SAHABATKU AGUS KIRMADI
Jika ada saudaraku yang muslim dan begitu membenci manusia lain yang berbeda keyakinan dengannya kuharap ia bertemu dengan sahabatku,Agus Kirmadi. Terlahir dari keluarga yang berkeyakinan kejawen agus memeluk nasrani sejak usia masuk sekolah SMA. Keluarganya terbagi dalam dua keyakinan muslim dan kristen karena orangtuanya membebaskan anak-anaknya untuk memilih keyakinan masing-masing. Aku tak ingin menyinggung masalah bagaimana hukum orangtua yang membebaskan anak-anaknya memilih keyakinan anak-anaknya dan hukum saudara Agus yang membarkan saudaranya yang lain dalam keyakinan yang berbeda karena toh Agus dan saudara-saudaranya berasal dari sepasang orangtua penganut keyakinan kejawen . Bukan pula menjadi hak aku untuk berbicara dan menghakimi mereka karena aku bukan pula yang menentukan siapa harus terlahir dari rahim siapa sehingga bodoh rasanya membuat kesimpulan atas apa yang terjadi pada mereka. Aku hanya ingin bercerita dan berbagi tentang bagaimana nikmatnya hidup yang kurasakan dalam menjalin persahabatan tulus dengan seseorang yang berbeda keyakinan seperti agus dan ketika kami saling mempercayai untuk tidak saling menyerang apalagi menyakiti keyakinan masing-masing. Aku bisa bertanya bebas tentang ajaran nasrani pada agus dan mengomentarinya dalam suasana yang sangat menyenangkan. Demikian juga agus terhadapku, aku selalu siap menjawab pertanyaannya tentang Islam sepanjang aku mampu menjelaskannya. Aku merasa sedang menjalankan perintah Rasul kami yang berbudi pekerti luhur dan telah memberi teladan untuk mampu hidup berdampingan dengan manusia lain yang berbeda keyakinan dalam suatu tatanan hidup yang harmoni dan damai. Pernah suatu ketika Agus mengolok-oloku ketika kami hendak berangkat bersama naik pesawat dan ia tahu aku masih saja takut saat terbang dengan pesawat. Katanya udah rajin shalat tahajjud segala, kok masih saja takut naik pesawat, belum siap ketemu Tuhan? Kata agus mengomentari keluhan rasa takutku. Aku malah heran sama sampeyan, nggak pernah sholat kok nggak takut naik pesawat dan nggak takut mati, jawabku dengan tangkas dan seringai tulus. Atau guyonan kami yang lain ketika aku mengomentari betapa rajinnya agus pergi beribadah. Jangan terlalu rajin ke gereja gus, ntar kamu jadi pengen hidup selibat tanpa perempuan lho, kataku. Iya, kamu juga jangan sering ikut pengajian, nanti malah pengen kawin sampe empat kali, jawab agus sekenanya. Tawa kami pecah. Tentu guyonan yang kami lontarkan bukan konsumsi publik dan hanya berlaku untuk kami yang sudah saling percaya dengan ketulusan penghormatan terhadap keyakinan diantara kami. Tak pernah aku dengar dan aku baca dalam suatu ayat kitab suci atau hadis yang kuyakini kebenarannya yang memintaku untuk memusuhi seseorang yang berbeda keyakinan denganku sementara ia tak memusuhi ku dan apa yang kuyakini. Bukankah rasul tak pernah melakukan huru-hara, pemaksaan apalagi ekspansi militer yang menyerang sekelompok manusia atau negara lain saat memperkenalkan Islam? Diluar itu agus adalah sahabat yang telah beberapa kali teruji ketulusannya membantuku saat-saat sulit. Aku sering merasa risih dengan kesiapannya untuk membantu. Istriku sering berkomentar bahwa agus kirmadi terlalu baik sebagai sahabat. Beberapa teman dekatku yang pernah kukenalkan pada agus pun langsung menangkap tingkah polah agus yang santun dan menyenngkan. Adikku pernah mengenalnya beberapa hari ketika kami pergi ke Bali bersama dalam suatu acara kantor. Agus, baik sekali,lucu dan bener-bener nyenengin, kata adikku. Ah, seandainya manusia memahami sebuah pengertian bahwa agama bukanlah ajaran yang menghalangi manusia untuk menjalin hubungan persahabatan dan silaturahim untuk saling mengenal. Agama seharusnya menjadi sendi utama manusia untuk selalu berbudi pekerti dan menempatkan kemanusiaan diatas syak wasangka buruk dan merendahkan manusia lain. Tuhan kita bukanlah Tuhan yang mengajarkan kekejaman dan penyeru kebinasaan. Ia menyeru manusia agar menjadi wakilnya di muka bumi untuk melestarikan alam dan mengasihi seluruh penghuninya hingga datang ketetapanNya untuk menghentikan semua yang telah Ia ciptakan. Bagiku perang yang ada saat ini lebih kulihat sebagai sebuah pertempuran antara kebencian melawan ketamakan, kekejian melawan kerakusan dan kebodohan melawan takabur. Manusia mulia yang mempercayai Tuhan sebagai yang Maha Pengasih dan Penyayang tentu akan lebih memilih hidup damai dan mengupayakan perdamain.