KEMATIAN
Akhir-akhir ini aku sering merenungi kematian. Bagaimana perasaanku saat bangun di alam sesudah kematian nanti. Takutkah?sedih?nelangsa?tak berdaya?
Perkara kematian ini semakin menempel dialam sadarku (atau alam bawah sadar?) sejak aku tahu bahwa aku pengidap Sindrome Hughes atau Coagulant, penyakit yang menyerang darah dimana darahku secara genetis sangat mudah membeku sehingga aliran darah dapat tersumbat di saluran manapun. Pertamakali aku tahu ketika suatu pagi terbangun dan tiba-tiba kurasakan mataku sebelah kanan tak mampu melihat dengan jelas, seperti terhalang kaca buram. Aku coba membaca dan ternyata saat mata sebelah kiri aku tutup maka mata kananku hanya mampu menangkap bagian-bagian tertentu saja dari halaman kertas. Seperti ada noktah di beberapa bagian mata sehingga penglihatan benar-benar terganggu. Aku sempatkan periksa ke dokter mata biasa dan si dokter tidak menemukan indikasi apapun. Beberapa hari tak hilang aku putuskan untuk memeriksakan mata ke dokter di Jakarta Eye Center. Dr.Elviosa kemudian mendiagnosis aku terkena penyumbatan pembuluh darah di retina mata dan dia menyarankan agar aku segera memeriksakan diri ke Hematolog Dr. Karmel di RS Cikini. Aku masih penasaran sehingga mencari second opinion ke RS Pondok Indah dan dokter disini juga menyimpulkan hal yang sama. ….”Anda bisa meninggal tiba-tiba!”, kata dokter disana. Akhirnya aku menemui Dr.Karmel dan memeriksakan darah disana. Hasil tes darah menunjukan bahwa INR ku hanya berkisar 0.9, sementara ukuran normal setidaknya 2,00. Ternyata di Cikini sudah banyak pasien dengan penderitaan yang sama yaitu terkena serangan penyumbatan darah di pembuluh darah retina dan mayoritas menyerang mata sebelah kanan. Dokter menyarankan agar aku berhati-hati karena jika penyumbatan terjadi tiba-tiba di pembuluh otak bisa menyebabkan kelumpuhan dan kematian, demikian juga jika penyumbatan terjadi di pembuluh jantung. Aku diberi obat pengencer darah untuk diminum setiap hari berikut warfarin dan trental. Aku mulai sadar bahwa ternyata selama ini aku sering mengantuk berat tiba-tiba,badan terasa lesu dan sekujur kaki kesemutan dikarenakan aliran darah yang macet ini. Sempat aku berfikir ganjil karena merasa tiba-tiba mengidap suatu penyakit aneh dan harus hidup dengan ketergantungan pada obat. Istriku mungkin sudah bosan karena saat itu aku rajin sekali berkeluh kesah soal penyakitku ini. Setahun kemudian aku tetap rutin memeriksakan diri dan meminum obat kemudian mencoba berobat ke Singapura. Ternyata jawaban dokter di rumah sakit Glen Eagles Singapura tetap sama bahwa aku memiliki kelainan darah yang mudah membeku. Sejak itu aku tak banyak melakukan usaha untuk mencari dokter lain. Beberapa resep tradisional aku ikuti seperti tiap hari memakan bawang merah,bawang putih, madu, nenas sampai pepaya. Hasilnya tetap buruk jika aku menghentikan atau mengurangi asupan obat dokter. Kuping berdengung dan mata kembali seperti bernoktah. Akhirnya, hampir tiga tahun berlalu. Aku masih tetap meminum obat pengencer darah. Tapi aku tak lagi merasa penyakit yang aku derita sekarang ini sebagai beban, malah kadang aku menyikapinya sebagai anugerah Tuhan. Aku yakin kalo diusut kebelakang apa yang aku derita saat ini adalah buah dari caraku memperlakukan tubuh dan fikiranku. Allah tidak akan pernah mnyusahkan apalagi menyiksa mahlukNya. Akulah yang cari penyakit dan aku meyakini segala hal buruk yang terjadi pada diriku adalah akibat ulahku sendiri. Kemudian sikapku selanjutnya adalah menganggap ini sebagai surat peringatan pertama yang dikirimkan Tuhan untukku sebelum surat SK pensiun sebagai manusia keluar dari Nya. Aku beruntung sekali menerima SP ini karena tidak semua manusia menerimanya. Banyak manusia yang menerima SK kematian sangat tiba-tiba tanpa SP apapun sebelumnya sehingga banyak yang akhirnya mati dalam keadaan tidak sedang merasa harus menyiapkan kedatangan SK. Aku selalu terngiang ucapan dokter di RS Pondok Indah yang memperingatkan aku bahwa aku bisa mati tiba-tiba. Saat itu aku menganggap si dokter adalah dokter tak berperasaan,bebal dan sangat kurang ajar. Tapi sekarang aku malah bersyukur Tuhan telah mengutus dokter itu sebelum Izrail betul-betul hadir didepanku dan memberi kabar padaku. Allalh Tuhanku memang Maha Lembut. Disapanya aku dengan cara yang sangat lembut ketika sebenarnya aku begitu ingkar padaNya. Aku bahagia karena bisa mengingat kematian lebih sering dan akhirnya sering membuat nyali ku ciut untuk melakukan kemaksiatan dan setidaknya membuatku lebih sering berzikir dan menyebut asmaNya. Apalagi saat tiba-tiba kepalaku migrain atau dadaku sakit atau kupingku berdengung hebat, aku akan berjaga dan berfikir jangan-jangan inilah saatnya. Tentu sebagai manusia aku tak akan mampu membuat hidupku mulus tanpa dosa tapi setidaknya aku merasa mampu untuk mengingatNya lebih sering dibandingkan dengan hidupku yang dulu. Allah yang Maha Lembut, aku pasrahkan saja semuanya padamu, hidupku,sakitku dan matiku,mudah-mudahan aku mati dalam keadaan muslim yang berhati muthmainah…..amiin ya Rabbil Alamin
Oct 15, 2008 @ 08:57:47
Antara Hidup dan mati itu tipis hampir tak berbatas,aku bersyukur shahabt ku semakin cerdas dalam menyikapi hidup ini,karna orang yang cerdas adalah orang yang akan selalu mengingat tentang mati. Aku ingat suatu saat aku telp kamu,saat itu kamu bilang sedang menikmati kedekatanmu dengan Allah,Subhanallah aku menangis saat itu,syukur…bahagia…haru…Allah begitu menyayangi kamu… Semoga hati kamu tetap seperti ini semakin tunduk…semakin tawadhu…