tragedi negeri ini

ironi baru tentang negeri indonesia ini langsung muncul di kepala saya ketika membaca headline koran kompas hari ini :
’21 TEWAS SAAT PEMBAGIAN ZAKAT’…………….
SAYA BERTANYA tanya apa yang ada di benak si dermawan yang mengumpulkan orang sebanyak 7000 orang untuk menerima sedekahnya. tanpa bermaksud judge dia sebagai orang demonstratif dalam beribadah, saya tetap memandang pekerjaan yang riskan sekali mengumpulkan manusia sebanyak itu dengan iming2 uang 30.000 rupiah di negeri miskin ini. ditinjau dari ilmu ekonomi pun jelas bukan efisiensi membagikan sesuatu dengan cara seperti itu. dari psikologi? teganya menyuruh manusia lain berdesak-desakan untuk menghampiri dirinya, apalagi mayoritas diantara mereka adalah orang renta dan manusia yang kekurangan gizi setiap hari. sosial? banggakah anda melihat orang lain menghibakan dirinya didepan manusia manusia lain terhadap anda? politik? anda hanya bermain resiko dengan memobilisasi manusia yang dapat dengan mudah berbuat anarkis dan membuat suatu lokasi menjadi medan rusuh. Agama? saya rasa yang bersangkutan pasti tahu bahwa dalam agama yang diyakininya bahkan ada petunjuk yang mengatakan bahwa saat tangan kanan memberikan sesuatu pada orang lain, tangan kirinya lebih baik tidak mengetahui.Betapa berbuat baik itu seharusnya menjadi rahasia diri dan Tuhannya. saya jadi teringat ulasan tempo saat mengupas kelakuan Tung Desem sang motivator handal membagikan uang 100 juta rupiah dengan cara menyemburkannya dari atas pesawat helikopter yang dicarternya. uang 100 jt rupiah dipecah menjadi ribuan rupiah  dan puluhan ribu rupiah. massa sengaja di undang ke tengah lapangan untuk berlomba mendapatkan uang tersebut. tempo dengan sinis mengulasnya sebagai langkah hebat dengan cara merendahkan dan mamanfaatkan kepapaan orang miskin di negeri yang memang miskin.
menolong orang baik, bahkan manusia paling hebat adalah yang paling banyak jasa dan pemberiannya terhadap manusia banyak. tapi tunggu, Tuhan kita bukan anak TK yang bisa mengagumi sesuatu dari tampak lahir begitu saja. Tuhan kita maha pintar sehingga akan tahu apapun yang ada di benak kita saat kita melakukan sesuatu. Tuhan kita yang baik itu malah memberi kita akal supaya kita senantiasa menggunakannya pada saat bahkan menjalankan perintahnya. shalat di tengah kerumunan masa? silahkan anda mati terinjak dan Tuhan tahu sebenarnya ada lokasi pinggir kerumunan yang longgar dan aman untuk shalat. berdoa di rel kereta api? silahkan tapi anda berarti tidak menggunakan otak pemberianNya  karena ada lahan kosong untuk berdoa daripada mati sia sia saat kereta tiba tiba muncul. membagikan zakat dengan meminta mereka berkerumun didepan rumah anda padahal anda tahu jumlahnya ribuan? silahkan membaca nurani dan akal fikiran kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.