jodoh

Soal jodoh di keluargaku dulu adalah soal pelik. Ayah selalu menganggap bahwa soal jodoh bukan semata urusan cinta tetapi harus dengan mempertimbangkan segala segi yang akan dihadapi dalam hidup nanti. Ayah seorang yang sangat realistis sehingga ia selalu berargumen bahwa cinta omong kosong tanpa memperhitungkan keberlangsungan perut. Aku sering membantah dan berargumen dengan ayah walau selalu diakhiri dengan senyum kecut dari kedua belah pihak karena masing-masing kami jauh dilubuk hati mengakui sisi kebenaran argumen lawan. Aku mengakui bahwa materi memegang peranan penting dalam merawat apapun di muka bumi dan aku yakin ayah mengakui betapa dahsyatnya kekuatan cinta yang dipegang teguh oleh dua orang manusia. Anehnya, ayah selalu menginginkan lelaki yang sederhana untuk anak-anak perempuannya

Saat teh lilis menikah dulu aku masih sangat kecil dan belum banyak memahami bagaimana pernikahan bisa terjadi dan bagaimana dua orang dijodohkan. Yang aku ingat pasti adalah pesta pernikahan the lilis digelar dengan meriah dan aku melihat tumpah ruah makanan di setiap sudut rumah. Rumah kami yang kecil nyaris tak bisa menampung kiriman bahan olahan makanan yang dipesan ibu berupa sayuran, terigu, telur hingga daging. Belum lagi kiriman dari kerabat ayah di kampung seperti beras, beras ketan dan berpuluh tandan pisang. Ikan mas yang masih hidup didalam plastik besar sampai kambing hidup yang siap untuk disembelih berjejer di depan rumah. Pengantin lelaki adalah kang uwoh, lelaki yang selama ini kupikir adalah kakak tertua kami di rumah. Aku setiap hari mandi di sumur dengan menunggu kang uwoh mengguyurkan satu ember air sebelum memakai sabun dan seember air berikutnya untuk membersihkan sisa sabun di badan. Aku sering datang ke toko kang uwoh di pasar untuk meminta uang belanja sekaligus mengantar ibu berbelanja. Teh lilis mengenakan baju pengantin warna merah menyala dari bahan beludru sehingga terlihat sangat cantik karena kontras dengan kulitnya yang putih. Matanya kulihat sembab dan seperti terus menangis sepanjang acara pernikahan. Pengantin nampak serasi karena kang uwoh bertubuh jangkung dengan potongan rambut yang membuatku iri karena seperti salah satu pentolan anggota band koes ploes yang sangat hebat. Tak banyak yang kuingat dengan pesta saat itu dan beberapa tahun kemudian mereka dikaruniai beberapa orang putera yang sangat dekat denganku. Semakin dewasa semakin aku juga mengerti bahwa pernikahan teh lilis tak lepas dari campur tangan ayah yang jatuh hati pada kejujuran dan kebaikan kang uwoh. Ayah tentu tak ingin anak perempuannya mengalami kepahitan hidup seperti anak perempuan di kampung kami yang tak bernilai di mata suaminya dan ditinggalkan begitu saja walau aku tahu untuk ukuran zaman sekarang seharusnya bekalnya adalah ilmu. Bagaimanapun ayah telah melakukan satu ikhtiar hebat karena rumah tangga teh lilis berjalan sempurna hingga saat ini

