soni harsono

Inget soni berarti inget Ratih Purwasih. Betapa kagetnya aku (bener-bener kaget man!) begitu tahu kalo soni ada apa-apanya dengan Ratih Purwasih. Jangan nyangka yang enggak2 dulu. Benar, soni tidak terlibat hubungan apapun dengan penyanyi tahun 80an yang selalu menyanyikan lagu-lagu super melankolis (bayangkan ajah……keluh kesahnya aja sama hujan yang turun lagi-turun lagi) tapi soni adalah salah satu penggemar berat Ratih Purwasih. Gila nggak? (sebenarnya enggak juga, malah ada temen sekelasku yang bukan anggota kacenjus punya koleksi lengkap itje tresnawati dan evi Tamala, namanya nggak perlu aku sebutkan untuk menjaga kerahasiaan dan kehormatan yang bersangkutan). Yang bikin aku,bombom,soni dan agus kaget tentu saja karena dia anggota kacenjus yang tidak boleh keluar dari pakem kewajaran hobbi anggota geng lain. Kami mendengarkan (hanya) lagu2 yang menurut kami menyuarakan gaya anak muda yang up to date saat itu dan nggak malu-maluin geng, pokoknya pop alternatif lah. Nah, kejadian terbongkarnya rahasia soni penggemar berat ratih purwasih ini saat kami dalam perjalanan pulang dari Pangandaran. Kebetulan kami diajak mampir ke rumah saudara bombom di Bandung, tepatnya di daerah Cikutra. Seperti biasa tentu saja geng kami juga teteup merepotkan tuan rumah dan membuat malu saudara tuan rumah yang dalam hal ini adalah bombom. Setelah insiden kecil di meja makan (bayangin aja: aku dan akung terus-terusan bilang:…….hayang ih hayang…….naon eta? Hayang ih hayang…..setiap kali anak tuan rumah membawakan makanan ke atas meja makan) yang tentu saja membuat bombom murka menahan malu (bombooooom…urang sok era mun inget kalakuan eta..gara2 tangkurak si akung anu sok mawa gelo).Kami melewatkan malam di  rumah bombom yang kosong. Nah, kondisi capek dan mulai enek kelamaan kumpul dalam perjalanan begini kita coba kikis dengan nyanyi-nyanyi. Tentu saja lagu-lagunya selalu dari album nicky astria, iwan fals, chrisye ataupun ruth sahanaya.Aku (yang selalu banyak omong dan omong besar) tanya kenapa soni nggak pernah ikutan nyanyi, sementara kumis yang suaranya saja menakutkan kami selalu berusaha menyanyi (sebenarnya lebih layak disebut deklamasi). Soni tiba2 sewot dengan pertanyaanku dan bilang dia sebenarnya suka dan bisa nyanyi malah hafal lagu-lagu terbaru. Contohnya? Aku Tanya lagi. Ratih purwasih! jawab soni tegas dan makin sewot. Kami ngakak dan akulah yang paling ngakak. Tiba-tiba ….Ups! soni marah beneran dengan kemurkaan tiada tara dan tentu saja kemarahannya ditujukan padaku, malah dengan acara numpahin kopi segala, ucapnya :Ratih purwasih itu suaranya enak, dia orang cianjur dan kamu jangan terlalu sembarangan menghina ya…..(hihihi,….soniii,mun emut eta bukannya saya dendam tapi malah ingin sungkem ke kamu,son sambil menta hampura).

Aku kaget setengah mampus, mungkin demikian juga yang lain. Kemarahan soni saat itu benar2 tertuju padaku karena aku selalu paling tengil kalo urusan menggugat standar kesukaan orang lain dan usil dengan apapun yang menurutku layak diusili. Suasana jadi serba kikuk. Bombom seperti biasa hanya menampakan wajahnya yang menurutku menyiratkan agar aku diam karena sudah melakukan kesalahan. Agus salah tingkah dan sibuk dengan rokok kreteknya. Akung? Rasanya memang dia paling nggak peduli dengan urusan rasa bersalah, kikuk, rikuh, ewuh pakewuh dan rasa malu karena dia selalu bisa berlagak acuh dan terus sibuk menyanyi ( hampuraaaaaaaaa soni harsono, hampuraaa….demikian juga kepada Teh Ratih Purwasih dan Teh Endang S taurina)

 

Sejak kejadian itu aku sedikit (sedikiiiit banget!) sadar bahwa aku harus menghormati kesukaan dan keyakinan orang lain atas segala hal ( tapi pelajaran lainnya adalah kalo lagi suntuk massal apalagi dalam perjalanan panjang jangan ada yang banyak bacot nggak karuan).

 

 

Kenyataan lainnya adalah bahwa saat itu hanya soni yang sudah mahir menyetir mobil dan motor. Bombom mahir segala jenis motor.aku hanya bisa mengendarai vespa milik abangku, agus bisa (hah?bisa?) walau tertatih-tatih mengendarai motor tua milik kantor pos leuwiliang yang sering dipinjamkan bombom sementara akung sudah cukup puas bisa berjalan dengan dua kakinya. Jika diperingkat dalam soal pengalaman pun rasanya soni berada di urutan atas diantara anggota geng karena dia sudah lebih dulu tahu pangandaran sejak SMP, ke Bali sejak SMP, dan sering berjalan-jalan bareng orangtuanya ke beberapa kota, maklum saja bapaknya Camat Rumpin yang pada saat itu cukup disegani. Ada kejadian lucu tentang soni yang layak aku ceritakan, begini :

 

