neng kimung

Neng Kimung, adikku paling kecil pandai sekali berbicara. Kami sekeluarga sering manganggapnya bintang pertemuan karena suasana akan terasa beda jika neng kimung hadir dan membawa berita. Setali tiga uang dengan suaminya yang ngocol abis, jang kiwong. Segala kejadian akan terasa beda ceritanya jika disampaikan oleh neng kimung. Cerita sedih akan semakin sedih, yang lucu makin lucu dan cerita yang bikin gondok akan bikin kita ikut-ikutan gondok. Neng kimung memiliki tiga orang anak sebelum akhirnya menikah dengan jang kiwong yang masih bujangan walaupun usianya jauh diatas neng kimung. Sekarang bertambah satu orang anak dari jang kiwong sehingga anaknya  berjumlah empat orang dan sedang benar-benar tumbuh dan memerlukan perjuangan extra untuk membuat mereka sekolah dan hidup layak. Aku salut karena dibalik kesulitan yang dihadapinya neng kimung adalah pribadi menyenangkan yang selalu punya cerita untuk dibagikan kepada orang lain. Saat sedihpun neng kimung akan fasih bercerita tentang kesedihannya dan disisipi acara tangis dan derai air mata. Seperti pribadi yang punya sifat expressif, kami sering mudah sekali membedakan kapan neng kimung sedang sedih,bahagia,kecewa atau kesel hanya dengan melihat guratan wajahnya.

 

Wajah seorang expresif seperti neng kimung berganti-ganti, kadang nampak begitu muda dan kanak-kanak tetapi suatu ketika nampak sepuluh tahun lebih tua. Soal kefasihan neng kimung dalam berkomunikasi memang sering banyak manfaatnya dan kami menganggap itu berkah yang diturunkan dari Apa. Tak sedikit beberapa miskomunikasi keluarga maupun tetangga yang bisa diselesaikan dengan menggunakan jasa neng kimung. Bahkan neng kimung sering berhasil meredamkan pertikaian-pertikaian kecil antara umi dan apa. Aku masih ingat saat kecil dulu neng kimung memang sudah terlihat berbeda. Ia tak malu untuk tampil menyanyi dan menari didepan orang banyak walau aku tak pernah menyangka ia akan pandai bicara seperti sekarang. Satu hal lain yang aku kagumi dari adikku adalah karena kehebatannya bangkit kembali untuk hidup setelah sempat jatuh dalam perceraian. Saat itu aku sendiri sebenarnya takut jika adikku tak mampu untuk bangkit lagi dalam hidup sementara ia memiliki tanggungan tiga orang anak yang masih kecil aku masih mengingat semua peistiwa yang mengantarkan adikku menjadi neng kimung seperti saat ini. Begini kisah lengkapnya :

 

Keluarga besarku geger. Adik bungsu kami, neng kimung akhirnya memutuskan bercerai. Sudah beberapa bulan ini memang rumah tangganya selalu gonjang-ganjing. Suaminya yang pencemburu dan ringan tangan adalah salah satu hal yang membuat kimung sering tertekan dan bercucuran air mata. Sebagai kakaknya aku juga merasa kaget karena baru mengetahui ketidakberesan rumah tangga adikku hampir sepuluh tahun setelah mereka berumah tangga. Adikku ternyata diam-diam menyimpan bara rumah tangga dan segala kemelut yang sukar dipecahkannya sendiri. Peristiwanya terbongkar sebulan yang lalu. Suami kimung, jeje oon, melakukan tindak kekerasan rumah dengan memukuli adikku,istrinya sendiri. Saat itu tiba-tiba semua orang terperangah dan menjadi jelas bahwa selama ini adikku hidup dalam neraka bersama suaminya yang nampak dimata kami sebagai si lembut hati. Tak pernah terbayangkan dalam benak kami semua bahwa jeje oon berperangai kasar dan berperilaku seperti manusia tak mengenyam pendidikan. Padahal dulu salah satu yang meluluhkan hati ayah ketika menerima lamaran jeje oon adalah karena perangainya yang sangat sopan santun dan lembut. Saat itu jeje oon tinggal bersama kami sebagai mahasiswa yang sedang menyewa sebuah kamar.

