lebaran diseureud
Lebaran kemarin saya mudik ke Leuwiliang. Semua saudara berkumpul di rumah Umi dari mulai kakak tertua Teh Lilis sampe anggota keluarga termuda si Azmi,anak Iqbal ponakanku yang berusia satu tahun. Hari H kami konvoi enam kendaraan ke pantai Carita. Ini sudah menjadi tradisi tahun ke 4 setiap hari Lebaran pergi ke pantai Carita. Motornya tentu saja A lulum sebagai anak lelaki tertua di keluargaku dan saya bersyukur dia sering memposisikan dirinya sebagai pengganti Apa yang sudah berpulang 3 tahun lalu. Sebenarnya Lebaran dan segala perniknya milik anak-anak semata karena yang paling heppi dan paling menikmati suasana adalah mereka. Baju baru dan kantong penuh duit lebaran ditambah makanan beraneka rupa tentu menjadi sensasi luar biasa (bukankah kita juga dulu begitu?…hanya sangat bahagia saat lebaran tiba?). Sampai di carita pukul 4 sore dan semua anak anak langsung sibuk ganti baju untuk nyebur ke laut, tidak terkecuali anakku Haikal yang masih berumur tujuh tahun. Ombak pantai carita yang tenang dan pantainya yang landai memang cocok buat renang yang aman dan kami bisa melepaskan anak-anak berenang tanpa rasa khawatir terseret arus. Akhirnya kami pun para lelaki dewasa ikut nyebur ke pantai karena hingga sore langit tetap cerah. Tiba-tiba..”Aaaaaaaw…..si Ira, anak Neneng Adikku menjerit jerit dan langsung menjatuhkan diri di pinggir pantai. Kebetulan aku tak melihat langsung karena berenang di tengah tapi kemudian aku diberitahu bahwa Ira dilarikan ke rumah sakit karena Ira kesakitan dibagian kakinya yang tiba-tiba memerah dan bengkak seperti terkena gigitan ikan beracun. Orang-orang sampai berteriak agar berhati-hati karena takut jangan-jangan yang menggigit ikan sejenis ikan pari. Sampai di cottage tempat kami menginap aku lihat suasana hiruk pikuk dan semua anak –anak diminta segera keluar dari pantai. Ira dibawa ayah dan ibunya ke rumah sakit dan kami belum tahu kabar berikutnya apa. Ibuku yang emang dari sononya selalu khawatir atas apapun nampak masih bingung dan nyuruh yang lain agar menghubungi Neneng dan memastikan segalanya baik-baik saja. Tak lama Neneng telpon dan bilang kalo Ira ternyata kena sirip ikan Sumilang dan sudah diberi antibiotik dan anti racun. Rasanya emang sakit karena siripnya mirip ikan lele, kata Neneng. Ira datang digotong bapaknya dan walaupun baru kelas dua SMP tapi tubuhnya sudah cukup untuk duduk di pelaminan sehingga siapapun akan kepayahan mengangkatnya. Semua memperhatikan Ira yang masih mengaduh kesakitan dan neneng sang ibu langsung cerita banyak tanpa kami minta.
“ih, parangsa teh arek aya musibah kematian, meni asa kumaha boa sapanjang jalan…, kata neneng yang emang suka dan doyan cerita apapun dengan gaya dramatis.
“…pantesan istilah untuk sakit saat haid itu dalam bahasa sunda Sumilangeun yah, kataku…”.
‘tadi itu kalo sampe boongan, ku aing dicolok mata si Ira nu belo…”, kata abangku yang selalu kocak A Didin, abis badannya berat banget…., meni asa eungap nepi ka ayeuna ge….”
Ibuku dengan lucu memberi peringatan resmi kepada semua cucu-cucu tercintanya…”hati-hati berenang di pantai! …awas diseureud ku lauk…!”
Hahaha….kami anak-anaknya tertawa ngakak….,bukankah seureud hanya milik binatang di darat?