film favoritte
Setiap orang (yang suka nonton) pasti punya film favorit atau beberapa film yang tetap diingat di kepalanya, baik judul,pemain atau bahkan beberapa penggalan dialognya. Nah, sebagai mantan movie-goers, saya punya beberapa film favorit yang tetap saya ingat di kepala bahkan mungkin diam-diam membentuk inner karakter saya.
- Little House On The Prairie
Orang seusia saya yang masa kecilnya dilalui pada akhir tahun tujuh puluhan sampai awal delapan puluhan pasti kenal film seri ini (tentu bagi yang punya tipi walau masih hitam putih). Karakter Laura yang cerdik dan berani adalah lambang perjuangan hidup diawal pembukaan lahan Amerika. Semua pasti ingin punya ayah sebijak Charles dan ibu sehangat Caroline. Diangkat dari novel masyhur Laura Ingals film ini sungguh memberikan pendidikan luar biasa bagi anak seusia saya. Saya masih ingat bagaimana keluarga Ingals berjuang untuk menyambung hidup dengan perjuangan yang maha berat sampai akhirnya mereka bisa membesarkan ke tiga putrinya termasuk Albert si anak pungut yang akhirnya menjadi dokter. Sungguh setiap episode nya selalu membawa pesan moral. Tentu semakin lucu karena ada Nelly dan Willy dari keluarga Nelson yang selalu jadi biang kerok dan didukung sang ibu yang culas, Mrs Harriet. Salah satu adegan paling berkesan dan mengharukan adalah ketika kampong Walnut Group terkena wabah Thyphus yang saat itu belum ada obatnya. Masih terekam dalam ingatan saya bagaimana salah satu tetangga Ingals tidak mau memberikan anaknya yang mati dalam pelukannya untuk dikuburkan. Sungguh saya merasa telah bersekolah di sekolah kampung Walnut group. Thanks Michael London, I learn many things from your movie.
2. Rumah Masa Depan.
Ini film serial buatan Indonesia yang mungkin paling berkesan bagi saya. Dibuat oleh sutradara terkenal saat itu Ali Shahab diputar di TVRI dan dibintangi artis veteran seperti almarhum Mak Wok, Hamid Arif, Aminah Cenderakasih (maknya si Dul), Septian Dwicahyo dan beberapa nama yang saya sudah tak ingat lagi. Pesan moralnya bagus dan berlatar keluarga Indonesia yang tinggal di desa. Salah satu episode paling membekas di kepala saya adalah episode anak ajaib yang menceritakan kecerdasan seorang anak penjual Koran dan majalah bekas yang menjuarai kompetisi lomba sejenis cerdas cermat di kampung ….(ah..lupa nama kampungnya). Oh iya, ada Mike Wijaya yang saat itu masih muda berperan sebagai keluarga kaya yang angkuh.
3. Ghost
Nah, kalo ini film masa ABG saya. Demi Moore lagi cantik2nya dan gaya rambutnya sampai mengguncang dunia. Bercerita tentang perginya sang kekasih (atau suami ya?) saat mereka baru hendak memulai hidup baru di sebuah aparteman. Sang kekasih (diperankan Patrick Swayze yang saat ini lagi perang melawan kanker yang diidapnya) mati terbunuh di depan matanya oleh seorang preman yang ternyata atas suruhan seseorang. Saya masih ingat bagaimana kesedihan Demi moore saat duduk di ujung tangga setelah penguburan sang kekasih. Adegan berikutnya haru campur lucu karena ada Whoopy Goldberg yang berperan sebagai dukun yang bisa mendengarkan arwah si kekasih yang masih gentayangan di rumah(bagian ini sebenarnya konyol dan bertentangan sekali dengan keyakinan yang saya anut, tapi tak apalah namanya saja film) dan ingin bertemu dengan si Demi. Moral ceritanya tentang kesetiaan dan kekuatan cinta dan itu membekas dalam jiwa saya.
4. Pretty Woman
Nah ini film paling saya ingat setiap detailnya. Gimana nggak, saat itu Julia Roberts sepertinya wanita paling mempesona dan itu diakui semua orang yang menonton Pretty woman. Ceritanya tentang seorang mahasiswi yang desperate karena hidup paspasan di daerah kumuh bagian Los Angeles. Suatu malam ia putuskan menjajakan diri dan seperti cerita Cinderella bertemu pangeran di tepi jalan (Richard Gere). Selanjutnya adalah emosi,kelucuan dan beberapa adegan diatas 17 tahun. Nggak banyak pelajaran moral yang bisa dipetik tapi aneh saya sendiri samapai hafal beberapa penggalan dialog film ini.
5. Ayat-ayat Cinta
Hehehe, sebenarnya agak gengsi untuk mengakui bahwa film ini membekas dalam hati saya. Ceritanya sih tentang percintaan anak muda yang belum kawin tapi yang bikin seru karena si pemuda dicintai sekaligus beberapa wanita. Mungkin karena setting filmnya berbeda dengan film Indonesia kebanyakan sehingga saya hampir tidak merasa bosan sepanjang film diputar, mungkin juga karena bintang-bintangnya jarang nongol di tivi sehingga tidak seperti sedang menonton sinetron (tapi Riyanti Cartwright saya liat cuma menawan saat main di film ini saja). Pesan moralnya bagus walau mungkin bagi beberapa pihak agak konyol dan terlalu mengada-ada. Bahwa hidup itu harus ikhlas apapun yang terjadi, ujian apapun yang diberikan Tuhan dan jangan merasa telah dekat dan beriman pada Tuhan jika belum mampu mensyukuri setiap ketentuanNya. Ah, cocoklah buat saya yang suka lupa bersyukur.