KONTRAKAN
Sebagai Pegawai Negeri Sipil dengan janji bersedia ditempatkan dimanapun di Negara Kesatuan Republik Indonesia untukbertugas, saya sudah beberapa kali boyongan pindah rumah. Bojonegoro, Madura dan Surabaya contohnya. Tadi malam aku dan istriku memutuskan untuk pindah rumah kontrakan karena rumah kontrakan saat ini terlalu sempit dengan dua kamar tidur sementara anak-anak sudah mulai besar dan membutuhkan privasi lebih. Sempat terfikir untuk membeli rumah dengan hitung-hitungan untung rugi dan dengan menjual rumah yang ada di Bogor. Kalkulasi sederhana menunjukan bahwa membeli rumah dengan kondisi perekonomian biasa saja walaupun dengan cicilan ternyata tidak menguntungkan. Belum lagi kerepotan suatu ketika jika kami harus kembali pindah ke kota lain. Investasi? rasanya saya maupun istri saya tidak lagi tertarik menumpuk benda-benda hebat tetapi dengan mengurangi kenikmatan hidup lain yang terlalu banyak, seperti membeli buku dan keluar masuk toko buku. Cicilan bisa menyengsarakan jika tidak tepat memprioritaskan apa yang sebenarnya harus dicicil. Rasanya tak layak mencicil rumah kedua karena bagaimanapun buruknya sudah ada rumah yang kami miliki di Bogor. Akhirnya kami putuskan untuk mengontrak rumah yang memiliki tiga kamar dan telah beberapa kali melihat-lihat rumah yang kami minati. Tuhan memang senang memberi kejutan, setelah beberapa hari mencari tiba-tiba ada seorang teman yang menawarkan rumahnya yang besar untuk ditempati. Saya berterimakasih tapi dengan syarat saya ingin tetap menyewa dan saya minta teman saya untuk memberikan harga yang memang wajar dan sepantasnya. Akhirnya harga disepakati dan saya siap untuk pindah ke rumah kontrakan baru. Sepulang dari acara melihat-lihat rumah kontrakan itu, saya sempat bergumam pada istri bahwa sebenarnya di dunia ini apapun cuma pinjaman. Semua pinjaman dari Tuhan dan Ia memberikannya dengan gratis. Bukankah segala harta benda yang kita miliki hanya pinjaman dariNya karena suatu ketika pasti akan lepas dari diri kita, setidaknya pada saat kematian merenggut kita? Bahkan nyawa yang lekat saja pada saatnya akan lepas dari diri kita. Lalu jika kita tahu dan sadar bahwa semua yang kita miliki adalah pinjaman, kenapa kita harus begitu sedih saat pinjaman itu diambil oleh Sang Maha Memiliki? atau kenapa harus bersitegang untuk memiliki pinjaman ? Aneh rasanya seseorang menangisi sesuatu yang ia pinjam pada saat si pemilik memintanya kembali. Ah, mengontrak rumah ini ternyata mengingatkan saya bahwa kita takpunya apa-apa di dunia ini. Pinjaman dari manusia lain dengan kontrakan sementara pinjaman dari Tuhan hanya karena ke Mahapemurahannya semata.