Ayah sangat setuju jika jeje menjadi suamimu, walaupun dari keluarga tak berada tapi ayah suka dengan caranya beribadah dan ahlaknya yang baik, begitu ayah berkata pada adikku yang saat itu baru duduk di kelas 3 SMU. Adikku mungkin saja sebagai remaja tertarik atau ia sebenarnya bimbang hendak kemana menjelang dewasa, antara meneruskan belajar yang nampak jauh  karena benturan sebagai anak perempuan dari pinggir kota dengan tawaran ayah untuk menerima pinangan jeje oon di depan mata dan janji ayah bahwa ia berbahagia jika adikku menikah dengan jeje pemuda baik dan santun itu. Ibuku sebagai wanita biasa hanya setuju saja dengan keinginan, firasat dan pilihan ayah. ibu memang jarang berkonfrontasi apalagi memprovokasi ayah karena argumennya sering kalah oleh ayah yang pendidikan dan pengalamannya lebih tinggi.

 

Aku tak pernah bertanya langsung kepada adikku karena kupikir dia sudah cukup dewasa dan aku sempat berfikir mungkin adikku juga sudah jatuh cinta kepada jeje oon yang wajahnya tak terlalu memalukan untuk ukuran manusia di kota kecilku. Aku teringat ketika aku berkirim surat kepada ibu dari tempatku belajar di kota lain bahwa sebenarnya aku tidak setuju dan sangat sedih mendengar adikku akan segera menikah selepas SMU. Aku sebenarnya menginginkan adikku melanjutkan kuliah dan berpendidikan tinggi seperti wanita-wanita lain yang memiliki pengetahuan dan ilmu yang dapat mengangkat derajat dan harga dirinya kelak. Aku sedih karena aku tahu dari apa yang kupelajari dan dari orang-orang sekitarku bahwa keluarga kami sebenarnya mampu untuk menyekolahkan putra-putranya tapi entah kenapa sampai saat itu hanya aku yang mau masuk ke jenjang perguruan tinggi. Ayah maupun ibuku rupanya tak setuju dengan usulanku dan ibu menjelaskan dalam surat bahwa adikku tak punya bakat untuk sekolah tinggi seperti aku. ”Kamu dari kecil sudah senang membaca dan belajar, dan kamu laki-laki yang langkahnya panjang, begitu ibu menambahkan. ”Ayah dan ibu takut terjadi sesuatu dengan anak gadis, ayah belum berani melepas anak gadis pergi jauh walau untuk menuntut ilmu sekalipun dan adikmu bukan gadis buruk rupa, salah-salah ada lelaki yang berbuat jahat terhadapnya”, begitu kata ayah. ”Lagipula perempuan itu cepat layu, kang, terlambat sedikit saja ia tak akan dilirik siapapun. Banyak perempuan yang terlambat dan akhirnya tidak pernah mendapatkan jodoh yang baik. Biarlah adikmu belajar ilmu dari suaminya kelak karena itu ayah akan berusaha untuk mendapatkan jodoh baginya lelaki yang baik dan berilmu,” panjang lebar ayah dan ibuku menjelaskan. Setelah itu aku tak pernah lagi mengajukan protes atau mengirim surat keberatan atas pandangan ayah dan ibuku. Saat liburan semester aku pulang dan kudapati rumah sudah siap dengan acara pernikahan adikku. Ayah kulihat begitu antusias menyambut kehadiran jeje oon sebagai menantu, berkali-kali ia mengatakan padaku bahwa jeje oon adalah calon menantu yang baik, berilmu dan bertanggung jawab. Tak sia-sia ayah membantunya untuk segera diangkat jadi pegawai negeri sipil dan bisa segera mengajar disini daripada harus kembali ke pedalaman kalimantan, demikian ayah berucap ketika itu. Ayah memang sangat menginginkan jeje untuk jadi menantunya walau harus berkorban banyak untuk membantu jeje. Kudengar adikku sempat menangis hebat di kamar karena jeje oon ternyata tidak akan memberikan mas kawin sepeserpun. Adikku yang masih kanak-kanak tentu sedih dan mungkin merasa malu. Mungkin ia malu pada kawan-kawan seusianya jika tahu bahwa ia menikah tanpa diberi mahar sepeserpun. ”Sekalian saja tak usah dipestakan, bu, bawa saja saya ke KUA, toh saya memang tak layak dihargai dengan mas kawin”, begitu ibuku menirukan kata-kata adikku. Ayah tak pernah kehilangan akal. Adikku diberikan penjelasan bahwa memang ayah tak pernah menginginkan mas kawin apapun dari jeje, sebaliknya ayah malah berjanji akan memberikan apapun yang adikku inginkan sebagai mas kawin atau perhiasan asal ia tidak mempermasalahkan ada tidaknya mahar dari jeje. Kudengar jeje sempat malu dengan peristiwa itu dan dia mengutarakan niat untuk mundur. Tapi entah bagaimana kelanjutan ceritanya yang kutahu kemudian pesta pernikahan adiku digelar. Ayah wanti-wanti tidak ingin menggelar pernikahan yang berlebihan karena itu bukan hal yang patut bagi diri dan keluarganya. Aku turut berbahagia walaupun jauh dalam lubuk hatiku aku tetap merasa sedih melihat adik perempuanku satu-satunya duduk di pelaminan dalam usia yang begitu belai, menikah dalam usia sekolah sementara kawan-kawan perempuan di kampusku pada usia seperti itu sedang tertawa-tawa di ruang kelas menikmati masa muda.

