memaafkan
Memaafkan
Satu peistiwa yang tak akan hilang dalam ingatanku adalah ketika suatu siang aku pergi ke sebuah bank hendak mengambil uang yang ada di dalam tabunganku dan jawaban seorang teller cantik yang menerima lembar pengambilan uangku membuat lututku lemas seketika. Uangnya tidak mencukupi,pak. Aku lemas karena jumlah yang tersimpan seingatku seratus kali lipat dari jumlah yang hari itu hendak aku ambil. Aku meminta bukti cetakan pengambilan uang yang terjadi dan lembaran panjang kertas yang diserahkan pegawai bank membuatku seperti ingin menangis seketika. Tabunganku dijebol dengan menggunakan kartu ATM dan seseorang telah mengambilnya secara bertahap dalam beberapa minggu. Seorang bawahanku yang menemaniku ke bank menghiburku agar tak sampai pingsan. Aku mencoba mengingat-ingat dimana kemungkinan ATM ku telah terjatuh. Kecurigaanku mengarah pada seorang gadis yang menjadi tenaga lepas di kantorku. Gayanya cuek dan terkesan kasar sehingga tak salah bila kecurigaanku mengarah kepadanya. Tanpa komando berita kehilangan uang dalam jumlah besar dari tabunganku menyebar walau dengan bisik –bisik di kantorku. Beberapa rekan kerja menyarankan agar aku melaporkan ke polisi atau meminta orang pintar untuk melacak siapa yang telah mengambil. Dua hari itu fikiranku buntu dan aku benar-benar tak tahu harus mencari kemana. Aku tak berniat melaporkan kepada polisi karena tak ingin keruwetan bertambah, setidaknya untuk sementara. Seperti kata pepatah, pengkhianat adalah orang terdekat. Itu pula akhirnya yang menjadi jawaban peristiwa ini. Selama bertahun aku mempekerjakan seorang sahabat sekampung dan teman masa SMP sebagai orang kepercayaan. Kemana aku pergi aku selalu mengajaknya turut serta karena selain ringan tangan dan cekatan, temanku ini luar biasa setia. Aku menyayanginya seperti saudara dan aku tahu dia pun menjunjung tinggi ketulusanku. Semua berawal dari kesalahanku sendiri. Rasa percaya tidak seharusnya menjadikan hubungan dua manusia tanpa curiga dan sekat rahasia sama sekali karena setan senang bermain didalamnya. Aku memberikan kepercayaan yang telah mengundang setan hadir mengusik hati manusia. Suatu hari aku meminta orang kepercayaanku ini mengambil uang di mesin ATM menggunakan ATM pribadiku lengkap dengan nomor PIN yang kuberikan. Kesibukan hari-hari itu menyebabkan aku tak menyadari bahwa pada saat ia menyerahkan uang, orang kepercayaanku tak pernah menyerahkan ATM. Seminggu dua minggu, karena aku tak kunjung menanyakan keberadaan ATM ku, orang kepercayaanku mulai berfikir untuk mengambil uang dari mesin ATM. Ia coba dengan mengambil nominal yang sangat sedikit. Dua hari kemudian dia coba lagi, esoknya coba lagi dengan nominal yang mulai lebih besar. Setelah lewat sebulan mulailah pengambilan dengan nominal yang bisa dipakai untuk membeli barang berharga. Beberapa rekan di kantor ternyata diam-diam sering ditraktir orang kepercayaanku ini dengan alasan baru saja mendapatkan bisnis. Karena kebodohannya juga orang kepercayaanku ini menawarkan sejumlah ung untuk dipinjamkan kepada adikku. Mulanya aku tak tahu sama sekali apa yang telah berlangsung di sekitarku karena kesibukanku yang terus bertumpuk dan aku memiliki beberapa ATM dari beberapa Bank.
Malam ketiga sejak kehilangan ATM itulah aku berhasil mengurai apa yang kemungkinan telah terjadi. Aku tersadar jika ATM ku kemungkinan telah digunakan oleh orang kepercayaanku apalagi setelah aku berbincang lewat telpon dengan adikku. Ia katakan bahwa orang kepercayaanku sering membawa oleh-oleh ketika pulang ke rumah ibunya yang bersebelahan dengan rumah adikku. Tawaran pinjaman uang untuk adikku itulah yang paling mencurigakan karena ia menawarkan dalam jumlah yang cukup besar. Akhirnya dengan mudah aku menciduk sendiri tersangka pembobol kartu ATM ku dan dengan ancaman bahwa aku akan melaporkan segala yang telah terekam lewat kamera CCTV di ruang ATM Cilandak Town Square ke kantor polisi jika ia tidak segera mengakui perbuatannya. Ia menangis dengan wajah sepucat mayat. Aku tak menghardiknya apalagi melakukan penghinaan atau menggunakan tanganku untuk membalas perbuatannya. Aku mematung sementara ia menangis. Aku menyuruhnya pergi dari hadapanku dan sejak itu ia lenyap selama berbulan-bulan.
Suatu malam seseorang mengetuk pintu rumahku. Kulihat wajah sahabatku yang juga orang kepercayaanku mendongak dari balik pagar. Aku keluar menemuinya dan ia langsung menangis hendak mencium kakikku. Aku dan anakku tak mampu membeli beras untuk makan, begitu ia menghiba. Aku tetap diam. Jauh di lubuk hati aku telah memaafkan perbuatannya dan menangisi atas apa yang terjadi. Tunggulah sampai kamu benar-benar sadar atas apa yang kamu lakukan, ujarku saat itu. Selang beberapa minggu ia kembali muncul di hadapanku dan aku sudah mampu membalas senyumnya. Aku tiba-tiba merasakan kebahagiaan luar biasa ketika akhirnya bisa menerima kembali kehadiran orang kepercayaanku ini. Aku bahagia melebihi jumah uang yang telah raib ketika aku mampu memaafkannya. Aku hanya berfikir bagaimanapun setiap manusia layak menerima kesempatan kedua dari setiap kesalahannya. Bulan berganti tahun, sahabatku kini telah menjelma menjadi orang yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Ia tetap menjadi orang kepercayaanku dan aku amat berbahagia telah memaafkannya.