KIRIMAN AYAH
Uang lima belas juta rupiah masih aku pandangi, berhari-hari ada dalam tas kerja hitamku. Entah apa yang akan aku lakukan dengan uang sebesar itu. Istriku pun tak tahu dan aku tak kuasa untuk bercerita. Rasanya uang itu membangkitkan rasa sedih, rindu sekaligus sesal. Ya, uang sebesar itu aku dapat dari almarhum ayah. Umi menyerahkan langsung uang itu dan berbisik bahwa uang itu adalah hasil penjualan sepetak tanah yang dibeli ayah di kampung dulu.
‘daripada nggak dipake, tanah itu mending umi jual saja, uangnya buat kamu walaupun umi tahu kamu nggak perlu uang’
Aku tak menunjukan ekspresi apapun saat umi menyerahkan uang yang dibungkus koran kumal walau jauh di lubuk hati ada rasa nyeri menggerayangi. Aku tahu sekali bahwa ayah mengumpulkan uang sen demi sen selama hidupnya untuk kami anaknya. Ayah adalah pekerja keras yang memulai hidupnya dari titik nadir yang paling rendah.
‘aku tak rela anak-anak ku harus menderita seperti aku’
‘kamu tak merasakan bagaimana pedihnya dihina dan diperhinakan’
‘biarlah kamu menyadarinya suatu ketika nanti, mungkin setelah aku mati kalian akan tahu itu.
Ayah adalah penabung ulung karena ia selalu menyisihkan sebagian besar uangnya untuk menabung dan membelanjakannya pada hal-hal yang menurutnya sesuai aturan agama.
‘kamu harus hemat, karena Rasul juga bukan orang yang suka berfoya-foya’
‘jangan suka pamer dengan kekayaan, simpanlah uang dalam bentuk yang tidak membuat orang lain iri’
‘banyaklah membeli tanah di desa seperti sawah dan kebun, ajak orang miskin untuk mengolahnya niscaya akan menjadi kebaikan bagimu di dunia dan di akhirat’
‘orang boros biasanya tak memperdulikan anak-anaknya’
Aku terngiang semua kata-kata ayah. Rasanya setiap perjumpaan kami selalu dilengkapi dengan nasehat ayah tentang hidup yang sederhana. Aku sering membantah dan mengatakan bahwa hidup terlalu hemat buat apa, toh kita layak menikmati sebagian harta untuk kesenangan. Ayah akan diam sesaat untuk selanjutnya menceramahi aku dengan perbendaharaan kata mutiara dan hadits tentang perlunya berhemat.
‘orang boros itu teman setan’
‘sebaik-baik perkara adalah pertengahan’
‘allah lebih menyukai jika kamu mati meninggalkan anak-anak yang kuat lahir dan batin’
Aku biasanya cukup tersenyum, mengakui kebenaran yang disampaikan ayah tapi aku kadang tak habis fikir dengan cara ayah yang terlalu menghemat uangnya. Aku sampai heran bagaimana ayah bisa mengontrol keinginanannya untuk tidak membeli sesuatu walaupun ia ingin memilikinya dan mampu membelinya. Menurutku ayah sebenarnya sudah pantas untuk menikmati hasil jerih payahnya selama ini untuk kesenangannya. Aku berkali-kali menyarankannya untuk sering bertamasya atau membeli sesuatu yang ia sukai.
‘jual saja tanahnya, yah, uangnya buat jalan-jalan atau membeli mobil biar ayah kemana-mana bawa mobil sendiri’, usulku suatu ketika.
‘nggak, itu bukan aku, aku ingin memberikan kenang-kenangan manis buat anak-anaku dan aku ingin sampai akhir hayatku tak merepotkan anak yang manapun’.
Dan sekarang aku menggenggam uang lima belas juta hasil penjualan sepetak tanah ayah yang disimpannya bertahun-tahun. Mungkin ia menabung sekian lama untuk mendapatkan tanah itu. Aku tak tega untuk membelanjakannya karena aku tahu ia mendapatkannya dengan tetesan darah dan airmata.
Ayah, uang ini telah membenarkan semua kata-katamu, terimakasih untuk ayah terhebat sepertimu.