 

Kulihat wajah ayah sangat murung setelah perceraian adikku apalagi ketika ia tahu ternyata rumah tangga adikku jauh dari harapan dan bayangannya ditambah kenyataan bahwa jeje kerap menyiksa lahir dan batin. Adikku akhirnya mau menceritakan segala kemelut rumah tangganya pada kami termasuk bagaimana jeje melakukan kekerasan psikis dengan kata-kata yang sungguh tak pantas diucapkan seorang suami terhadap istri. Berkali-kali kutanyakan pada adikku apakah ia pernah melakukan suatu kesalahan yang sangat fatal sehingga jeje berani dan tega memperlakukannnya sedemikian buruk. Dengan menyebut nama Tuhan adikku bersumpah bahwa ia tak pernah melakukan apapun diluar batasnya sebagai seorang istri. ”Jika melayani orang di warung adalah kesalahan, kenapa saya harus diajak ikut mencari nafkah ?”, adikku balik bertanya dengan berurai air mata. Rasanya aku ingin ikut menangis, tak kusangka lelaki yang sudah demikian banyak menerima kebaikan dari seorang lelaki tua tega membalasnya dengan cara seperti itu terhadap anak gadisnya. Aku perhatikan ayah dalam-dalam, goresan usia di wajahnya tiba-tiba nampak jelas, matanya turun menandakan kesedihan walau tanpa meneteskan air mata. Kepalanya tertunduk dan jemarinya nampak sedikit bergetar menahan amarah, kata-katanya seakan parau seperti tak keluar dari kerongkongan. Tak tega rasanya menebak dan membayangkan perasaannya saat itu.

 

Aku membayangkan seandainya aku berada pada posisi ayah, bahwa aku telah menjodohkan anak perempuanku dengan seorang lelaki yang kuanggap anakku sendiri, memberikan semua kebaikan pada lelaki itu untuk kemudian tahu bahwa ia menyengsarakan darah dagingku sendiri. Betapa aku akan merasa marah dan sakit. Betapa aku juga akan merasa bersalah terhadap anak perempuanku.

”Mungkin jeje mengidap penyakit”, kata kakakku memecah kesunyian.

