ROKOK
Kemarin pulang dari Jakarta saya terpaksa kembali kalah pada rasa takut terbang dengan naik kereta api yang katanya eksekutif. Harga tiketnya hanya selisih sedikit dengan harga tiket pesawat non garuda di jam dan hari yang tidak sibuk. Sebenarnya sudah berkali-kali saya mengalami kebetean tingkat tinggi saat harus melakukan perjalanan dengan kereta api. Jam berangkat yang selalu molor sehingga jam kedatangan juga demikian. Yang membuat saya semakin sewot adalah fasilitas eksekutif yang ditawarkan benar-benar tidak sesuai dengan kenyataan didalam nya. Wc yang sangat jorok dan sirkulasi udara ac yang kotor di dalam gerbong bisa membuat pengidap asma dan alergi kambuh seketika. Penderitaan saya sebagai pengidap alergi debu adalah ketika seorang bokap merokok didalam gerbong yang jelas ber ac. Sifat keindonesiaan saya yang cenderung hipokrit tidak berani untuk menegur si bapak yang nampaknya dari kawasan uncivilized akhirnya membuat saya terbatuk-batuk selama sisa perjalanan. Beruntung ada seorang penumpang lain yang membawa balita akhirnya menegur si bapak dan memintanya dengan agak kasar agar tidak merokok di ruangan gerbong yang ber ac. Saya tidak tahu apakah si bapak termasuk golongan illiterated karena dengan jelas didepan terpampang sudah ada tulisan dilarang merokok yang kebetulan tertulis dalam bahasa inggris. Ngomongin soal merokok memang sangat menyedihkan di Negara ini. Hasil penelitian yang pernah saya baca menunjukan statistik yang mencengangkan. Konsumen rokok adalah masyarakat kelas bawah dan menghabiskan anggaran rumah tangga mereka sebesar sepertiga dari penghasilan mereka. Konsumsi rokok hanya dikalahkan oleh konsumsi beras. Artinya keluarga miskin perokok di Indonesia lebih rela makan nasi saja dibandingkan harus makan dengan lauk atau daging tetapi harus menghentikan konsumsi rokoknya. Bayangkan betapa lingkaran setan telah terjadi. Si ayah telah diikat oleh candu rokok sehingga penghasilan yang seharusnya dinikmati untuk segala hal yang bisa memperbaiki nasib malah sepertiganya habis untuk sesuatu yang luar biasa merugikan diri dan anak-anaknya. Jangan berfikir apakah mereka pernah mengkalkulasi berapa biaya yang bisa mereka kumpulkan dalam satu bulan, satu tahun, sepuluh tahun dari uang yang dibelanjakan untuk rokok. Mereka bahkan tak berdaya untuk mengeluarkan uang sebesar biaya konsumsi rokok mereka sebulan untuk kepentingan pendidikan atau membeli buku bacaan. Rokok memang candu. Rokok adalah kesia-sian.Saya lebih suka untuk menganggapnya haram, setidaknya buat diri saya yang tidak mendapatkan apapun selain penyakit dari asap rokok.