PHOBIA

Hari sabtu ini aku harus terbang ke jakarta karena aku diminta menemani boss untuk mengikuti acara yang diselenggarakan kantor pusat. Harusnya aku bangga dan senang ikut berangkat ke jakarta dengan segala ongkos ditanggung kantor. Nyatanya malah aku mulai galau dari hari senin kemarin. Masalahnya sepele tapi luar biasa, aku terserang phobia naik pesawat. Seharusnya semakin sering seseorang naik pesawat semakin kecil rasa takut yang difikirkannya. Kenyataannya malah sebaliknya karena dulu awal pertama naik pesawat aku sangat memimpikan dan membayangkan nikmatnya terbang ke udara melihat awan dan cakrawala. Sudah ratusan kali naik pesawat tapi seiring berjalannya usia dan banyaknya tragedi seputar perusahaan penerbangan negara ini aku jadi ikut-ikutan takut naik pesawat. Aku masih ingat awal naik pesawat yang membuatku takut adalah ketika melakukan penerbangan Jakarta Ambon. Selama perjalanan normal saja dan tidak ada apapun yang membuatku kaget atau jantungan. Tapi selama penerbangan Hasanuddin Pattimura itu (penerbangannya malam) tiba-tiba aku disergap rasa takut luar biasa. Aku ingat bahwa aku saat itu sedang naik pesawat perusahaan penerbangan swasta Indonesia yang sering diklaim berbahaya. Aku merinding dan membayangkan bagaimana jika terjadi sesuatu diatas laut sulawesi, laut ambon,hutan belantara ambon atau entah apalagi karena otakku tiba-tiba penuh dengan fikiran negatif. Penerbangan pulang juga demikian dan akhirnya sejak saat itu aku tidak bisa menghilangkan rasa takut dan terjangkit phobia naik pesawat. Expressi takutku macam-macam, jika kebetulan terbang dengan istriku maka selama penerbangan tanganku tak akan lepas dari tangan istriku, sesekali aku merunduk dan memejamkan mata jika terjadi sedikit goncangan saja. Dzikir dan doa terus menerus dilafalkan tapi tetap saja tak tenang dan serasa berada di ujung tanduk kematian. Sekali waktu aku terbang sendiri dari Juanda ke Cengkareng. Aku mendapat kursi di belakang sekali dekat dengan ekor pesawat. Saat take off itulah aku benar-benar hampir meloncat karena kaget dengan guncangan karena saat itu cuaca sedang turun hujan. Ternyata tanpa sadar aku memegang tangan seorang bapak tua yang duduk di sebelahku.

“Baru pertama naik pesawat ya,mas? Tanyanya dengan amat polos,….

”Ndak usah takut, saya juga pertamakali dan nggak takut”, lanjutnya tanpa menunggu jawabanku.

Huh, kalo bukan diatas langit dan didalam pesawat sudah aku damprat si bapak lucu ini, anda nggak tahu gimana menderitanya aku dan aku sudah ratusan kali naik pesawat dan akhirnya takut. Pantas saja anda nggak takut seperti juga dulu aku nggak takut, karena otak penuh dengan euphoria pengalaman pertama, gerutuku (heh, takut mati tapi sempet menggerutu)

Dalam penerbangan aku paling anti duduk deket jendela, tak mau melihat jendela saat take off dan selalu tak punya rasa ingin makan minum apalagi ke toilet selama penerbangan. Sabuk aku kencangkan dan sering kali detik terakhir menjelang take off rasanya aku ingin teriak ke pramugari yang memeragakan keselamatan untuk minta keluar dari pesawat dan tidak jadi berangkat.

Sore kemarin ketika pulang dari kantor kebetulan ada pesawat terbang melintas diatas kendaraanku. Aku coba tanya sopirku apakah dia takut naik pesawat.

“belum pernah naik pesawat,pak, jawabnya pelan (dan aku juga bodoh melontarkan pertanyaan demikian)

“kalo punya kesempatan naik, kira-kira takut nggak?” tanyaku kemudian

“nggak lah,pak, kan mati mah bisa dimana aja”,jawabnya

Aku diam, bener memang mati bisa dimana saja  dan lebih banyak orang mati diatas kasur daripada orang mati di angkasa.

“bapak harus percaya, orang baik pasti mati nya juga baik”, sopirku memberi tambahan

Aku tetep diam walau sekali lagi setuju dengan segala ucapannya. Orang baik matinya juga baik. Lalu pertanyaannya, orang baikkah aku?hmm…..jangan-jangan ketakutanku naik pesawat cerminan ketakutanku akan kematian? Bukankah orang baik dan telah menemukan jalan Tuhan pasti menginginkan perjumpaan dengan Nya? Merindukan Nya?Dan perjumpaan dengan Nya adalah dengan melewati pintu kematian. Kenapa aku begitu takut dengan kematian? Cling! Tiba-tiba aku menemukan jawaban pasti atas ketololan ini. Ya, aku belum beriman sepenuhnya pada Allah. Amal ibadahku masih sedikit dibandingkan segala perbuatan buruk yang telah kulakukan sehingga begitu takutnya aku menghadapNya (seperti betapa takutnya kita saat kecil dulu untuk menemui ayah yang mengetahui perbuatan nakal kita). Ah, mudah-mudahan kewajibanku untuk sering terbang membuatku berusaha melenyapkan phobia ini dengan jalan membenahi seluruh hidup dan alam fikiranku yang sering kusut. Mungkin ini cara Tuhan pula memberikan jalan agar aku sadar untuk menjadi orang yang penuh bekal amal dan tak takut menjumpai Tuhannya. Aku yakin orang beriman hanya takut dengan ancaman Tuhannya. Orang beriman tak akan takut dengan kematian, apalagi hanya naik permadani masa kini terbang.

One Comment (+add yours?)

  1. tri handoyo
    Jan 18, 2009 @ 04:56:04

    waduh pengalamannya rada mirip dengan aku cuma sampe sekarang aku masih merasa ketakutan itu sampe2 kalo disuruh ada perjalanan dinas dari kantor aku bela-belain berbohong ada urusan keluarga.tapi thanks udah share info kayaknya aku harus mulai berani ni naik pesawatnya.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.