tentang ijem
pokoknya gua harus jadi seleb,jem!”
“gue juga!”
“Gue harus jadi next helmi yahya, bila perlu jadi david letterman ato larry king-nya Indonesia!”
“jangan, lu jadi farhan aja, biar gue jadi Indy Barend nya”
“Tapi benerin dulu tuh gigi lu”
“tenang aja, pasti rapih pada saat terkenal nanti”
“iya, pake gigi palsu dari kuda”
Setelah itu kami pasti tertawa berderai-derai, kadang kami meneteskan airmata karena tak kuat menahan tawa. Apapun selalu terasa lucu jika aku sedang ngobrol sama ijem, temanku yang saat ini paling dekat. Nama sebenarnya Maria, Maria Shinta Hutauruk tapi aku lebih suka memanggilnya ijem, plesetan dari marijem. Orangnya lucu abis di mataku. Sebaliknya menurut dia akulah orang yang paling konyol,naif dan lucu. Kalo dilihat dari kacamata fisik, orang akan selalu bilang ijem cantik. Tinggi tubuh dan berat badan cukup proporsional untuk ukuran wanita asia, kulit putih dengan mata yang agak sipit seperti wanita menado walaupun dia asli batak,rambutnya panjang lurus seperti gadis-gadis di iklan shampoo dan ijem memang sangat bangga dengan rambutnya. Tak heran dia sering bela-belain pergi ke Peter Saerang untuk motong rambutnya 2 bulan sekali walaupun setelah itu harus hidup ngirit. Aku kerap meledeknya dengan urusan gigi karena kelemahan yang sangat kasat mata dan sering sekali dia adukan padaku (dan mungkin pada Tuhan) adalah soal giginya yang berantakan dan agak buram, tipikal anak yang saat kecil sering diberi antibiotik. Kami bukan teman masa kecil, sekampung atau lulusan sekolah yang sama. Pertemanan kami terjalin di kantor tempat kami bekerja. Well, asal tahu aja, ijem bukan jenis wanita yang mudah untuk diajak bicara oleh orang yang baru kenal apalagi laki-laki. Matanya bukan jenis mata yang suka memandang lawan jenis dengan syahwat karena yang akan ia perhatikan dari seorang lelaki adalah bagian lengan memakai jam tangan apa. Tampilan sekilas akan terlihat seperti wanita judes dan agak masam, tetapi jika sudah akrab seperti denganku ijem ternyata lebih gila dari yang ngaco dan lebih lucu dari tukul. Sumpah serapah dan nama binatang satu benua Afrika menjadi kalimat indah yang mengakrabkan persahabatan kami. Tertawa? Ijem biangnya karena caranya tertawa saja akan membuat orang lain tertawa. Jangan lupa suaranya yang bariton sering mengundang perhatian orang dan jika mendengar suaranya sekilas seperti suara anak lelaki yang baru muncul jakun. Aku sering menggoda Ijem ketika memperkenalkannya pada seseorang yang baru ia kenal bahwa ijem adalah contoh operasi ganti kelamin yang paling sukses di Amerika. Dulunya seorang laki-laki bernama Mario kemudian ikut program operasi vagina, payudara dan cangkok rambut, semuanya sukses tetapi operasi pita suara benar-benar gagal, begitu hinaanku.
“Gua seneng banget ama brad pitt”, kata ijem berapi-api suatu ketika.”Badannya kayak patung buatan seniman pemahat tanpa cacat, matanya cowok banget dan senyumnya…..huh”.., ijem menghela nafas sambil memperlihatkan gaya orang yang kesengsem dan ngiler.
“Kalo tom cruise?”, tanyaku iseng
“Ih, mukanya jahat, dan dia pendek, gua nggak doyan ,mending matt damon sekalian atau si george clooney aja”, timpal ijem dengan mimiknya yang seakan ia mampu mendapatkan dereten laki-laki hollywood yang baru disebutkannya
“nggak, tom cruise the best, nicole kidman juga”, timpalku tak mau kalah dengan gaya menjulurkan lidah menunjukan nafsu saat menyebutkan nama nicole kidman.