”Dia gila, jelas gila”, tandas ibu seperti tak ada lagi kata yang lebih tepat buat jeje oon. ”Hanya orang gila yang menyiksa istrinya sendiri”, ibuku masih menimpali dengan suara yang seperti ingin menumpahkan segala kegeramannya pada jeje oon. Ayahku masih terdiam dan aku kembali meraba-raba kepedihannya. Kudengar ayahku berbisik dengan suara lirih, ”ayah ternyata salah, ya”. ”Ayah memang salah”, ia mengulangi kata-katanya. Kami yang ada disana terdiam, tak berani mengeluarkan sepatah kata pun. Dalam hati aku membenarkan kata-katanya, iya…ayah salah, walau saat itu juga aku ingin menenangkannya dan menghiburnya bahwa semua yang terjadi bukan karena salahnya tapi entah kenapa saat itu aku malah membiarkan ayah menyesali keputusannya. Ada perasaan sombong dalam hatiku ingin melihat ayah untuk mengakui kesalahan-kesalahannya walau aku kemudian sadar tak ada yang salah atas apa yang sudah terjadi. Mungkin diam-diam aku ingin unjuk diri dan ingin diakui bahwa keputusanku dulu yang tidak setuju sebenarnya adalah yang paling hebat dan benar. Kubiarkan ayah dengan kesedihannya untuk sementara waktu Kutatap adikku dan dari sorot matanya aku menerka jika adikku ingin berbagi segala kesedihan ini dengan kami kakak-kakaknya terutama dengan ayah yang sudah memilihkan jodoh untuknya. Berkali-kali kuyakinkan adikku bahwa tak ada yang salah dengan menjadi seorang janda daripada berumah tangga tapi seperti dalam neraka.

 

 Sebulan kemudian adikku secara resmi bercerai dari jeje oon. Ketiga anaknya ikut bersamanya dan ia tinggal di rumah dekat orang tua kami. Ketiga anaknya malah lebih sering diasuh ayah dan ibuku karena adikku meneruskan usaha yang terbengkalai selama ini.

”Ah, untung juga ada anak-anak ini, kami jadi nggak kesepian,” begitu ayahku suatu ketika berkata padaku walau aku tahu mungkin itu hanya caranya untuk melupakan kepedihan perceraian anaknya walau kulihat ayah sangat sayang kepada tiga anak adikku terutama Tisa yang terkecil.

”Mungkin ini hikmahnya, rumah ini jadi nggak sepi”, aku menimpali.

”Biarlah anak-anak ini menjadi tanggunganku, aku masih mampu, akan kubuktikan pada siapapun aku akan bertanggung jawab atas perceraian anakku dengan membesarkan dan menyekolahkan anak-anak ini agar pintar seperti kamu”. Aku hanya diam, ayahku memang sering nampak mengatasi kesedihan dengan berbicara keras dan lantang .Ia lebih suka menampilkan sosok dirinya yang keras daripada harus memperihatkan kecengengannya apalagi didepan anak-anaknya. Bahkan tak jarang ia langsung berbicara hal lain  jika harus berhadapan dengan situasi atau hal yang menceritakan kesedihan. Ayah memang pantang meneteskan air mata dan terakhir aku melihat air matanya mengalir saat aku diterima masuk perguruan tinggi idamanku. Kukatakan pada adikku bahwa ia tak perlu meratapi yang sudah berlalu dan jangan pernah menyalahkan ayah yang telah memilihkan jodoh untuknya. ”Tidak ada yang salah, semua terjadi atas kehendakNya”, kuhibur adikku pada beberapa kali pertemuan di rumah ayah ibuku. Soal ternyata jeje oon seperti itu bahkan tiada seorangpun yang tahu. Adikku nampaknya mengerti dan ia memahami apa yang terjadi. Setahun kemudian adikku menikah kembali dengan lelaki pilihannya. Kali ini firasatku sangat bagus dan aku tahu ayah ibuku menyetujui pilihan adikku. Ia nampak sangat bahagia karena akhirnya dapat hidup dengan seseorang yang ia cintai. Ia pernah berseloroh untuk kabur jika kami tak merestui perkawinannya dengan iwan, lelaki pilihannya.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.