Perkara jodoh paling heboh tentu saja milik a lulum. Ayah dan ibu pusing tujuh keliling menghadapi kelakuan a lulum yang bergonta-ganti pacar puluhan kali. Masih mending jika anak gadis yang dibawanya ke rumah adalah gadis baik-baik bukan gadis rock and roll atau gadis senewen. A lulum emang playboy kelas kambing, beberapa teman sma ku saja sempat jadi korban ke playboyan nya. Modalnya cuma vespa merah dan tongkrongan mengikuti gaya yang lagi in dan kebetulan diantara anak lelaki di keluarga kami tubuhnya paling tinggi dengan rambut ikal dan kulit putih. Label lainnya: pengusaha kelontong di pasar leuwiliang. A lulum memang paling pintar bicara dan pandai berdebat sehingga aku yakin kalo gadis kampung wae mah akan luluh dengan mulut gombalnya. Ibu dan ayah tentu saja pusing apalagi disinyalir a lulum memacari beberapa anak perempuan tetangga sebelah yang sudah kami anggap sebagai saudara. Bisa-bisa bikin malu keluarga dan bikin orangtua punya banyak musuh, begitu ujar ayah dan ibu. Akhirnya ayah mengajukan beberapa nama untuk dipertemukan dengan a lulum. Mulai dari nama anak saudara jauh ayah sampai anak saudara dari ibu. Semua mental dan a lulum selalu berhasil menemukan alasan dan kekurangan yang ada pada gadis yang bersangkutan. Ayah tak habis akal, setiap bertemu dengan kerabat, teman lama, bahkan teman baru, ayah tak pernah lupa menanyakan apakah yang bersangkutan memiliki anak gadis. Jika mereka bilang punya anak gadis maka ayah akan mengutus a lulum untuk berkunjung ke rumah mereka atau mereka yang diminta pura-pura berkunjung. Nah, kejadian paling menancap dalam ingatanku adalah ketika teh nenah, wanita yang akhirnya menjadi istri tercinta a lulum, berkunjung ke rumah kami diantar saudara perempuannya. Aku tak pernah tahu jika kunjungan itu adalah kunjungan politis dan dari ruang dalam rumah yang gelap dan tersekat tembok, aku, a didin dan neng kimung mengintip calon ipar kami. Sebagai anak cunihin aku tentu saja paling heboh dengan komentar segala macam saat mengintip. Aku merasakan kebahagiaan tersendiri setiap kali diberi kesempatan melihat seseorang yang punya kemungkinan untuk menjadi saudara ipar.Aku bahkan masih ingat warna baju biru dan kerudung putih yang dikenakan teh nenah tanpa diikatkan. Anak santri, demikian kata ibu ketika aku menanyakan kenapa bentuk kerudungnya begitu. Kenapa matanya nampak hitam? Tanyaku lagi dan dijawab ibu dengan berbisik bahwa mata teh nenah memakai celak, sejenis eye shadow dari mekkah yang biasa dipakai anak santri.Ayah dan ibu tentu saja bahagia ketika a lulum kemudian bersedia berkunjung ke kaung gading, tempat tinggal haji hasan ayah teh nenah. Entah bagaimana proses perkenalan mereka dan berapa kali a lulum berkunjung ke kaung gading, tak berapa lama kami menggelar pesta perkawinan di kaung gading. Kami berangkat ngabesan dengan menggunakan beberapa kendaraan menuju kaung gading diiringi kerabat dan tetangga di lebak kaum. Teh tuti merias sejoli pengantin yang baru beberapa kali berjumpa dan siap memasuki mahligai rumah tangga. Jodoh mereka atau dijodohkan, aku tak tahu, yang pasti sekarang mereka menjadi keluarga dengan empat orang anak yang manis-manis. Pasangan ini dimataku bahkan nampak sangat solid karena mereka memiliki visi yang sama dan fokus utama mereka adalah mengembangkan bisnis yang telah dirintis sejak lama. Masih play boy kah a lulum? Disinilah aku justeru bangga tak terkira dengan abangku yang satu ini karena tak pernah kudengar sekalipun ia melirik seorang perempuan secantik apapun. Baginya istrinyalah yang paling cantik. Aku yakin godaan pasti ada tapi sikapnya yang hemat senyum kepada lawan jenis membuat perempuan tak berani berasumsi macam-macam saat bertemu a lulum. Sifat sok playboynya menguap secara cepat begitu saja seiring berjalannya perkawinan mereka. Bahkan sisa-sisa nya saja sudah tak bisa lagi dilacak. Bicaranya melulu tentang bisnis dan anak istri, selebihnya yang ia bicarakan adalah bagaimana mencoba menggali hidup dengan memahami tatanan yang saat ini amburadul dengan mengetahui kebenaran yang hakiki. Tak ada dua jawaban dalam hati manusia, itu kata-kata a lulum yang sangat membekas di ingatanku. Ya, sesungguhnya hati manusia hanya mengakui satu kebenaran dan satu pilihan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.