“Kalo nicole kidman sih gua setuju, Tom Cruise? Nggak banget!”
“Tom Cruise juga bilang gitu tentang elu, amit-amit ijem katanya!
“
“jem, nanti sore bakerz in yuk?
“Cihui…..”, kudengar ijem menjerit dan memekik di ujung telepon begitu mendengar ajakanku untuk makan di tempat kesukaannya.
“gitu dong kalo jadi cowok, sering-sering ajak cewek makan di tempat yang enak-enak,”
“Itu kalo dia naksir dan pengen ML ama cewek itu,”kataku
“kenapa sih harus ada niatan ML segala”,ijem menjawab sengit
“Lha, cowok sekarang mana mau ngeluarin duit banyak hanya untuk ngobrol doang, apapun topiknya!” kataku pura-pura serius
“Banyak goblok! Dan kita temenan kan? Jangan ngomongin sex dengan gua…”
“iya,gua lupa kalo elu nggak doyan sex, ya udah, jam?
“Sore,jam 4……”,
“langsung ketemu di PS ya….”
“okeh, eh, nggak boleh ajak vicki ya?” tiba-tiba ijem merajuk mengajukan nama pacarnya supaya boleh ikut.
“Nggak!”
“Karena?”
“Karena dia jelek”,
“Dasar lu!”
“Nggak…,gua lagi pengen berdua aja ama elu, lagian elu suka agak tertahan kalo ada Vicki, mulut lu jadi nggak tajam, mata lu jadi nggak awas dan elu jadi agak-agak behave gitu, ngerti?”
“Ngerti monyong”, jawab ijem pasrah tapi seolah dongkol
“See u there ya?
“Oke,” Ijem menutup ponselnya dengan nada sumringah.
Saat itu juga aku membenahi meja kerjaku, arlojiku udah menunjuk angka 3 kurang 15 menit, berarti ada waktu sekitar 45 menit buat membereskan semua kerjaan karena membutuhkan waktu kurang lebih setengah jam untuk sampai di Plaza Senayan dari kantorku di Pondok Indah. Aku sudah membayangkan serunya pertemuan nanti dan lahapnya kami memakan pesanan di restoran itu. Hal yang terpenting cuci mata! Dengan posisi duduk yang tepat kearah eskalator yang dilalui orang hilir mudik di lantai 2, maka mata kami akan menangkap pemandangan-pemandangan permai. Aku selalu bilang ke Ijem kalo tempat paling sempurna untuk nongkrong dan liat-liat manusia indah ada di Plaza Senayan, orang-orang yang datang seolah sudah melewati proses seleksi alam. Di Plaza Senayan ini kayak ada jaringnya, begitu komentar novi melihat lalu lalang manusia yang seperti tanpa cacat. Bahwa yang berkulit bersih saja, apakah itu kecoklatan atau seputih pualam ,yang wangi ,yang gaya, yang rapih, yang funky, yang cool, yang bodynya terasah di fitness, yang dandannya nggak menor tapi sedap dilihat, yang bajunya kalo nggak hugo boss, armani,gucci atau minimalnya zara buat cowok, yang cewek minimalnya berbaju mango, tasnya prada,gucci,dior bahkan tas birkin hermes yang harganya sama dengan sebuah mobil baru.
“Itu Diana Pungky, cantik amat, gila tasnya LV model baru”, ijem mulai berceloteh dan siap dengan segala jurus komentar ketika kami sudah mendapat kursi dan makanan di bakerz in sementara aku masih sibuk melahap waffel ice cream yang nikmatnya hanya bisa ditandingi dengan bercinta sama Pamela Anderson.
