah menyampaikannya kepada Evi? Apakah Evi suatu malam disatroni kumis lewat genteng ke kamar? Semuanya masih kabur dan menjadi misteri )

Saat kelas satu walaupun tak sekelas dengan Evi aku sering belajar bersama di rumahnya (Evi saat itu tinggal dengan neneknya yang super telaten dan pembersih woman,bayangkan …daun bunga kuping gajahnya aja dilap satu-satu hingga mengkilat,belum lagi lantai rumahnya…saya menjulukinya rumah terbersih di Leuwiliang). Ada Peppi dan Ade yang bergabung sehingga kami berempat jadi kelompok belajar yang rajin (pada akhirnya aku tahu kalo ternyata Pepi juga naksir Evi….iiih,kok pada suka PMP sih?Pren makan Pren). Kelas dua aku sekelas dengan Evi dan dikelas dua inilah aku pernah melihat Evi menangis karena rangkingnya di kelas jatuh melorot dari rangking satu saat kelas satu jadi rangking delapan (kalo tak salah). Kelas tiga persahabatanku dengan Evi  timbul tenggelam karena kesibukanku dengan Kacenjus tercinta yang semakin merambah dunia. Diantara sahabat lain (yang berjenis kelamin perempuan) Evi paling tahu tentang saya karena saya pernah bercerita tentang kegalauan hati saya saat remaja dulu. Selepas SMA saya melanjutkan sekolah di perguruan tinggi di Malang dan kehilangan kontak dengan Evi. Demikian juga ketika saya melanjutkan sekolah ke Malaysia. Hanya sempat beberapa kali berkirim kabar lewat surat untuk kemudian terputus berita. Tujuh tahun kemudian, ketika aku mulai bekerja di instansi sekarang, suatu pagi saat bergegas hendak mengejar bis kota di terminal Blok M menuju kantor,tiba-tiba seraut wajah dari arah lajur keberangkatan bis yang lain tersenyum, dengan rambut ikal panjangnya, rok span warna hitam dan baju coklat bermotif bunga melambaikan tangan. Ya ampuuun, ternyata Evi. Aku balik melambai dan mendekat tapi tak bisa menyeberang karena terhalang pagar. Akhirnya kami hanya bertukar nomor telpon kantor (harap maklum saat itu kami sangat miskin dan HP belum jadi pemandangan jamak) dan berjanji untuk ketemu. Begitulah, selanjutnya kami sering bertukar kabar, baik lewat telpon maupun sekedar bertemu makan atau minum di warung kopi karena kebetulan kantornya berdekatan dengan kantorku. Kehidupan kami masih sulit, aku masih pegawai baru yang masih sering diperlakukan sebagai anak bawang di kantor dengan uang cekak sementara aku sudah beristri dan beranak pinak.Evi masih tenaga honor di tempatnya bekerja dan sempat memperkenalkan pacarnya yang kemudian kuketahui mereka bertunangan. Kalo tak salah namanya Beni dan aku mengenalnya sebagai pribadi yang pendiam. Ups and downs, naik turun, demikianlah hidup. Evi putus dengan Beni bersamaan aku melanjutkan sekolah di Jogja. Aku masih punya hutang karena saat itu berjanji mau bikin tulisan dan akan minta tolong evi untuk membacanya.

Selesai sekolah di Jogja aku kembali bekerja di Jakarta. Saat itulah aku baru bisa nraktir Evi di tempat yang lebih terhormat sambil mendengarkan ceritanya (anyway Evi ini enak banget diajak ngomong karena nggak suka menggurui tapi juga nggak pasif, jadinya akupun merasa tenang bercerita apapun). Mungkin kalo dikorek korek wartawan dan aku selebritis, evi pasti bisa jual cerita tentang aku.  Sempet juga sih ngenalin Evi ke temenku karena aku tahu evi masih single dan udah masuk usia naik pelaminan. Tapi emang jodo mah urusan Tuhan dan semakin yakin ketika suatu hari aku diberitahu Elan (temen SMA ku juga) bahwa Evi kayaknya jadian ama Uci (temen SMA ku juga) yang kebetulan masih bujangan dan bekerja di jakarta. Kabar terakhir kudengar Uci sekarang bekerja di Spanyol dan sementara meninggalkan Evi dan dua anaknya di Jakarta. Begitulah hidup, we never know what will happen next. Bagaimanapun beratnya cerita yang pernah aku sampaikan ke Evi ternyata mungkin Tuhan menjawab lain atas kejadian itu. Demikian juga sahabatku ini, aku yakin Tuhan selalu adil atas semua mahlukNya. Aku doakan semoga sahabat baikku ini mendapatkan jawaban atas segala gundah dan doanya.

One Comment (+add yours?)

  1. viens
    Oct 17, 2008 @ 04:25:53

    Asyik juga baca tulisan kamu tentang aku,bener tuh…kumis memang gak pernah menyatakan perasaan,aku juga gak tau apa bener dia itu suka apa karena ledekan geng kacenjus,tapi aku gak pernah ge er kok kalo di taksir kumis (kalo saat itu itang yunas yang naksir aku baru aku ge er) eh…emang bener ya…kalou dia gak pernah di taksir duluan sama cewek…hi..hi..(jangan marah ya kumis…)Jujur…dulu yang aku taksir dari dia itu otaknya yang encer…cuma aku jadi mikir kalu jadian sama dia…kayak jadian sama mamang gua…hi…hi…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.