Saat bersekolah di SMA Leuwiliang, soni kost di rumah bu Maksum yang jaraknya dekat dengan sekolah maupun rumah bombom dan rumahku. Jarak Rumpin Leuwiliang rasanya memang terlalu jauh jika harus pulang pergi karena memakan waktu hampir satu jam. Sejak soni kost di rumah bu Maksum inilah kami tiba2 secara de jure memindahkan base camp geng kami ke kamar kost soni. Kamar kostnya asyik karena ada diluar rumah dan memiliki pintu sendiri walaupun bentuknya sederhana. Seiring waktu akhirnya kami juga akrab dengan keluarga bu maksum dan putrinya yang saat itu usianya  sekitar 3 tahun di atas kami. Namanya eneng (sunda banget ih!) dan katanya baru lulus D3 dari Bandung. Kami jadi punya bintang tamu pada setiap kesempatan berkumpul karena ternyata Eneng ini orangnya asik berat. Soal isi perut jadi makin terjamin karena kalo bermain gaple dan begadang makanan pasti disediakan eneng. Nah, ketika eneng makin akrab dengan geng  inilah kami juga makin sering kehilangan jejak soni. Ada aja alasannya. Ke rumpin lah, ke cianjur lah atau entah kemana. Seujung kuku pun diantara kami tak ada yang curiga kalo ternyata soni sedang menyelam sambil minum air. Yup, soni pacaran sama tante eneng….(hihihi….si akung langsung khotbah gila ketika soni akhirnya membuat pengakuan bahwa telah terjadi cinta-cintaan antara dia dan eneng).

Saat itulah aku tersadar bahwa ternyata kami sudah dewasa. Bayangkan aja, anak kuliahan aja doyan sama soni, padahal umur soni kan sama dengan kami , berarti kami juga bisa laku kalo pacaran sama anak kuliahan (agus kumis malah bisa laku sama ibu2 PKK setengah baya……..heheh …tapi akung tetep nganggap apa yang terjadi pada soni bukan anugerah tapi musibah…..).

 

 

Soal cinta lain yang berkaitan dengan soni dan tak kalah tragisnya adalah saat soni pacaran dengan wisda, teman sekelas kami. Sebenarnya waktu kelas satu  wisda sangat akrab denganku tapi entah kenapa sejak terbentuk geng kacenjus aku merasa lebih klik nge-geng daripada maen dengan anak2 lain termasuk wisda ini. Bagaimana mulainya aku nggak tahu, tiba2 saja tersiar kabar seantero kelas bahwa soni dan wisda udah jadian. Aku inget saat geng kacenjus siap berangkat ke pelabuhan ratu untuk penaklukan ombak yang kedua, wisda datang ke tempat soni dan membawakan snack dan makanan kecil untuk bekal perjalanan. Mungkin perlu aku tambahkan bahwa wisda termasuk cewek yang di blacklist oleh anak-anak perempuan lain di kelas karena menurut mereka wisda centil kampungan. Susi dan amoy adalah dua cewek di kelas yang anti-wisda (aku heran deh kalo anak2 perempuan jarang cocoknya sesama perempuan). Aku juga nggak tahu kejadian berikutnya kecuali yang aku tahu bahwa soni dan wisda kemudian marahan dan putus. Nah, saat suasana marahan dan putus inilah wisda (mungkin) merasa layak menganggap soni norak. Ucapannya bahwa soni pemuda norak ternyata terdengar susi dan amoy…..hihihi….seperti tragedi lainnya di bumi, kabar soni dibilang norak sama wisda sampai juga di telinga soni. Soni meradang.soni marah.soni murka. Apa tindakan soni selanjutnya? Duh Gusti, ternyata dengan berkacak pinggang, soni menghampiri wisda dan menyerangnya dengan tiba-tiba…..

“ heh, kamu bilang saya Norak?’…kamu sudah ke Bali? Kamu sudah ke Pangandaran?”…sudah ke Bali belum?  (hihihi….hampura son, adegan ini bener2 ada di kepala aku karena kejadiannya aku saksikan dengan mata kepala sendiri).

 

Sejak itulah soni putus dari wisda. Sejak itulah aku juga makin jauh dengan wisda karena tak mungkin akrab dengan seorang yang dibenci sahabat kita, bukan?

 

Satu lagi tentang cinta soni. Usut punya usut, ternyata soni naksir berat Rukmini, gadis semlohai anak IPS. Ya ampun, aku,bombom,kumis dan akung kaget setengah mampus. Terutama aku sebagai penggemar gadis tipe peragawati.Karena? Begini loh, Rukmini itu menurut kami punya lekuk tubuh seperti……..hmmm…bintang film era 70-an. Tubuhnya subur dengan perangkat depan dan belakang yang serba denok. Kulit putih bersih dengan pipi dan bibir merekah ditambah rambut keriting duabelas.Ok, son, selera anda memang agak antik untuk ukuran kami yang gandrung dengan tipe peragawati atau Ria Irawan (saat itu Ria Irawan cakep dan langsing), kurus tinggi dan perangkat depan belakang yang mungil2 saja. Akhirnya aku berkesimpulan bahwa kemungkinan ini terjadi karena soni terlalu sering bergaul dengan lelaki usia separoh baya karena terbukti juga bahwa soni doyan suara Ratih Purwasih daripada Ruth Sahanaya dan lebih menyukai body wanita jenis pesinden daripada  penyanyi pop alternative. Kata lainnya : Selera Soni memang beda!Kesimpulannya:Hormatilah selera sahabatmu.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.