“Cewek itu ngeliatin elu terus, jem, Lines kali”,
“Biasa, gue kan cantik,”
“Caya, deh,”
Awe, itu Anjas…”,Ijem berbisik setengah memekik sambil matanya membimbingku melihat sosok yang berjalan lewat eskalator. Anjasmara, siapa tak kenal Anjasmara.
“Gila, cakep,bersih,rapi, tas dan ikat pingganya LV!” ijem terus berceloteh memuji mahluk yang emang cakep dan fokus ijem adalah tampilan kulit yang bersih dan apa yang melekat di tubuh orang yang dilihatnya.
“Dian Nitami perempuan yang sangat beruntung”, Ijem masih terus berceloteh tentang Anjas
“Karena?” tanyaku seenaknya
“Ya, karena cakep, wangi dan kaya”, ijem emang sudah tak pernah sungkan lagi mengatakan menyukai lelaki kaya, bila perlu kaya raya. Dia sering berkata bahwa money most important. Entah gurau atau betulan yang jelis ribuan kali dia mengatakannya di telingaku.
“Kenyang jem, apa lagi nih”
“kopi? Udah lama,lho kita nggak ngopi,” ijem mengajak aku untuk memesan kopi, biasanya kami memesan satu untuk berdua, karena kami tidak pernah bisa menghabiskan sacangkir kopi sendirian. Lucunya, Ijem harus meminum kopi duluan dari cangkir yang kami pesan, karena setelah itu aku akan membubuhkan gula ke dalam cangkir kopi tersebut.
“boleh juga, Illy coffe aja, black one!”
Lalu ijem sudah melambaikan tangan memanggil pelayan dan menerangkan apa yang kami pesan. Sambil menunggu kopi datang mata kami tetap jajan dan mengawasi manusia yang lalu lalang seperti pemburu yang menunggu seekor rusa dan kami tetap ngobrol dengan topik yang selalu meloncat-loncat.
“gua udah nggak sabar pengen segera pindah ke amrik”, ijem mulai dengan topik baru tentang keinginannya yang senantiasa membuatnya menggebu: beremigrasi ke amerika,
“Gua nggak betah di negeri ini, serba nggak jelas, nggak pasti..”, ijem masih melanjutkan ocehannya.
“well, dimanapun ketidakpastian selalu ada, jem, lu fikir amerika serba enak dan pasti?’ sergahku
“Setidaknya di amerika mimpi itu terbuka lebar untuk jadi nyata, setiap manusia punya kesempatan yang sama untuk maju dan kaya, entah dia mau mulai dari pencuci piring atau tukang angkut barang, tapi disana semua orang punya kesempatan yang sama, siapa kerja keras dia yang akan berhasil, sementara disini? Huh, lu yang sekolah S2 udah tauk dong!”
“Disini kesempatan terbuka juga buat siapapun, lu pun bisa maju dan kaya disini,”
“Gua nggak percaya, sistemnya udah kadung berantakan!” ijem mencibir dengan ketus
“Buktinya banyak kok orang mulai dari nol dan berhasil, Krisdayanti atau artis mana lah juga kan banyak yang meniti dari bawah, stup!”
“Presentasinya terlalu kecil! Possibility nya terlalu rendah”, ijem menjawab tak mau kalah
Tiba-tiba pesanan kami datang, black coffee dengan wangi yang sudah sangat kami kenal. Kami menikmatinya diselingi dengan canda dan omongan yang kadang menyentuh kalbu tetapi banyak juga yang harus ditandai off the record.
Pukul delapan malam kami pulang
Aku langsung ke bogor nih, kayaknya naek taksi aja
Lho, sopir lu kemana?
Ada, tadi gua suruh pulang duluan karena dia sakit
Mobil lu dimana?
Biar nginep aja di PS, gua capek nyetir
Begitulah tingkah hidupku saat masih tinggal dan bekerja di jakarta. Pusat kekuasaanku ada di sekitar PS. Aku dan ijem hanya mau bergerak dan mengetahui jakarta sekitar PS, Plaza Indonesia, PIM dan beberapa ruas jalan menteng.